Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Minta Tolong


__ADS_3

"Aus?"


"Ya aus lah! Liat muka lo, gue langsung aus dan kepanasan! Bawaannya pengin bunuh orang," tandas pemuda itu dengan amat sarkasme. Tak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, Arga memutuskan cari aman dengan duduk di pojokan yang letaknya agak jauh dari tempat berdiri Laura kini.


Beberapa saat keduanya terdiam. Arga berusaha mencari cela untuk keluar, tapi sayangnya tak ada jendela atau apa pun di tempat itu. Semua dindingnya terbuat dari tembok yang jelas tak akan runtuh bila ditonjok.


Arga lantas memandang ke arah atas, yang sialnya lagi tak ada akses untuk memanjat plafon. Seratus persen mereka akan terkurung di tempat ini sampai ada orang yang membukakan pintu untuk mereka.


"Oh ya, gimana kalo Arga telepon Roma suruh bukan pintu? Bilang aja aku nangis terus biar dia kasian. Pinter 'kan aku?" Laura bicara lagi setelah sekian lama terdiam.


Sayangnya ide berlian yang diusulkan gadis itu tak membantu sama sekali karena Arga tidak memiliki ponsel.


"Emangnya gue punya hape?" pungkas pria itu.


"Ya ampun! Aku lupa." Gadis itu terkekeh geli. "Lagian Arga kenapa si gak pernah mau megang hape? Kan kalo teman-teman Arga mau hubungin jadi susah. Masa harus telepon ke nomor rumah. Mahal tau!"


"Emang gue peduli? Siapa suruh mereka telepon!" Arga mengedikan bahunya malas. Selain malas memiliki telepon genggam, Arga juga takut hidupnya akan lebih terancam jika memiliki telepon genggam.


Perempuan yang ada di depannya saat ini pasti tak akan membiarkan Arga istirahat jika ia memiliki ponsel. Mungkin saja ponselnya akan lobet sendiri karena terus ditelepon oleh Laura.


Maka dari itu lebih baik pakai telepon rumah saja. Selain tidak ribet, Laura juga tidak akan menghubungi Arga karena takut orang tua Arga merasa terganggu.

__ADS_1


"Lagian lo juga, lo kan punya hape? Kenapa ga lo aja yang telpon si Roma!"


Laura kontan menyeringai. Ia memamerkan deretan gigi putih bersihnya.


"Kalo aku bawa hape pasti aku udah telepon dari tadi, Ga!"


"Jeeeh!" Arga memalingkan wajahnya, malas.


***


Satu jam kemudian.


Masih di tempat yang sama, dan dengan suasana yang sama pula. Hari mulai menggelap di luar sana. Udara di sekeliling ruangan itu pun juga mulai terasa dingin.


"Ah, ketemu!" Laura kegirangan sendiri. Tapi saat ia menoleh ke pojok ruangan tempat Arga duduk tadi, ia langsung dibuat syok setengah mati.


"Arga? Kamu kenapa, Ga?" Anak itu berteriak saat melihat Arga sudah tergeletak di lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Wajah pria itu sangat pucat. Keringat sebiji jagung keluar dari tubuhnya bahkan sampai membuat bajunya seperti basah kuyup diguyur hujan.


"Arga! Arga kenapa?" Laura jelas panik luar biasa. Ia berteriak minta tolong, namun tak ada yang mendengar teriakannya. Ruang ganti tersebut tak memiliki jendela atau cela, tentu saja hal itu membuat ruangan tersebut menjadi kedap suara dari arah luar.

__ADS_1


Laura memberanikan diri untuk memeluk tubuh Arga. Namun, perbuatannya itu malah membuat Arga semakin panas dingin tak karuan. Pria itu hilang kendali dan langsung membalik tubuh Laura menjadi di atasnya.


"Arga, kamu mau ngapain?"


Tidak menjawab, yang Arga lakukan berikutnya adalah mencium kasar bibir Laura. Gadis itu jelas tersentak lantaran ciuman Arga terasa sangat kasar dan tidak sopan.


"Emmmm ... emmmm!" Laura berusaha meronta. Ia lantas mendorong tubuh Arga sampai pria itu terbalik membentur tembok. "Ga ... kamu kenapa jadi begini?"


"Gue gak tau, sepertinya ada yang aneh dengan minuman yang lo kasih! Lo dapet dari mana?" Kini Arga berusaha untuk mengambil posisi duduk. Entah kenapa birahinya semakin meninggi kala melihat Laura yang tengah menatapnya dengan raut wajah cemas.


"Tadi aku dikasih sama Rima! Memangnya apa yang kamu rasain setelah minum air mineral tadi?"


"Gak, tau! Gue ngerasa pusing dan gak karuan banget setelah minum air mineral dari lo tadi." Arga menggelengkan kepalanya keras-keras. Sebisa mungkin ia mencoba untuk menetralkan diri. Terutama dalam hal mengatur birahinya agar jangan melakukan hal sembarangan di tempat itu.


"Ya ampun! Ko jadi gini, sih. Emangnya itu minuman ada apanya? Narkoba, ya?" Laura yang polos jelas tidak tahu bahwa minuman itu adalah air mineral yang sebelumnya sudah diberi obat perangsang oleh Roma.


Gadis itu pun menyentuh dahi Arga lagi. Arga seperti tersengat aliran listrik dua ribu mega volt begitu tubuhnya di sentuh oleh Laura. Ia langsung mencium bibir Laura kembali, tapi kali ini tidak terlalu kasar walau di mata Laura terasa tidak sopan.


"Tolong gue, Ra! Gue bener-bener udah gak kuat."


"Tolong apaan? Kamu mau ngapain, Ga?" Laura jelas gemetar takut saat Arga membaringkan tubuhnya perlahan. Laura hendak mendorong Arga lagi, tapi perkataan Arga berikutnya sukses membuat gadis itu bimbang.

__ADS_1


"Gue mau lo! Gue bisa mati kalo lo gak kasih apa yang gue mau!"


"Tapi, Ga!" Ucapan Laura terhenti begitu saja saat Arga menyentuh dada Laura dengan satu tangannya. Sepolos-polosnya Laura, ia jelas paham apa yang diminta Arga sat ini.


__ADS_2