
Setibanya di rumah, Laura menangis sejadinya. Ingatannya tertuju pada senyum manis Arga saat berharap hubungan mereka bisa naik ke jenjang berikutnya.
"Kenapa semua jadi kayak gini? Apa lebih baik aku ngaku aja, kalo sekarang aku lagi hamil anak Arga?" Laura bermonolog dengan diri sendiri. Ia meringkuk di bawah selimut sambil menutupi wajahnya dengan guling.
Sengaja Laura melakukan itu agar suaranya tak di dengar oleh nenek.
Laura pun membuka ponsel. Ia makin menangis saat membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Arga.
[Maafin aku soal tadi. Maaf kalo aku terlalu maksa kamu buat menjalani hubungan yang kamu sendiri belum siap. Anggap aja semua ini nggak pernah terjadi.]
[Ra, kenapa gak dibales?]
[Aku telpon, ya]
Laura tak membalas satu pun pesan Arga. Tak lama kemudian ponsel Laura berdering. Total ada tiga panggilan dari Arga yang gadis itu abaikan.
[Ya udah kalo kamu udah tidur. Sekali lagi maafin aku, Ra. Aku harap hubungan kita bisa kembali seperti biasa. Aku nggak masalah kalo emang kamu engga mau jadi pacar aku sekarang. Aku bakalan tunggu sampai kapan pun kamu siap.]
*
*
*
Rasa cinta yang sudah terlanjur menguar, membuat Arga tak bisa menghentikan semua itu. Hari ini Arga kembali membawa mobil ke sekolah. Ia sengaja membawa mobil karena hendak menjemput Laura.
Ada harapan besar di benak Arga bahwa Laura akan kembali seperti semula setelah kejadian semalam. Namun nyata, Laura malah acuh tak acuh terhadap lelaki itu.
"Turunin aku di sini," ucap Laura ketus. Ia terpaksa naik ke mobil Arga lantaran tak ingin neneknya curiga. Neneknya sudah tau bahwa Laura sedang dekat dengan Arga, jadi gadis itu sengaja masuk ke mobil saat lelaki itu datang pagi-pagu sekali untuk menjemputnya.
"Mau ngapain turun di sini? Sekolah kita masih jauh," ujar Arga.
"Aku mau naik angkot aja, Ga. Aku malu berangkat sekolah pake mobil," kilahnya beralasan.
"Kenapa harus malu? Siswa lain juga banyak yang pake mobil," ujar Arga. Lelaki itu masih belum sadar bahwa sekarang Laura sudah berubah.
Mulai hari ini Laura memutuskan untuk berhenti mendekati Arga. Waktunya sudah sangat mepet. Sebentar lagi ia akan pergi meninggalkan Arga selamanya, jadi mengenang momen kebersamaan bukan lagi menjadi waktu yang tepat.
Sekarang adalah saatnya Laura membuat Arga benci mati kepadanya.
"Pokonya aku mau turun Ga. Kamu budeg ya?"
"Kok ngomongnya kasar banget? Gak biasanya kayak gitu!" Arga mengernyit heran. Memang tak biasanya gadis itu berkata begitu.
"kan Arga yang ngajarin! Udahlah, pokonya aku mau pulang sekarang juga," ucap Laura, makin jutek nada bicaranya.
"Ra, lo ada apa sih? Semalem kan gue udah bilang kalo gue mau hubungan kita kayak biasa lagi. Anggep kalo kita gak pernah ngapa-ngapain, anggep gak ada sesuatu yang terjadi di antara kita," tegas anak itu.
__ADS_1
Laura mendengkus. "Terlambat Ga, sekarang aku udah terlanjur males sama kamu. Kamu udah engga kayak Arga yang aku kenal dulu. Kamu berubah, kamu gak menarik lagi di mata aku, dan aku udah gak cinta lagi sama kamu," kilahnya.
"Gak usah kayak anak kecil gitulah. Dari dulu gue enggak pernah berubah. Lo nya aja yang ga jelas!"
Sepanjang perjalanan ke sekolah. Mereka berdua terus berdebat. Watak keduanya seakan dibalik oleh Yang Maha Kuasa. Laura menjadi ketus, sementara Arga tampak lebih aktif berkali-kali lipat.
*
*
*
"Lo ngapa?" Roma mengernyit heran saat pagi-pagi begini Arga malah mengajaknya nongkrong di pinggiran kantin.
"Menurut lo cinta itu bisa berubah gak sih?"
"Hah, pertanyaan lo gak salah? Lo gak lagi demam, kan?" Roma memegang dahi Arga. Lelaki itu tampak heran dengan bicara Arga barusan.
"Ya enggaklah, gue nanya serius tolol!"
"Hmmmm. Gimana, ya?" Roma menimbang-nimbang kembali ucapan Arga barusan.
"Kalo menurut gue si bisa. Ya ... namanya juga perasaan. Contohnya cinta bisa berubah jadi benci, dan benci bisa berubah jadi cinta."
"Dalam waktu berapa lama?" tanya Arga lagi. Pasalnya semalam Arga masih dapat merasakan cinta Laura kepadanya sangat besar. Tapi entah kenapa, Laura langsung berubah saat Arga menjelaskan sekali lagi hubungannya.
Di titik ini Arga merasa aneh dan heran terhadap sikap wanita.
"Berapa lamanya gue gak tau si. Tapi biasanya kan cewek mulai nunjukkin gerak geriknya semisal gak tertarik lagi ama kita."
"Jadi gak langsung tiba-tiba kan? Semisal sekarang cinta, terus sejam kemudian jadi kagak!"
"Ya enggak lah!" Roma tertawa mendengar kepolosan Arga.
"Gak usah ketawa bego! Gue nanya serius!" kesal lelaki itu.
"Iya. Gue juga jawabnya serius Argantara Mega! Gak mungkin ada cinta yang berubah dalam secepat itu. Bahkan pasangan yang liat pasangannya selingkuh pun gak bakalan bisa langsung berhenti mencinta. Pasti ada jeda. Pasti ada proses," ucap lelaki itu.
Arga manggut-manggut. Apa yang Roma katakan cukup masuk akal mesti Arga tak begitu memahami soal percintaan.
"Emangnya lo lagi bahasin siapa? Laura? Kalo cewek itu mah lo tenang aja. Gue yakin banget kalo dia udah terlanjur cinta mati ama lo. Gak akan berpaling, dan gak akan berhenti mencinta sampai mati," ucap Roma. Ada tawa menggema ke udara setelah ia bicara.
"Bullshit lo!" geram Arga kesal.
Andai Roma tahu bahwa ia baru saja ditolak oleh Laura, pasti lelaki itu akan pingsan. Roma adalah salah satu saksi perjuangan cinta Laura kepada Arga. Jadi Roma tahu persis bagaimana gadis itu tergila-gila kepada Arga.
****
__ADS_1
Di sisi lain. Galau tengah melanda kehidupan Laura. Gadis itu terus saja melamun sepanjang pelajaran berlangsung.
Rena yang sejak tadi memperhatikannya bahkan sampai dibuat bingung. Tak biasanya gadis berwajah cerita itu memasang wajah murung.
"Lo kenapa, diabaikan Arga lagi?"
"Engga!" Laura menggeleng. Andai Rena tahu bahwa mulai hari ini Laura akan mengabaikan Arga selamanya, mungkin gadis itu tidak akan percaya. Maka dari itu Laura memutuskan untuk diam saja.
"Terus kenapa? Satu-satunya sumber kegalauan lo yang gue tau cuma Arga. Pasti lo abis dia apa-apain ama dia ya? Lo dimaki-maki lagi?" tanya Rena penuh nada mengintimidasi.
"Engga, Ren …."
"Ngaku aja!"
"Ya orang udah dibilang engga! Masa gak percaya sama gue!" Gadis itu mendengkus. Memang wajah sedihnya tak bisa ditutupi lagi. Semua orang bahkan bisa menebak kalau Laura sedang galau berat hari ini.
"Gue cuma lagi gak enak badan. Pengin tidur," ucapnya kemudian.
Rena tak bisa percaya begitu saja. Alasan Laura terlalu klasik dan mustahil menurut gadis itu.
"Gak usah bohong. Mata lo gak bisa bohong, gue yakin seratus persen kalo lo begini pasti gara-gara Arga!"
"Bukan Rena!" bantah Laura dengan suara lemah. Tapi Rena masih bisa percaya begitu saja.
"Kalo lo gak mau ngaku! Gue bakalan samperin Arga. Gue obrak abrik kelasnya sekalian bila peru!
"Rennnn!"
Mata Laura malah melotot.
"Lo gak percaya gua bisa lakuin itu sekarang? Oke!" Rena langsung berdiri mengambil tasnya, membuat Laura panik dan menarik gadis itu agar duduk ke kursinya kembali.
"Iya … iya …. Aku mau cerita! Tapi enggak usah kayak gitu," ucap Laura.
Rena tersenyum dalam diam.
"Kalo gak kayak gini lo gak bakalan nurut sama gue Ra! Ini adalah trik," ucap gadis itu.
"Ya udah cerita!" bentak Rena sembari menaik turunkan alisnya.
"Hmmm." Laura berdeham malas. "Hari ini aku mutusin buat berhenti gangguin Arga."
"What!"
Rena berteriak heboh. "Gue gak salah denger, 'kan? Gimana ceritanya?" Gadis itu mendelik. Kepalanya menggeleng nyaris tak percaya.
"Ya, gue capek aja. Gue mau fokus ke ujian," ucap Laura
__ADS_1
"YA TUHAN!" Rena menengadahkan tangannya ke atas. "Akhirnya Engkau memberikan keajaiban untuk sahabatku yang aneh ini."
Tampak sekali wajah bahagia Rena menghiasi. Gadis itu memang tak pernah menyukai Arga, wajar bila Rena bersikap aneh seperti itu.