Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Membahas Perjodohan


__ADS_3

***


Sementara di sisi lain, Arga baru saja sampai di rumah setelah melalui perjalanan panjang di tengah guyuran air hujan. Pria itu juga pulang dalam keadaan basah kuyup. Tentunya dengan perasaan yang tak kalah kacau juga dari keadaan Laura di balik sana. Bahkan ia merasa jauh lebih sakit hati dari gadis itu.


Arga masih tak menyangka, Laura yang selama ini sangat menggemarinya, tega mengatakan hal sedemikian rupa. Hinaan itu akan selalu Arga ingat sepanjang masa. Arga benci Laura, Arga benci dengan tingkah laku perempuan yang tega mempermainkan perasaan sampai jungkir balik begini.


"Bu, aku mau bicara," ucap anak itu setelah ia selesai mandi dan ganti baju. Sang Ibu mengernyit. Tak biasanya sang anak berkata seperti itu kepadanya.


Pasti ada sesuatu yang serius, pikir si Ibu.


"Mau bicara apa, Ga?" tanya Ibu.


"Gak bicara apa-apa si, Bu! Aku cuma mau ngomongin masalah perjodohan itu. Kalo misalnya kita gak nurutin wasiat kakek dan nenek buat nikah pas dewasa nanti, gak masalah 'kan, Bu?"


"Loh, memangnya kenapa? Bukannya kalian berdua udah deket? Kamu juga bilang ke ibu kalo kamu udah mulai suka sama Laura," ucap Ibu.

__ADS_1


Beberapa waktu lalu Arga memang sempat membicarakan masalah perjodohan itu dengan kedua orang tuanya. Akhirnya Arga mengakui bahwa ia sudah lama tahu tentang perjodohan itu.


Arga juga menebak, bahwa selama ini kedua orang tuanua sering menyuruh Laura main ke rumaj agar ia dan Laura bisa dekat secara natural.


Ayah Arga tak mengelak, ia mengaku jika tebakan Arga sepenuhnya benar. Dan Ibu Arga menyarankan pada anak itu untuk mencoba dulu.


Arga pun setuju, ia berusaha memandang Laura sebagai perempuan hingga pada akhirnya perasaan itu perlahan muncul.


Selain itu, Arga bersedia melakukan itu juga karena ia merasa bersalah sudah mengambil keperawanan Laura. Dari rasa salah itu, timbulah niat tulus untuk menjalin hubungan yang serius.


Arga memang belum pernah mencintai wanita, tapi sekali mencintai, Arga berjanji akan menjaga rasa itu sampai mati.


"Lauranya udah gak suka sama aku, Bu?"


"Hah, kamu yang benar saja? Ayah sama Ibu saja bisa liat kalo dia suka banget sama kamu," kata Ibu. Jelas wanita itu tidak percaya karena tingkah Laura selama ini menunjukkan kebenaran.

__ADS_1


"Tadinya aku juga mikirnya gitu. Tapi pas aku coba ajak dia buat seriusan, dia malah bilang kalo rasa sukanya hanya sekadar suka biasa aja. Dia gak mau menjalin hubungan lebih dari sekadar temen. Dia juga bilang kalo aku bukan tipenya dia," tutur anak itu.


Arga sengaja tidak memberitahu soal hinaan itu. Arga tidak mau sang ibu ikut sakit hati karena perkataan Laura yang menurutnya tidak biasa.


"Ya sudah kalau begitu. Gak masalah kalo gak nikah sama dia. Lebih baik kamu juga gak usah bahas soal perjodohan itu sama Laura, kayaknya dia juga belum tau karena neneknya belum bilang apa-apa," kata Ibu. "Lagian Ayah dan Ibu juga gak maksain kalian berdua harus banget menikah. Jika salah satu dari kalian gak suka, ya udah, kami engga masalah sama sekali."


"Makasih ya, Bu! Ternyata ibu cukup pengertian." Arga langsung masuk ke kamarnya setelah itu.


Ibu bisa melihat jelas aura kesedihan di wajahnya. Ia yakin bahwa anaknya saat ini sedang patah hati.


Ibu merasa menyesal sendiri karena ia telah menyuruh Arga untuk melakukan pendekatan. Tujuannya agar mereka bisa saling dekat, tapi tak menyangka Laura yang dipikir suka terhadap anaknya malah mematahkan hati anak itu.


"Ya, namanya juga masih ABG. Masih labil. Pikirannya bisa berubah-ubah, kita liat aja pas dewasa nanti."


Itulah pendapat Ayah Arga saat sang istri menjelaskan apa yang terjadi kepada anaknya.

__ADS_1


Mereka berdua sepakat membiarkan semuanya berjalan secara natural.


***


__ADS_2