
Brakkkk.......!
Gebrakan meja yang di hentak secara kasar membuat Laura seketika sadar dari lamunannya. Selama mengikuti jam pelajaran terakhir, gadis itu terus melamun sepanjang jam pelajaran berlangsung. Hal itu membuat Rena geram dan tak tahan ingin menjitak jidat Laura.
"Apa sih, Ren? Ngagetin gue aja bisanya!" Gadis itu menarik tasnya dari loker. Merapikan semua bukunya dari atas meja, lalu memasukkannya satu persatu ke dalam tasnya.
"Lo gila ya, Raa ...?" Rena menjambak rambut sahabatnya kesal. "Lo kecintaan sama tuh cowok, sampe kaya orang gila tau nggak, sih? Asal lo tau, berita lo sama Arga jadi trending topik di sekolah kita!" terang Rena mencak-mencak. Setengah mati menasehati sahabatnya ini, tapi Laura masih saja nekat menembak Arga di depan umum.
"Ikhhh Rena... Sakit, tau!" Laura malah mencebik manja. Menaruh kepalanya di atas meja. "Gue juga ngga tau kenapa bisa gini.... Gue nggak tahan. Semua itu keluar begitu ajah dari bibir gue!"
Gadis polos itu berbicara apa adanya. Sebenarnya ia juga malu dengan kejadian tadi. Namun, sangat sulit mengendalikan perasaanya, apa lagi jika sudah melihat Arga. Hatinya pasti refleks menggila dengan sendirinya.
"Ya ampun, Laura. Lo itu harus sadar! Arga itu ngga akan pernah cinta sama lo! Bahkan dia ngga pernah anggap lo ada di dunianya dia. " Rena menarik bangku di sebelah Laura. Gadis itu duduk di sebelah sahabatnya.
__ADS_1
"Satu lagi, tampang Arga juga ngga terlalu tampan banget! Kalau dia setampan pangeran atau boy band Korea, mungkin gue nggak masalah lo kecintaan sampai ngejar-ngejar dia kayak gini! Tapi mukanya biasa aja Ra, ngga ada keren apa lagi ganteng."
"Ren ... cinta gue untuk Arga itu tulus! Gue nggak pernah lihat Arga dari fisik apalagi wajahnya, gue sayang Arga apa adanya, paham?"
"Cih! Pengin muntah gue dengernya!"
Hati Rena bergetar jijik mendengar ucapan Laura barusan.
Rena adalah sahabat dekat Laura. Salah satu cewek yang sangat benci dengan Arga tentunya. Karena Arga, sahabatnya jadi gila, ia sering menangis dan tertawa sendiri semenjak kehadiran Arga.
Tiada hari tanpa Arga! Laura selalu menyebut nama Arga di mana pun ia berada, mungkin ada seribu kali perhari. Padahal Arga tidak pernah peduli dengan gadis itu. Laura selalu hidup dalam cintanya sendiri.
Entah terbuat dari apa hatinya, gadis itu sama sekali tidak sakit walau hidup terabaikan sepanjang waktu.Mungkin tidak dirasakan lebih tepatnya.
__ADS_1
"Ren gue cabut duluan, ya ... gue mau nungguin Arga di gerbang depan. Hari ini gue mau nebeng motor Arga lagi. Barang kali yang sekarang berhasil."
"Hah? Lo jangan nyari penyakit, deh!" Rena menggelengkan kepalanya. Terakhir kali gadis itu melakukannya, Arga malah mendorong paksa gadis itu dari atas motornya. Kakinya sampai terkilir karena hal itu, dan Arga tidak peduli sama sekali.
"Ya namanya juga usaha. Gue mau jalan dulu, Ren!" Gadis itu berlari riang tanpa beban. "Doain Gue!" teriak Laura saat keluar dari ambang pintu kelas.
Seperti biasa, gadis itu berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Menunggu Arga keluar sepanjang waktu.
Pernah, Arga sengaja keluar melalui pintu gerbang belakang karena tidak mau bertemu Laura. Dan akhirnya gadis itu terus menunggu kepulangan Arga sampai sore. Kalau satpam tidak mengusirnya, mungkin Laura akan terus berdiri di depan gerbang sampai malam.
"Neng, ini sudah sore. Sudah tidak ada anak murid lagi di sekolah ini. Neng sebaiknya pulang, bahaya untuk gadis kecil kaya eneng kalau sampai kemalaman. Nanti neng diculik bagaimana? Pulang ya Neng ... Pulang." Begitulah pak satpam membujuk seorang Laura, si gadis berkepala batu.
Huhhh.
__ADS_1
Semua itu Laura lakukan semata-mata hanya untuk melihat Arga sejenak saja. Cukup dengan melihat , hati Laura sudah berbunga-bunga.