
Nenek Laura keluar. "Nak Arga ya?" Wanita tua itu tersenyum. Di antara sekian banyak teman laki-laki Laura, hanya Arga seorang yang memang diperbolehkan datang ke rumah Laura. Mungkin karena sebelumnya nenek sudah tahu bahwa Arga akan dijodohkan dengan sang cucu ketika sudah besar nanti.
Sayang Arga nyaris tak pernah mendatangi rumah Laura kalau tidak kepepet begini.
"Iya, Nek! Laura, nya ada?" tanya Arga langsung ke inti. Ia sedikit melirik ke ruang tamu, tapi tak mendapati kehadiran Laura sama sekali.
"Langsung masuk aja ke kamar."
"Hah?" Arga melongo kaget.
"Maksudnya langsung masuk ke kamar saja. Sudah dua hari ini Laura sakit, maunya tidur dan tidak mau ke kamar Nak Arga!"
"Oh, kalau begitu saya ke kamar ya, Nek!" Arga mengangguk paham. Ia menyodorkan sekeranjang apel kepada nenek Laura.
"Ini apel untuk Laura. Tadi Arga beli ini karena biasanya dia suka buah apel."
"Suka?" Mendengar itu, nenek Laura mengernyit heran. "Sejak kapan Laura suka buah apel? Dia itu paling benci apel, bahkan sudah sejak kecil Laura tak mau makan buah yang satu itu."
"Ah, masa si, Nek?" Arga menggaruk kepala belakangnya bingung. Pasalnya kemarin ia melihat sendiri saat Laura makan buah apel dengan rakusnya.
"Dia itu sukanya buah jambu biji merah!"
"Ah, kalau begitu berarti Arga yang lupa Nek! Kirain apel, ternyata yang Laura suka jambu toh!" Anak lelaki itu makin canggung saja.
"Ya sudah tidak masalah. Sini biar buahnya buat nenek saja. Nenek suka apel kok!" Wanita tua itu menerima buah tersebut. Arga pun gagas ke kamar Laura setelah keranjang buah di tangannya beralih tangan.
Sesampainya di kamar, ia melihat Laura yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya. Arga membenarkan selimut gadis itu. Ia duduk di bibir ranjang, matanya mengindahi seisi kamar Laura, lalu tertuju pada sebuah jam kayu bertuliskan Laura love Arga.
Dalam diam pria itu tersenyum. Entah kenapa kali ini Arga tidak marah sama sekali.
Ia kemudian melihat ke arah Laura lagi. Gadis itu tiba-tiba tersenyum dalam tidur seolah tengah memimpikan sesuatu.
"Kira-kira ini anak mimpi apa?" Arga bertanya-tanya dalam hati. Dalam ia ikut tersenyum juga.
Di dalam mimpinya.
Ternyata Laura sedang memimpikan pernikahan yang indah. Jika kemarin sempat mimpi punya robot manusia mirip Arga, kali ini Laura mimpi menjadi permaisuri di sebuah kerjaan mewah. Hari-hari ia lalui begitu saja, Laura merawat sang suami setiap saat. Menyuapi makan, memandikannya, memakaikan baju, dan masih banyak hal lain yang ia lakukan untuk pria itu. Tentunya dengan ikhlas dan penuh cinta.
__ADS_1
Siapakah pria yang Laura rawat? Tentunya sudah tidak perlu ditanya lagi. Arga selalu menjadi tokoh utama pria setiap kali Laura memimpikan hal-hal yang manis.
"Mau makan buah?" Laura mengelap muka Arga dengan tisu basah. Wajah pria itu kepanasan karena Laura mengajaknya berjemur cukup lama.
"Tidak, aku sudah kenyang." Arga tersenyum hangat seraya mengelus pucuk rambut kepala Laura.
Mereka berdua sedang duduk di taman. Berbanding terbalik dari dunia nyata, dii mimpi ini Arga yang sedang sakit. Entah sakit apa yang jelas posisi Laura di mimpi sedang menjadi putri, dan Arga adalah seorang pangeran.
"Kau masih mencintaiku? Apakah perasaanmu masih sama?" Pertanyaan Arga di mimipi adalah pertanyaan yang Laura harapkan di dunia nyata.
Mulai lagi, entah berapa kali Arga menanyakan hal itu pada Laura. Sudah tak terhitung jumlahnya.
"Maaf. Aku hanya takut kehilanganmu, Putri Laura yang cantik. Setelah melihat aku yang penyakitan, biasanya para wanita akan menghindar dan menganggap aku tidak normal. Maka dari itu raja dan ratu kami selalu merahasiakan penyakitku demi agar aku bisa menjalani hubungan baik denganmu," tutur Arga menjelaskan.
Mengulas senyum, Laura menggenggam tangan Arga penuh cinta. "Jangan khawatir, aku sudah berjanji pada diri sendiri. Agar tidak meninggalkanmu apa pun yang terjadi," ucap gadis itu dengan yakin.
Arga kembali tersenyum menatap Laura. Lalu merengkuh tubuh itu erat sekali.
"Terima kasih, Sayang. Aku tidak pernah salah dalam memilih istri," ujar Arga bangga.
***
Angin berdesir pada malam itu, menggoyangkan pohon dan jatuhnya dedaunan kering di luar sana. Laura bersembunyi di balik selimut, menunggu Laura yang sedang melakukan terapi kesehatannya di ruangan lain.
Rasa bosan menyeruak dada. Laura lantas mencoret-coret kertas kosong di atas nakas. Ia menuliskan kisah cinta indah antar dirinya dan Arga untuk dibaca diri sendiri.
'Aku mencintaimu, Arga!" Kalau untuk adegan ini mirip seperti di dunia nyata.
Batin hati Laura menguar bangga. Tak ada nama pria lain di dalam sana kecuali Arga seorang. Segala hal yang mereka lalui, semakin memperkokoh rasa cinta semakin kuat.
"Belum tidur?"
Laura menoleh bersamaan dengan pintu yang baru saja dibuka oleh Arga.
"Belum, aku masih menunggumu," jawab Laura malu-malu.
Arga mendekat, lalu merambat ke atas ranjang dan ikut duduk di samping Laura. Persis seperti apa yang pria itu lakukan di dunia nyata saat ini.
__ADS_1
Di dunia nyata Arga mengusap lembut perut Laura, dan di dunia mimpi juga melakukan hal yang sama.
"Besok kita sudah bisa menjenguk si kecil. Apa kau senang?"
"Benarkah?"
"Iya. Dia sudah sehat dan montok seperti kamu. Perawat bilang dia sudah siap bertemu dengan ibu kandungnya," jawab Arga bangga. Di mimpi ini Arga dan Laura punya anak.
Seulas senyum terlihat merekah dari bibir merah Arga. Ia mengelus rambut Laura. Lalu menarik tubuh itu lebih jauh ke dalam pelukannya.
"Eh, kenapa dia senyum-senyum gini?" Arga yang juga mengusap rambut laura di dunia nyata segera menariknya.
"Aku deg-degan. Apa dia akan menyukaiku ya?" tanya Laura penasaran. Di mimpi ini anak Laura memang diasuh oleh seorang pengasuh sejak kecil.
Satu kecupan Arga mendatar di puncak kepala. Laura tersipu malu mendapat perlakukan semanis itu dari Arga.
Kalau untuk kecupan itu murni di mimpi. Di dunia nyata Arga sedang keheranan lihat mulut Laura yang tiba-tiba monyong.
"Tentu saja dia akan menyukaimu! Apalagi kau adalah ibu terbaiknya sepanjang masa." Arga tersenyum lagi.
"Kalau begitu kita tidur. Aku sudah tidak sabar menanti hari esok." Bantal sudah dipegang, Laura bersiap menjatuhkan kepala dan memejamkan mata lelah itu.
Namun, Arga melarang gadis itu memejamkan mata.
"Tunggu dulu, ada yang masih belum bisa tidur," ucapnya dengan nada protes.
Bola mata Laura mengerjap, lalu sedetik kemudian Arga meraih tangan Laura, meletakkannya pada benda mengeras yang mungkin sudah meronta-ronta tidak jelas.
"Kamu," gertak Laura melengos malu.
"Dia juga butuh ditidurkan Sayang," ucapnya tak mau tahu. Arga sudah memainkan pita piyama milih Laura, bersiap membukanya dalam sekali hentak.
"Apa kamu sudah bisa melakukannya? Sudah sehat," telisik Laura agak takut. Kan tidak lucu kalau Arga menggeram kesakitan saat mereka sedang bergulat bersama. Yang ada bukan romantis di malam berbintang, malahan mereka bisa malu jika orang lain tahu.
"Aku sudah sehat. Yakin seratus persen."
Seperti lelaki sehat pada umumnya, dengan percaya dirinya Arga membantah semua kegalauan Laura. Sebagai lelaki normal yang sudah lama tidak merasakannya, Laura paham jika Arga menginginkannya. Apalagi Arga berkata bahwa ia memiliki kebutuhan biologis yang tingginya di atas rata-rata. Ah, Laura jadi malu jika memikirkan itu.
__ADS_1
Eh, jangan lupa kalau ini masih tentang mimpi gila Laura.