Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Arga Cerita Ke Roma


__ADS_3

Arga benar-benar bingung dengan sikap Laura. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan anak itu, tapi Arga tidak bisa menebak itu apa.


Hal ini terlalu membingungkan untuk Arga yang notabene baru mengenal cinta. Apalagi ia masih sangat awam memahami perasaan wanita. Arga tidak pernah bisa menebak apa yang terjadi dan apa yang Laura rasakan sampai wanita itu bersikap aneh kepadanya.


Apakah Laura begini karena ingin menghindarinya?


Dipikir-pikir terlalu aneh jika Laura sampai melakukan hal sedemikian rupa hanya untuk menghindarinya. Meskipun sudah menyatakan cinta, Arga tidak pernah seagresif Laura. Jadi seharusnya wanita itu tidak terganggu dengan perubahan rasa yang terjadi dalam diri Arga. Toh selama ini Arga tidak pernah memaksa, pikir lelaki itu.


"Rom, menurut lo Laura ke napa ya?"


Kini mereka berdua sedang berhenti di sebuah warung es kelapa. Rasa panas dan penat membuat mereka berhenti sejenak untuk menikmati es kelapa campur gula merah.


"Ya, kuliahlah! Emangnya tadi lo gak denger penjelasan neneknya si Laura?"


"Ya denger! Tapi gue ngerasa Laura bohong.? Dia gak bener-bener ke Jogja."


"Bohong gimana? Emangnya kalo gak ke Jogja ke mana?" Roma mendelik bingung.

__ADS_1


"Mungkin aja ada sesuatu yang disembunyiin dari gue."


"Emangnya dia nyembunyiin apa?"


Arga terdiam. Ia agak bingung. Apakah ia perlu menceritakan peristiwa yang terjadi pada dirinya dengan Laura atau tidak.


Tapi jika tidak cerita, Arga tidak akan mendapatkan solusi dari Roma.


"Gue pengin cerita, tapi gue harap lo bisa jaga rahasia!"


"Ya ceritalah!" Roma mengedik santai lalu kembali menyedot es kelapa miliknya.


"Uhuk?" Roma spontan terbatuk. "Lo yang bener!"


Roma membulatkan matanya semakin belo. Hal itu membuat pipi Arga sedikit bersemu. Pria itu kemudian menunduk sambil memainkan jari-jarinya ei bawah sana.


"Ya, bener! Ngapain gue boong."

__ADS_1


"Kapan? Apa itu karena? Astaga!" Roma berteriak. Ia teringat obat perangsang yang pernah diberikan kepada Laura.


Arga yang kesal langsung menonyor kepala anak itu. "Itu karena elo, Bego! Gara-gara minuman yang lo kasih, gue sama Laura jadi begitu."


"Ya ampun, Ga! Lo gak lagi bercanda, 'kan?"


Si Roma malah kaget. Ia tidak pernah menyangka efek obat perangsang akan sedasyat itu bahkan sampai merugikan Laura sebagai pihak wanita.


"Gak usah sok kaget lo! Lo yang naruh obat itu, pasti lo lebih paham!" kesal Arga.


"Serius gue enggak tau, Ga! Gue pikir obat perangsang cuma sebatas bikin punya lo jadi berdiri aja. Gue ngasih obat itu juga karena katanya Laura penasaran sama kenormalan elo!" tandas Roma. Ia jadi merasa bersalah.


Arga sendiri masih diam. Semoga saja menceritakan masalah pribadinya kepada Roma bukan suatu kesalahan.


"Ga, lo kenapa baru cerita? Tau kesalahan gue sampe sefatal itu, gue pasti bakal minta maaf sama kalian. Kalo perlu gue nyembah elu sama Laura," ucap Roma lagi.


"Gak usah lebay!" Arga kembali menonyor kepala Roma.

__ADS_1


"Dari semua yang gue ceritain itu. Sekarang gue cuma pengin lo ngasih pendapat. Menurut lo Laura menghindari gue karena apa? Apa karena gue udah ngambil keperawanan dia? Atau karena gue gak menarik lagi di matanya?"


Pertanyaan Arga membuat Roma menggaruk kepalanya bingung.


__ADS_2