Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Permintaan Laura


__ADS_3

Jam sebelas malam.


Arga terbangun setelah tak sadar diri cukup lama. Setelah menuntaskan kegilaannya bebera kali, pria itu langsung tergeletak di samping Laura.


Ia sangat terkejut saat menoleh ke samping, lalu mendapati Laura sedang berbaring memunggunginya sambil merintih kesakitan.


"E … elo, kenapa?" Dengan suara dingin yang agak terbata, Arga berusaha menanyakan apa yang terjadi.


Pria itu lantas melihat tubuhnya sendiri. Sama seperti Laura, ia juga tak mengenakan baju sama sekali. Baju yang ia pakai terlepas lalu dijadikan sebagai penutup tubuh selama dirinya tidur.


"Astaga!"


Arga memekik tertahan saat mendapati bercak merah di antara pangkal p*ha Laura.


Hanya dengan menyimpulkan keadaan mereka sekarang, Arga langsung paham hal apa yang terjadi di antara mereka beberapa jam lalu.


"Ra, lo baik baik aja, kan?" Untuk kali pertamanya Arga merasa bersalah luar biasa kepada anak itu. Laura kemudian membalikkan tubuhnya. Berusaha menatap Arga yang sudah duduk dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


"Aku nggak papa Ga! Kamu gimana? Tubuh kamu udah enakan belum?"


Sontak Arga mengernyit heran. Bisa-bisanya Laura bertanya tentang kondisi orang lain di saat keadaannya sendiri tidak baik-baik saja.


"Ra, maafin gue," kata pria itu lirih. Sambil mengusap air matanya, Laura pun menjawab disertai gelengan kepala


"Aku nggak papa Ga! Yang penting Arga bisa kembali lagi seperti semua, aku udah seneng liatnya."


"Tapi Ra—" Arga tak dapat melanjutkan bicaranya.


"Kamu udah mendingan, 'kan? Udah gak tersiksa lagi itunya?" tanya Laura lagi. Rasanya Arga ingin memaki karena Laura tak hentinya mengkhawatirkan kondisi dirinya saat ini. Padahal jelas-jelas Arga sudah melakukan hal yang tidak baik kepada anak itu.


Masih dalam posisi berbaring lemah sambil menatap Arga, Laura menelan ludahnya. "Iya, gak papa, Ga! Itu salah aku yang main ngasih minuman itu ke kamu dengan sembarang. Aku juga gak nyangka minuman yang dikasih Roma ke aku ada obat anehnya," ucap gadis itu.


"Lo tenang aja! Gue bakal bikin perhitungan sama anak itu!" balas Arga sambil mengepalkan tangannya emosi.


Arga lantas memunguti baju Laura yang sebagian tercecer di lantai.

__ADS_1


"A … aku pakein baju, ya! A … aku tutup mata, kok!" ucap pria itu menawarkan diri. Laura mengangguk saja. Kemudian Arga memakaikan baju untuk Laura lalu mendudukan anak itu secara hati-hati.


"Awww!" Laura memekik kesakitan saat pangkal p*hanya tak sengaja saling bergesekan. Hal itu membuat Arga panik dan berinisiatif ingin membawa Laura ke rumah sakit.


"Tahan, Ra! Kalau pintu udah dibuka kita ke rumah sakit!"


"Tapi, Ga, aku kan engga sakit yang aneh-aneh! Aku cuma sakit itunya karena abis diituin sama kamu," ujar Laura polos. Arga yang mendengarnya jadi malu. Pipinya pun merona merah.


Pikiran pria itu terus berusaha melanglang buana ke beberapa jam sebelumnya saat. Arga berusaha menyadarkan diri.


Pelan tapi pasti, ia mulai teringat segala perbuatan jahatnya terhadap Laura. Rasanya Arga ingin bunuh diri saja jika mengingat hal kotor yang ia lakukan tadi.


"Untuk yang satu ini tolong rahasiain ya, Ga! Kalau bisa jangan bahas apa pun masalah ini ke Roma. Aku gak mau ada satu pun orang yang tau tentang apa yang kita lakuin di tempat ini. Jadi alangkah baiknya kamu gak usah bikin perhitungan ke anak itu. Aku juga gak mau ada orang tau kalau sebenernya aku udah gak perawan," ujar Laura memohon penuh. Arga jelas tak setuju dengan permintaan Laura barusan. Baginya keadilan harus tetap ia dapatkan.


"Tapi Roma udah keterlaluan banget sama kita! Aku harus bikin perhitungan supaya mulutnya diem!"


Mendengar itu, sepasang manik mata Laura merambang tak karuan.

__ADS_1


"Please, Ga! Tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Aku engga mau ada satu pun orang tau tentang hal ini. Aku malu kalau suatu saat nanti teman-teman aku tahu kalau ternyata aku udah gak perawan!" Gadis itu terus memohon. Perasaan Arga menjadi semakin tak jelas karena hal itu.


__ADS_2