
"Konspirasi apaan? Ngarang aja kamu!"
Laura melotot garang. Sementara Roma menyeringai bodoh. "Hehe, ya udah kalo gitu. Masalah pekerjaan gak usah dipikirin. Nanti aku ngomong ke Arga supaya jangan pecat kamu."
"Emang kamu bisa?"
"Ya bisalah. Begini-begini juga aku sekretarisnya tau. Tapi----"
"Tapi apa?" Perasaan Laura mendadak tidak enak. Apalagi saat melihat Roma menyeringai jahat. Pasti dia sedang memikirkan rencana jahat.
"Tapi kamu akan mendapat hukuman?"
"Hukuman lagi? Aku bisa ada di sini aja karena hukuman," protes Laura kesal.
"Udah santai aja, nanti biar aku yang ngatur. Hukuman kali ini enak kok. Kamu tinggal duduk dan ungkang-ungkang kaki," kata Roma. Lelaki itu kemudian masuk ke ruang yang lebih dalam untuk menemui Arga.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Roma terlihat begitu sumringah saat kembali dari ruangan itu.
"Kenapa?" Laura menatap heran.
"Gak papa. Kamu tunggu di sini. Sebentar lagi ada orang yang bakalan dandanin kamu."
"Dandanin buat apaan? Gak usah macem-macem ya, Roma!" Laura menatap tidak paham.
"Udah Dibawa santai aja, Ra. Temenin Arga ikut pertemuan di Singapur, sekalian nostalgia masa lalu. Ok!"
__ADS_1
"Jangan gila kamu!" Laura mendadak panik.Selain ia tidak mau, Laura juga tidak mungkin meninggalkan Gama seorang diri di kontrakan. Anak itu pasti akan menangis.
"Kata Arga ini hukuman, jadi kamu gak bisa nolak, Ra."
"Tapi Roma, aku ...."
Perempuan itu menelan ludah. Tidak mungkin, 'kan, dia memberitahu Roma kalau dirinya sudah punya anak?
Yang ada malah gawat nantinya. Akhirnya Laura terpaksa mengiyakan desakkan Roma supaya mereka tidak curiga.
Sekarang pikirannya mulai menderus pada rasa takut. Takut bila mana Arga tahu kalau dia punya anak, lalu merebut paksa Gama dari tangan Laura.
Bagaimana bila itu terjadi?
Jelas Laura tak akan bisa hidup.
Satu jam kemudian, Roma masuk ke ruang privasi Arga. Tampak lelaki itu sedang leha-leha di tempat peristirahatannya. Karena hari ini adalah hari penyambutan, jadi Arga tidak memiliki jadwal pekerjaan di kantor tersebut.
"Ga! Princess Laura udah selesai dandan, kalian berdua tinggal berangkat," kata Roma.
"Hmmmm." Arga berdeham malas lalu bangun dari posisinya.
"Ngapa harus dia si orangnya?" sungut Arga. Ia mengambil jas yang tersemampai lalu memakainya. Rasanya pasti akan sangat canggung mengingat hubungan terakhir mereka dulu kurang baik. Sayang Roma tidak tahu akan hal itu.
"Udah kamu tenang aja. Bukan Roma kalau gak sukses."
__ADS_1
"Sukses apanya?" kesal laki-laki itu lagi. Dia akhirnya keluar.
Arga sedikit tertegun saat melihat penampilan Laura yang jauh dari biasanya.
"Ehem!" Dia berdeham untuk meredakan kecanggungan. "Ini adalah hukuman pertama kamu. Untuk yang kedua nanti tunggu saja," ujar Arga.
Laura hanya menunduk diam tanpa menjawab.
"Oh ya. Meski kamu pernah kenal saya, kamu tetap harus berbicara sopan dan formal. Tak terkecuali kepada Roma."
"Baik, Pak!" Laura menundukkan kepala. "Ngomong-ngomong motor saya yang ditabrak mobil Bapak bagaimana? Apakah sudah diperbaiki?"
"Berikan saja alamat kamu. Nanti biar orang suruhan saya yang mengantar."
"Eh?" Mendengar itu Laura mendadak panik. "Jangan ke rumah, Pak! Tolong antarkan ke kantor saja."
"Hmmm. Ya sudah."
"Fiuhhh .... " Laura mengembuskan napas lega karena Arga tidak bertanya lebih lanjut. Bisa kacau kalau Arga sampai tahu rumahnya.
"Pak, saya mau permisi ambil tas saya, boleh?"
"Pergilah ...."
"Laura buru-buru keluar dari ruangan Arga. Dia berbohong dan tidak pergi mengambil tas, tapi ke toilet untuk menghubungi Rena. Dia menitipkan Gama pada perempuan itu untuk sementara waktu.
__ADS_1