Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Menghina


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Semenjak Arga menyatakan cinta, ia dan Laura tidak pernah lagi berkomunikasi. Selain sibuk, Laura juga selalu menghindari Arga baik di jalan ataupun saat tak sengaja bertemu di area sekolah.


Menjelang ujian kelas tiga, hari Arga memberanikan diri menemui Laura ke kelasnya. Terkesan seperti pengemis, tapi ia sunggu ingin menemui Laura. Ia ingin meluruskan semua masalah yang ada.


"Ra!" Gadis itu terkejut saat Arga menghadangnya tepat di depan pintu kelas. Kebutulan hari ini kelas 12 tidak ada kegiatan tambahan, jadi bisa pulang cepat bersama kelas-kelas lain.


"Ada apa?" Laura buru-buru menjauh dari area kelas. Arga yang paham langsung mengikuti anak itu. Mereka berdua berjalan menuju gerbang belakang lalu keluar dari area sekolah bersama-sama.


"Gue mau bicara sana lo!"


"Bicara aja," balas Laura datar.


Gadis itu terus berjalan menuju halte. Membuat Arga geram dan menarik lengan Laura agar anak itu berhenti sejenak.


"Jangan di halte, di sana masih rame. Kita ke kafe aja," ucap Arga.

__ADS_1


"Gak mau!" Laura menggeleng tanpa sudi melihat wajah Arga sama sekali.


"Lo sebenernya kenapa sih? Kenapa semenjak gue nembak lo jadi kayak gini? Kalaupun lo gak mau jadi pacar gue, lo gak perlu menjauh juga, 'kan?" kesal Arga.


Laura menarik napas sejenak. Ia melipat tangan di depan dada lantas menatap Arga dengan air muka sinis.


"Aku gak menjauh, aku cuma lagi sibuk!"


"Cih! Ngeles aja lo bisanya. Kalo lo nggak ngejauh gak mungkin pesan dan telepon gue diabaikan berhari-hari!" tandas Arga. Ingin rasanya ia memberitahu Laura, kalau ia sengaja membeli ponsel hanya untuk menghubungi Laura.


Arga menggeleng. "Sibuk sama menjauh itu beda, Ra. Anak kecil aja bisa bedain yang mana sibuk yang mana menjauh. Sikap lo itu menjelaskan banget kalo lo benci sama gue!"


"Serah kamu deh! Kalau ujung-ujungnya ngajak berantem mendingan gak usang ngajak ngobrol gini!" Laura memalingkan wajahnya, pura-pura malas.


"Siapa yang ngajak kamu berantem. Gue ngajak lo ketemu cuma pengin tau, kenapa lo ngehindarin gue, dan apa salah gue sampe lo jadi benci banget gitu sama gue?"

__ADS_1


"Jadi kamu mau tau?" Tatapan Laura berubah tajam. Kini ia menatap Arga intens.


"Iya. Selama penjelasan lo logis, gue terima diperlakukan kayak gini," jawab Arga. Ada helaan napas kasar yang keluar dari lubang hidung Laura setelahnya.


"Aku ngejauh dari kamu karena aku udah sadar, ternyata kamu nggak seganteng yang aku pikirkan selama ini, Ga. Semenjak temen-temenku bilang kalo muka kamu gak banget, aku jadi malu deketin kamu. Lebih jelasnya aku baru engeh kalo kamu itu jelek, paham?"


Arga terdiam.


"Ada yang lebih masuk akal lagi gak alasannya?" tanyar Arga.


"Selain jelek, sikap kamu juga nggak kaya manusia normal. Kamu adalah cowok jelek tersombong yang pernah aku kenal. Sekarang bahkan aku ngerasa malu sendiri kalo keinget pernah ngejar-ngejar kamu sampe kayak orang kesurupan!" tegas Laura.


Hati Arga saat ini seperti ditusuk duri. Memang ia tak setampan Roma, tapi ia juga tidak terlalu jelek juga kalau dilihat-lihat.


"Penjelasan aku udah jelas belum Ga? Kalo kamu belum jelas aku bisa jabarin lagi," ucap Laura.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Arga langsung pergi meninggalkan Laura. Ia tak menyangka kalimat sekejam itu bisa keluar dari mulut Laura yang selama ini dikenalnya ramah.


__ADS_2