Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Bukan Mimpi?


__ADS_3

Ya Tuhan... Ini bukan mimpi kan?


"Cie... Arga khawatir sama Laura, yah?" Gadis itu tidak peduli lagi pada lukanya. Hati Laura mendadak berbunga-bunga. Pikiran Laura tertuju pada kelakuan Arga yang tiba-tiba datang sambil membawa obat.


"Eh tunggu! Jadi tadi Arga sengaja ninggalin Laura untuk beli obat ini 'kan?" celoteh anak itu lagi.


"Lo bawel banget sih?" Arga mendengus kesal. Dipikir-pikir untuk apa ia melakukan hal ini. Bukanya melihat gadis itu menderita membuat hati Arga senang?


Cewek merepotkan itu sudah terlalu banyak membanjiri kesialan di hidup Arga. Harusnya Arga tidak perlu berbuat baik pada gadis itu. Pasti ini karena rasa perikemanusiaan, tidak mungkin ada rasa lain, pikir Arga saat ini.


Gue ngapain si, ngelakuin kayak gini?


Batin Arga selalu bertanya-tanya sejak tadi. Tapi entah kenapa, motornya malah berhenti di depan apotik dan refleks membeli obat-obat sialan itu.


"Laura seneng banget tahu ngga, sih? Akhirnya Arga mau peduli sama Laura. Semua ini itu pantas aku rayain, gimana kalau kita mampir makan dulu ?" tanya Laura riang.


"Sorry! Gua ngga nafsu makan sama lo!" Tanpa mempedulikan wajah manyun Laura, Arga mulai membuka tutup botol alkohol cair. Cowok itu hendak mengobati luka pada kaki Laura karena sepertinya Laura tidak peduli sama sekali dengan luka pada kakinya.


"Eh ... eh ... Arga mau apa?" Laura segera menjauhkan kakinya dari benda yang dipegang Arga tersebut. "Aku takut," lirih anak itu sambil menarik kakinya. Melihat tingkah bocah Laura, Arga pun mendengkus sambil melotot.


"Lo itu, ya! Suruh obatin sendiri engga mau, giliran mau diobatin malah kaya gitu! Mau lo apa sih, hah?" Cowok itu mulai geretan. Menghadapi Laura memang harus selalu menguras tenaganya.

__ADS_1


"Aku serius takut Ga. Aku tau Arga berniat baik, tapi kalo mau digituin mending gak usah. Entar juga sembuh sendiri," lirihnya lemah. Titik keringat terlihat membanjiri sekitaran dahi karena Laura memang benar-benar takut.


"Udah, tahan aja dulu. Ngga sakit kok, rasanya cuma kaya digigit semut!" Arga mulai mengambil posisi jongkok. Kemudian ia menyiramkan cairan alkohol itu tepat di atas luka Laura. Arga tidak tahu caranya benar atau salah, yang jelas ia risih melihat luka di lutut itu.


Bagaimanapun juga luka itu berasal dari tabrakan motornya tadi.


"Awkk ..." Laura memekik kesakitan. Refleks tangannya meremas bahu Arga sekuat tenaga.


Cowok itu tidak peduli, ia terus membersihkan setiap inci darah yang menempel pada bagian lutut Laura. Perlahan tapi pasti, ia melakukanya dengan telaten, lembut dan penuh kehati-hatian.


Sungguh Laura tidak menyangka, cowok itu ada sisi lemah lembutnya juga.


"Aaa .. aaaw ...aaaw.... sakit, Ga. Udahan aja, aku gak mau dibersihin pake kapas gitu, sakit banget Ga!" Laura memekik lagi saat Arga mengoleskan betadine pada lukanya dengan gerakan cukup kasar. "Arga udah ya, aku ngga kuat, sakit banget Ga!"


"Ya, orang sakit! Kata Arga kayak digigit semut, ini lebih dari itu. Kamu bohong!" Laura mencebik, mata gadis itu merambang seperti hendak menangis. Lebih tepatnya ia menangis melihat bercak darah yang kini bercecer pada kapas bekas pakai itu.


Ck. Arga tertawa dalam hati. Tentu saja Arga bohong. Kalau ia bilang rasanya sakit, mana mungkin anak manja itu mau diobati. Dalam posisi diam menunduk Arga melipat bibirnya ke dalam. Dia tersenyum, dan itu hanya disadari oleh dirinya sendiri.


"Eh, ngapain gue seneng?" batin Arga dalam hati.


Setelah memberikan obat merah, cowok itu menutup luka Laura dengan kain kasa. Kemudian ia bangkit lalu duduk kembali.

__ADS_1


"Lo bawel banget tau ngga sih, lo bukan anak kecil lagi. Cuma dikasih betadine aja sampai mau nangis gitu! Arga mendengus kesal. Mimpi apa semalam sampai harus mendapat kesialan seperti ini? Lagi-lagi Laura si gadis aneh yang selalu menghiasi setiap kehidupan buruknya.


Arga mulai menutup luka Laura dengan kain kasa. Setelah selesai ia segera membereskan bekas obat-obatan yang berceceran sehabis dipakai tadi. Arga melihat ke arah Laura. Dilihatnya Laura sedang berpaling sembari senyum-senyum entah sedang memikirkan apa.


Yang jelas Arga bergetar jijik melihat pemandangan itu.


Cowok itu bangkit lalu menaiki motornya kembali. "Lo mau ikut apa masih betah di sini?" seru Arga sambil menyalakan motornya.


Astaga!


Tiba-tiba tersentak, Laura melamun sampai tak sadar diri. Sumpah ya ... Arga sedang kesurupan jin apa, sih? Kenapa dia mendadak baik seperti ini pada Laura.


Hal seperti ini baru pertama kali Laura rasakan selama ini. Laura tidak keberatan jika lututnya berdarah setiap hari, yang penting ia bisa merasakan gimana rasanya diperhatikan oleh Arga. Tsk.


"Woi, Cacing Pita! Buruan ege!" teriak Arga kesal. Gadis itu masih saja duduk terpaku dengan imajinasinya. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas Arga sudah tidak tahan menahan panasnya matahari di siang bolong.


"Iya Ga ... sabar." Laura bangkit dan berjalan ke arah motor Arga.


Mereka berdua melanjutkan perjalanannya kembali. Ada bunga-bunga yang bermekaran di hati Laura saat ini.


Akhirnya kamu punya hati nurani juga sama wanita, Gak, batin Laura.

__ADS_1


Lain halnya dengan Laura, Arga justru bersungut-sungut dalam hatinya. Kalau tidak terpaksa mungkin ia tidak akan melakukan hal sebaik ini pada Laura.


Mimpi Apa sih sampe gue harus boncengin orang kaya dia! mana genit banget, pula.


__ADS_2