
Menurut seorang Arga, ia mau mengikuti kemauan Laura bukan karena ia peduli padanya, tapi karena gadis itu sempat melindunginya saat dikeroyok tiga berandalan tadi. Anggap saja itu rasa terimakasih dari Arga untuk Laura.
Eh ... tunggu....
Dipikir-pikir, itu juga termasuk salah Laura juga, kan? Kalau saja ia tidak memakai seragam sekolah, tidak mungkin berandalan tadi mengerjai mereka. Iskk, lagi-lagi Laura yang jadi biang keladinya. Sudahlah, Arga tidak peduli, ia tidak mau tambah pusing memikirkan kejadian tadi. Lebih baik segera menyudahi kegiatan menguras tenaga ini. Antarkan Laura makan lalu segera ajak dia pulang.
Maka di sanalah mereka sekarang, di sebuah pasar malam yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian tadi. Keduanya sedang duduk berhadapan, dengan sepiring sosis bakar yang sedang dinikmati Laura. Hanya ia sendiri, Arga mana bernafsu makan jika ada anak itu.
"Ga, ini kita termasuk lagi kencan kan, ya?" tanya Laura kepadanya. Ada sosis yang sedang ia nikmati di mulutnya dengan lahap sekali.
"Mana ada kencan, gue cuma terpaksa nemenin lo, biar lo nggak pingsan di jalanan. Nanti gue juga yang repot," ujar Arga jengkel.
Cowok itu memperhatikan sudut bibir Laura yang belepotan karena saos. Hanya memperhatikan! Mana mungkin seorang Arga mau mengelap bibir Laura, yang ada jijik, iya.
"Tapi Arga peduli sama Laura. Itu aja udah cukup bikin aku senang. Biasanya Arga nggak pernah mau sepeduli ini sama aku kayak gini. Selalu aja menghindar terus," ujar anak itu sambil mencebik.
Tolong tambahkan satu poin lagi untuk hari ini.
Bagaimana caranya menghindar?
__ADS_1
Sedangkan hari ini mamahnya selalu menyambung-nyambungkan hidupnya dengan Laura. Seperti sekarang ini, harus mengantarkan Laura pulang ke rumah. Atau kalau tidak diantar, Laura wajib menginap di rumah Arga. Dan itu jelas bisa membuat Arga semakin gila.
Sebenarnya tadi siang juga mamahnya menyuruh Arga untuk mengajak Laura makan bersamanya, tapi ia tidak melakukannya. Namun, perihal mengantarkan Laura, itu wajib ia lakukan. Biasanya papah Arga yang mengantar Laura pulang, tapi karena suaminya sedang sibuk, mamah menyuruh Arga saja yang mengantar Laura pulang, toh hari ini Arga tidak tidak punya kerjaan apa-apa selain tidur sambil mainan gitar.
Laura ini sering sekali main ke rumah Arga. Hanya di sekolah, Arga mampu menghindar dari Laura, itu juga harus dengan perjuangan keras. Arga harus segera lari ketika melihat Laura dari jarak sepuluh meter. Mencari persembunyian ke mana saja agar tidak diganggu oleh Luara. Untuk sekarang, warung yang ada di belakang gerbang sekolah masih jadi tempat persembunyian paling aman bagi Laura saat jam istirahat, Laura tidak mungkin menjangkau sampai kesana. Ada gerbang tinggi yang harus ia lalu jika hendak menuju warung itu.
"Ga, beneran ngga mau, sosisnya? Ini enak loh, Ga."
"Makan lo aja, seenak apa pun juga ngga akan enak kalo liat muka, lo!"
"Ikhh, Arga, emang muka aku jelek banget, apa? Kata nenek, aku itu cantik, tau? Dibandingkan si Selly murid terkenal itu, aku lebih cantik, katanya."
"Emang gue peduli, hah?" Arga mendengkus serta memalingkan wajahnya.
"Jadi menurut Arga, aku jelek, ya?"
Arga kontan menoleh. "Muka lo emang gak jelek, tapi ada banyak partikel-partikel menyebalkan yang bikin gue males liat muka, lo,"
"Duh, Arga ... kamu lucu banget, sih! semoga partikel-partikel menyebalkan itu berubah jadi medan magnet yang narik kamu, jadi jatuh cinta sama aku ... hahaha." Gelak tawa Laura menggema di warung sosis itu. Di mana Arga hanya membalasnya dengan dengkusan kesal ke arah Laura
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Laura menghentikan tawanya. Anak itu terdiam kaku, wajahnya mendadak pucat seperti menahan sesuatu. Arga yang mulai menyadari keanehan dalam diri gadis itu mencoba memperhatikannya dengan seksama.
"Lo kenapa, lagi? Keselek sosis?" tanya Arga heran. Sejak tadi ia heboh sendiri, tiba-tiba diam mendadak, membuat Arga merasa aneh dan berpikir anak itu kesurupan jin pasar malam.
"Gaaa, dia keluar ...," lirih Laura takut-takut.
"Apanya yang keluar?" Arga menengok kiri kananya, ia pikir anak brandalan yang mengerjainya tadi datang lagi. Dicarinya sosok mereka, namun Arga tidak menemukan nya.
"Tamu bulanan aku Ga! Dia keluar," lirihnya pelan, namun masih dapat didengar oleh telinga Arga.
"Terus gapain ngomong ke gue?" Arga melengos, jengah.
Arga bahkan tidak tahu istilah yang dimaksud Laura adalah menstruasi wanita. Namun cowok itu gengsi jika harus bertanya. Yang terbesit di otak Arga tidak jelas. Antara tamu dirumah Laura atau teman Laura. Entahlah, Arga bingung.
"Aku nggak bawa pembalut," lirihnya cemas.
Hah?
"Apaan itu pembalut?" Arga melongok tidak paham. Demi apa pun, Arga baru pertama kali mendengar nama itu. Namanya tedengar aneh di telinga Arga
__ADS_1
Pem-apa tadi ...?
Bahkan Arga langsung lupa dengan Kata itu.