Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Semua Berawal Dari Sini


__ADS_3

"Nih! Coba nanti kalo lo ketemu Arga, lo kasih minuman ini ke dia. Gue jamin langsung top cer!"


"Top cer gimana?"


"Ya Top cer, Ra! Minuman ini bisa bikin lo tau jati diri Arga. Tadi katanya lo mau tau Arga laki apa kagak?"


Mendengar itu, Laura memperhatikan minuman itu dengan wajah bingung. Ia perhatikan minuman itu berkali-kali untuk memastikan Roma sedang tidak membohonginya. Tapi botol itu terlihat biasa saja. Tak ada yang aneh selain warnanya yang tampak seperti air mineral biasa.


"Ini apaan?" Laura jelas bertanya walau di mata gadis itu hanya air mineral biasa.


"Yaelah, pake nanya lagi ini anak. Tadi kan gue udah bilang, itu minuman yang bisa buktiin keraguan lo selama ini. Lo bakalan tau Arga homhom apa kagak setelah minum air itu," jelas Roma.


"Masa sih? Tapi ini bukan racun 'kan? Kok kaya air putih biasa?"


"Ya bukanlah! Gila aja gue ngeracunin temen sendiri. Itu emang air putih biasa kok, tapi udah gue campur ramuan berkhasiat yang bisa bikin Arga mengakui segalanya."


"Jadi kalo Arga minum ini akan keliatan dia normal apa kagak?"


"Betul sekali!" Roma menyeringai gila.


Sementara Laura masih menatap anak itu dengan wajah ragu-ragu. "Yakin nih, masa air putih kayak gini bisa buktiin kalo Arga kagak belok? Lo gak lagi ngarang cerita 'kan?"


"Ya elah Ra!" Roma menepuk bahu gadis itu gemas. "Buat apa si gue bohongin elu? Yakin sama gue! Pokoknya nanti kalo ada kesempatan lo kasih minuman itu ke si Arga. Paham?"

__ADS_1


Laura hanya mengangguk paham saat itu. Sayang ia tak menemukan momen yang pas untuk memberikan sebotol mineral itu karena Arga terus saja menghindar darinya selama latihan futsal tadi.


Hingga sore hari menjelang, Laura pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk memberikan sebotol mineral tersebut. Lagi pula ia tak tahu, apa yang Roma berikan di minuman itu.


Bagaimana kalau ada zat berbahaya di minuman tersebut?


*


*


*


"Lo gila, Ra! Lo gila!" Arga marah besar saat Laura baru saja selesai menceritakan soal itu kepadanya. Ia tak menyangka bahwa Laura sendiri lah dalang di balik semua ini.


Lagi, Arga menggeleng tak percaya. Ia memandang Laura dengan pandangan benci sekaligus jijik.


"Ya ampun, Ra ... Ra ... Bego lo emang udah ga ada obat sih! Bisa-bisanya lo ngasih obat perangsang ke gue cuma buat buktiin gue normal apa kagak! Otak lo di mana, sih? Lo gak tau apa, kalo barang itu bahaya banget. Sekarang kalau udah kejadian gini mau gimana, coba? Mau nyuruh gue tanggung jawab? Ogah banget! Emangnya lo sapa!" bentak Arga emosi.


Dibentak seperti itu, Laura makin menangis kejer. Biasanya dia selalu punya nyali untuk melawan Arga. Tapi kali ini semua kekuatannya mendadak hilang. Laura sadar bahwa kesalahannya kali ini tidak bisa dimaafkan.


"Maafin aku, Ga! Aku beneran gak tau kalo minuman itu adalah obat perangsang. Aku malah gak pernah kepikiran sampe ke situ!" jelas Laura. Ia memang memiliki vibes otak yang positif. Terlebih Laura sangat polos, jelas ia tidak akan berpikir tentang hal-hal semacam itu.


"Maaf lo gak guna! Sekarang semuanya udah kejadian begini!" bentak Arga makin benci.

__ADS_1


"Iya, aku tau, Ga! Tadinya juga aku berniat gak jadi ngasih minuman itu ke kamu, tapi gara-gara kita dikurung di tempat ini, aku malah jadi lupa soal minuman itu lalu ngasihin ke kamu pas liat kamu kehausan," terang Laura.


"Serah lo, deh!" cetus Arga sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya.


"Ya udah gini aja, Ga! Kita anggap semua ini gak pernah terjadi. Anggap aja kamu gak pernah ngelakuin apa pun ke kita."


"Lo kira semudah itu?" kesal Arga. "Kalo lo hamil gimana? Gue mah ogah suruh tanggung jawab. Lagian itu bukan salah gue, kok!"


Perkataan Arga sukses membuat hati Laura mencelos. Dalam diam ia mengusap perutnya.


Hamil?


Gak mungkin! Aku gak mungkin hamil, batin anak itu dalam hati.


"Kayaknya kalo cuma sekali gak akan hamil, Ga! Tetangga aku aja nikah empat tahun belum punya anak."


"Terus apa hubungannya?"


Sambil meremas tangannya di bawah sana, Laura pun menjawab, "Ya berarti kalo bikinnya cuma sekali, kemungkinan besarnya gak jadi!"


"Serah lo! Hamil apa kagak pokoknya gue ga mau tanggung jawab! Paham?"


"Iya ... iya! Andaipun hamil aku nggak akan minta tanggung jawab ke Arga, kok! Lagi pula ini cuma sekali, aku yakin banget gak mungkin ngelakuin sekali langsung hamil," ujar gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2