
Kesialan terjadi saat Arga baru saja selesai main futsal. Dari kejauhan, samar-samar ia melihat Laura sudah duduk di atas jok motornya dengan begitu santai. Ia pun segera mencari Roma karena anak itulah yang membawa Laura datang ke tempat ini.
"Si Roma ke mana?" Arga berusaha menanyakan keberadaan anak itu pada teman-temannya. Namun, nahas melanda karena ternyata Roma sudah lebih dulu pergi meninggalkan cewek menyebalkan itu. Arga dapat melihat bahwa sepertinya Laura tengah kebingungan mencari-cari keberadaan Roma.
Tak lama kemudian, salah satu teman Arga mengabari bahwa Roma sedang ada di ruang ganti. Tak mau berpikir panjang, pria itu gagas berlari menuju ruang ganti untuk menemui Roma.
"Rom, lo di mana?" Arga masuk ke ruangan tersebut. Namun, ia tak mendapati Roma di sana. Ia melihat jaket anak itu masih tergeletak di atas meja, jadi ia memutuskan untuk menunggu sebentar barang kali Roma akan datang.
Tak ... tak ... tak!
Terdengar langkah kaki mendekat ke ruangan tersebut.
"Lo ke mana aja, si, setan!" Arga segera membalikan badan, tetapi bukannya Roma yang ia temukan, malahan Laura yang datang ke ruangan itu tanpa diundang.
__ADS_1
"Anjir! Lo ngapain ke sini?"
"Lah, aku mana tau! Tadi temennya Roma nyuruh aku ke sini. Katanya Roma ada di sini, maka dari itu aku sengaja ke sini! Mau ngajak dia balik."
"Gak usah alesan, lo! Lo pasti sengaja buntutin gue ke sini, 'kan?" Arga memundurkan langkahnya penuh waspada.
"Yeee, pede banget Arga! Orang aku serius lagi nyariin Roma. Aku 'kan ke sininya sama Roma, jadi aku mau nyuruh anak itu buat nganterin pulang ke rumah."
Brakkk!
"Sialan! Ini pasti jebakan!" geram Arga sambil menggedor pintu kuat-kuat.
"Woi! buka pintunya Roma, sialan. Lo mau gue hajar?" teriak Arga dari dalam. Sayangnya tak ada sautan dari sana. Kebetulan juga ruang futsal tersebut agak terpisah dari ruang-ruang di sekolah lainnya, jadi sudah dipastikan tak ada orang yang lewat di jam Magrib seperti ini.
__ADS_1
"Roma, ini gak lucu! Ngapain lo ngurung kita di sini?" teriak Arga sekali lagi. Ia menoleh ke belakang, menatap Laura yang masih berdiri mematung sambil memandang punggungnya sedari tadi.
"Ngapain lo diem aja? Bantu teriak, Kek!" maki pria itu jadi tambah geram sendiri. Bukannya panik, Laura malah terlihat berdecak kagum sambil memperhatikan lingkungan sekeliling.
"Aku bingung Ga! Ini beneran bukan mimpi 'kan? Aku gak nyangka kita bisa kekurung di tempat sekeren ini cuma berdua aja. Aku suka banget Ga! Kita kayak yang ada di filem filem romantis itu. Siapa tau aja nanti kamu bisa langsung jatuh cinta."
Mendengar itu, Arga berteriak geram.
"Bangun beego! Mimpi lo ketinggian. Romantis mata lo soak! Ini udah mau malem! Gimana kalo kita kekurung di sini sampe pagi? Lo mau?" Arga menendang sebuah meja saking kesalnya.
Laura ini benar benar tidak punya otak atau bagaimana, si? Pikir Arga kesal.
"Ya udah si! Kita nikmati aja. Nanti juga pasti ada yang bukain. Lagian ruang ganti ini juga gak serem serem amat, cuma agak bau keringet aja."
__ADS_1
Masih sambil terus mengoceh, gadis itu mendekat. "Daripada Arga marah-marah ga jelas, lebih baik Arga minum aja, nih! Orang kalo kurang aqua biasanya resek!"
Laura menyodorkan sebotol air mineral kepada Arga. Pria itu langsung menyambar minuman tersebut lalu meminumnya hingga sisa seperempat.