
"Itu loh Ga, yang biasa dipakai cewek kalo lagi kedatangan tamu bulanan. Softex, laurier, atau charm." Laura menyebutkan nama-nama merek dari pembalut yang sering ia beli. "Masa Arga beneran ngga tahu?"tanya Laura heran.
Arga bukan anak kemarin sore yang baru lahir. Untuk cowok seusia Arga, harusnya ia sudah mengerti sedikit tentang masalah wanita, seperti haid yang tiba-tiba datang ini.
"Ngga tau, gue gak ngerti maksud, lo..." jawab Arga bingung. Ia menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
Arga bahkan jauh lebih polos dari anak SMP. Istilah datang datang bulan saja ia tidak tahu, apa lagi merk pembalut yang ia tidak pernah lihat seperti apa rupanya. Intinya Arga hanya tau menstruasi dan haid, itu pun ia dapat dari pelajaran sekolah.
"Ya udah, Arga tolong beliin itu buat Laura, tolong beliin di apotik."
"Ihggh, ogah banget! Gua ajak kagak tau pembalut gunanya buat apa ...," balas Arga malas. Entah benda apa yang Laura maksud, yang jelas ia tidak mau direpotkan terus seperti ini.
"Tolongin aku, ya ampun Ga! Aku butuh banget benda itu. Aku janji, kalo Arga mau nolongin aku kali ini, aku bakalan ngabulin permintaan Arga apa pun itu ...," janjinya serius. Gadis itu mengulurkan jari kelingking untuk saling bertaut sebagai pertanda membuat janji.
Lantas Arga menepis tangan Laura, janji-janji seperti anak kecil saja, pikirnya. "Emang apaan, sih ...?"
__ADS_1
Tentu saja Arga penasaran benda apa yang ingin Laura beli, apa lagi anak itu sampai ingin menjanjikan sesuatu pada Arga.
"Nanti aku tulis di kertas, Arga tinggal kasih ke mbak-mba penjaga nya," terang Laura.
"Ini anak beneran gak tau pembalut atau gimana si?" Laura tertawa jahat dalam hati.
Percayalah, Arga pasti mau menuruti permintaan Laura. Bukan karena ia peduli, tapi karena janji yang sudah diucapkan oleh Laura. Mengabulkan apa pun permintaan Arga, tentu saja ia akan meminta Laura berhenti mengganggunya. Anggap ini adalah yang terakhir kali Arga menolong Laura.
"Bye, Cacing Pita!" ujar Arga dalam hati.
"Ya udah buruan, terus lo ngga ikut ...?
Cewek itu mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Lalu menulis merek pembalut dan obat yang ia butuhkan.
"Nih ... jangan lupa obatnya yah!" Laura tersenyum kikuk saat memberikan kertasnya.
__ADS_1
Arga menyambar kertas itu dengan wajah masam. Tentu saja muka itu sudah sangat bete oleh kerepotan yang Laura hadirkan.
"Iya udah ... gue jalan dulu." Arga nyelonong pergi dari hadapan Laura
"Uangnya, Ga ...!" seru Laura.
"Pakai uang gue aja dulu," balas Arga yang sudah pergi sekitar sepuluh langkah menjauh dari Laura.
Laura tersenyum geli menahan tawa. Entah Arga yang tidak tahu atau bagaimana, yang jelas Arga pasti akan merasa malu ketika membeli benda itu nanti.
Laura tidak akan pernah lupa dengan pengorbanan Arga yang satu ini. Ia akan selalu mengingat kejadian ini, bahkan harus diceritakan pada anak cucunya nanti.
"Dasar Arga bodoh! Pembalut aja masa gak ngerti?" Anak itu masih bisa cekikikan di tengah sakit perut yang melanda jiwa.
Mungkin malam ini Laura tidak dapat tidur memikirkan kejadian ini. Gadis itu tidak sabar melihat ekspresi Arga ketika balik nanti. Pasti cowok itu akan marah sekali. Bodo amat! Laura tidak pernah takut melihat Arga marah, bahkan ia merasa senang saat cowok itu kesal kepadanya. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika melihat Arga marah dengan wajah yang ditekuk lecek.
__ADS_1
Laura suka itu, Arga terlihat lucu.
***