
Di malam harinya, Laura sedang duduk santai di ruang tamu. Karena yang lainya masih berada di kelab, jadi mereka hanya berdua di villa. Suasana terkesan membosankan malam itu. Beberapa kali Laura mengganti canel tv, namun otaknya tak sedikit pun terfokus pada siaran yang ada di layarnya.
Sejujurnya Laura masih kesal karena Arga tidak mengizinkannya pergi ke kelab bersama yang lainya. Padahal liburan ini adalah liburan terakhir Laura. Karena sebentar lagi ia akan menghadapi badai ujian kehidupan.
Jika Arga melarang Laura untuk ikut, setidaknya ia harus menggantinya dengan mengajak Laura jalan-jalan ke tempat lain. Bukan malah berdiam diri di dalam villa begini.
Sepertinya Arga sedang mandi di dalam sana, terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi sejak 20 menit tadi. Cowok itu mandinya cukup lama juga ternyata.
Setelah selesai mandi, Arga keluar menghampiri Laura, Dilihatnya Laura tengah duduk manyun memegang camilan di tangan.
"Lo ngga mau mandi atau ganti baju?" tanya Arga sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia tahu Laura sedang kesal, tapi Arga memang sengaja tidak mengajak Laura pergi ke mana pun malam ini, tujuannya agar mereka cukup istirahat malam ini. Karena besok Arga sudah mempunyai rencana rahasia untuk jadwal liburanya.
"Entar deh, gue masih males, ini," jawab Laura asal.
"Oh ya udah kalo gitu, gue mau ke kamar dulu!"
Laura menatap Arga kesal
Ngga ada pekanya sama sekali, sih jadi cowok ? Apa tuh anak tidak dapat membaca kekesalan yang ada di benak Laura? Sepertinya tidak, batu prasasti yang dicosplay menjadi manusia tidak mungkin dapat memahami perasaan seseorang.
Sebenarnya juga Laura ingin sekali mandi, tapi ia lupa membawa baju ganti tidur. Laura terlalu terburu-buru mengemasi barangnya karena Arga hanya memberi waktu satu jam, itu pun sudah termasuk waktu untuk mandi.
Selang beberapa lama kemudian, Laura akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar, dilihatnya Arga sedang duduk di sofa sembari memainkan laptopnya.
"Ga!" panggil Laura.
"Hemm." Arga hanya berdeham dengan mata yang masih menatap pada layar monitornya .
"Sebenernya aku lupa ngga bawa baju ganti tidur," ucap anak itu hati-hati.
"Aduh nyusahin banget sih! Makanya kalau beres-beres itu dipastiin dulu. Pastiin semua barang yang lu perluin masuk." Arga berdiri dan membuka kopernya, lalu ia mengambil kaos polos dan kolor miliknya.
Nyusahin?
Kata-kata yang sulit dicerna oleh perasaan Laura. Jelas semua itu gara-gara Arga yang hanya memberikan waktu satu jam untuk prepare di rumah. Laura menghela kesal, menatap Arga yang entah sedang apa.
"Nih, lo pake ini aja!" Arga lantas memberikan kaos dan celana kolor miliknya. Itu adalah baju kedua yang Arga pinjamkan untuk Laura setelah jaket.
"Maksudnya, aku harus pake kolor ini?" tanya gadis itu kaget.
"Iya lah! masih untung gue pinjemin dari pada lo tidur pake jeans kayak gitu!" jawab Arga logis.
"Masa aku pake baju cowok. Apa kata temen-temen kamu kalo tau aku pake baju kamu. Aku malu sama temen-temen kamu di luar," lirih gadis itu langsung menolak baju pemberian Laura. Ia hanya mau memakai baju wanita saat tidur. Bukan kolor dan kaos oblong seperti itu.
"Bawel banget sih! Lagian kan cuma buat tidur doang! Ngga akan ada yang komentarin penampilan lo juga di sini kali!" Arga berseru ketus.
"Tapi, nama baik aku bisa tambah hancur kalo pake kolor kamu. Emang kamu gak malu bajunya dipake sama aku?" tanya Laura.
Arga sungguh tak mengerti dengan wanita satu yang ada hidapanya ini, hanya pakain untuk tidur, kenapa bisa serepot itu, si?
__ADS_1
"Hemmm, ya udah kalo gak mau! Gimana kalo lo tidur pake dalamen aja, pasti lebih Sexy tuh! Temen-temen gue pasti suka!"ucap Arga sengaja tersenyum licik dan menggoda Laura.
"Ikh, Arga! Dasarrr Mesum kamu!" bentak anak itu.
"Abisnya lo ribet banget perkara baju doang! Lo mau pake atau nggak itu urusan lo!"
"Iya! Aku pake nih,"ucap Laura.
Laura pun bergegas ke kamar mandi untuk segera mandi dan berganti baju, tak lama kemudian Laura keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan bersiap untuk tidur.
"Heh, tunggu dulu! Lo jangan tidur kaya gitu," tahan Arga melarang.
"Apa lagi sih, Ga? aaku ngantuk nih! Mau ngapain lagi?" tanya Laura yang matanya sudah mulai mengantuk.
"Tidur dengan rambut basah itu ngga boleh bego! Nanti lo bisa pusing dan sakit," ucap anak itu menasihati Laura.
"Yaudah kalo gitu kamu keringin dong, rambut aku! Kan kamu yang ngelarang aku tidur pake rambut basah," jawab anak itu.
"Ogah, Ah, keringin sendiri aja sono!"
"Yaudah biarin aku sakit kalo gitu. Biarin aja kepalaku pusing!" kesal gadis itu dengan wajah ngambek.
Tak disangka, Arga langsung mengeluarkan hair dryer dari dalam tas nya untuk mengeringkan rambut Laura.
Walaupun sikap Arga sangat dingin dan cuek pada Laura, tapi sebenarnya ia adalah sosok yang penyayang dan perhatian. Sikapnya pada Laura itu semata-mata karena ego dan gengsinya yang tinggi tak terkalahkan.
"Sini duduk!"
Arga mulai mengeringkan rambut Laura dengan pelan dan lembut. Jantung Laura berdetak sangat kencang karena perlakuan Arga membuatnya sangat canggung, untuk pertama kalinya ada laki-laki yang memperlakukannya seperti itu.
Lima belas menit kemudian Arga telah selesai mengeringkan rambut Laura.
"Udah nih! Sana lo tidur!" titah Arga, ia meletakan hair dryer nya di atas meja.
Laura segera menuju tempat tidur lalu membaringkan badannya, menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali mata.
Tanpa canggung, Arga pun juga ikut tidur dan berbaring di samping Laura. Pria itu berusaha cuek meski jantungnya kini terasa tidak bersahabat.
"Heh, Arga ngapain tidur di kasur?" Laura terperanjat, lalu bangun dan terduduk. Meskipun ia naksir Arga, Laura tetap masih punya harga diri. Ia tahu laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di larang bersama.
"Ya mau tidur lah gue juga ngantuk kali. Emangnya lo doang yang boleh tidur," jawab Arga dengan entengnya.
"Ga boleh di sini Ga! Kamu harus tidur di sofa! Gimana pun juga kita bukan muhrim." Laura menatap Arga jengah. Beraninya cowo ini tidur di samping Laura, pikirnya dalam hati.
Meskipun Laura sedang hamil anaknya, tapi anak itu tetap saja takut. Bayangan waktu itu kembali terbayang di benaknya. Laura mengingat sikap kasar Arga saat hendak mengg*gahi dirinya dengan paksa kala itu.
"Trus gue mau tidur di mana kalo bukan di sini? Udah lah, anggap aja gue gak ada. Toh lo juga gak gue anggap ada," ketus anak itu.
"Tega banget kamu! Mau dianggap apa engga, kita berdua nyata ada, Ga!"
__ADS_1
Arga lalu diam dan tak berapa lama ia memejamkan matanya.
Laura yang tadinya sangat mengantuk berubah segar bugar, karena tak nyaman dengan adanya Arga yang tidur di sampingnya.
"Huh, gimana dia bisa dia tidur tenang di samping wanita, dasar Arga orang aneh!"
gumam Laura dalam hati.
"Ga? Kamu udah tidur?" panggil anak itu lagi.
Arga tak menjawab sedikit pun, sepertinya dia sudah benar-benar terlelap menjemput alam mimpinya.
Karena dilanda penasaran, Laura pun sedikit bangun memandangi wajah Arga yang sudah terlelap. Dia begitu tampan meski dalam keadaan tertidur.
Tampan banget, sih, sayang waktu aku liat ketampanan kamu tinggal menghitung hari lagi. Sebentar lagi kita bakalan pisah selamanya, Ga, batin Laura dalam hati.
Di saat Laura tengah asik memandangi wajah Arga, tiba-tiba saja anak itu menarik tubuh Laura dengan sengaja.
BUGH.
Badan Laura jatuh ke dalam pelukan Arga. Bibir Laura bahkan tepat menyentuh bagian mata Arga. Anak itu langsunh menelan salivanya gugup.
"Heeuppm! Arga sialan, kamu pura-pura tidur, ya?" teriak Laura pura-pura kesal demi menutupi kegugupannya.
"Lagian lo ngapain ngeliatin orang tidur? Ngga sopan tau!" balas Arga.
"Yee. Aku cuma penasaran aja! Kamu udah tidur apa belum?" ucap gadis itu membela diri.
"Gimana aku bisa tidur kalo kelakuan lo mencurigakan gitu. Sebagai cowok, gue juga takut diapa-apain tau, "ucap Arga dengan santainya.
"Maksud kamu? Kamu khawatir Aku bakalan macem-macemin kamu? Ihk, ga banget tuh," ucap Laura sedikit kesal mendengar perkataan Arga. Bisa-bisanya ia menuduh Laura mencurigakan sedangkan ia saja tak melakukan apa-apa.
Yang lebih heran lagi. Mereka bersikap anti disentuh. Padahal mereka sudah pernah saling menyentuh alias keringat bareng-bareng.
"Mana tau kan! Lo mau cari kesempatan waktu gue tidur! Ngaku aja lo." Arga rada terkekeh.
"Huh, yang harusnya ngomong kaya gitu itu aku, Ga! Kamu kan cowok," ucap Laura dengan hidung yang kembang kempis dan bersungut-sungut itu.
"Tapi gue kan gak mungkin ngapa ngapain lo kalo engga dijebak kaya waktu itu. Secara gue gak pernah suka sama lo, dan lo yang ngejar-ngejar gue terus." Arga tersenyum penuh kemenangan dengan mata yang berkedip-kedip.
"Terserah deh!! Kamu tidur duluan aja, kalo gitu aku mau keluar, dan satu lagi, kecuali kejadian kemarin, aku pastiin kita gak akan ngelakuin hal kaya gitu lagi." Laura pun bangun dan beranjak dari tempat tidur.
"Lo mau kemana?" tanya Arga lekas terduduk.
"Mau cari angin, aku gak bisa tidur kalo kayak gini caranya," jawab Laura, lalu pergi meninggalkan Arga yang masih santai di atas ranjang.
Laura benar-benar kesal pada Arga. Niatnya untuk berlibur bersama Arga ternyata bukan hal yang bagus.
Gara-gara hamil ia mudah baperan. Tidak cocok jika disatukan dengan Arga yang pembawaannya begitu.
__ADS_1
****