Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Dipermalukan


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Arga berjalan kaki melewati hiruk pikuk pasar malam yang mulai ramai dipadati para pengunjung. Dari kalangan remaja, hingga para orang tua yang membawa anaknya menikmati hiburan sederhana di pinggiran kota Depok.


Intinya, seorang Arga yang notabene manusia tanpa warna, benci sekali dengan keramaian yang ada di pasar malam ini. Sepanjang Arga berjalan, cowok itu tak henti-hentinya mengumpat. Laura memang menyebalkan, sangat menyebalkan bahkan.


Sesampainya di depan apotik, Arga segera memberikan secarik kertas yang sudah diberikan Laura tadi. Untung ada apotik kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pasar malam. Hanya membutuhkan waktu tujuh menit untuk dapat sampai di depan apotik itu.


"Menikah muda ya, Mas?" tanya seorang mbak-mbak penjaga apotik sembari memberikan kantong kresek berisi pesanan Laura kepadanya."Mas, baik banget sama istrinya." Wanita itu berkata lagi.


"Maksudnya apa ya, Mbak? Saya belum menikah," kesal Arga heran. Ia semakin penasaran dengan isi barang yang ada di kantong kresek itu.


"Owalah, belum menikah, toh." Penjaga apotik itu terkekeh geli.

__ADS_1


Hal itu membuat Arga curiga. Pasti ada sesuatu yang tidak beres di dalam keresek sialan itu. Bahkan perasaan Arga mengatakan itu.


Bersamaan dengan si mbak yang asik mengajaknya bercanda, Arga segera membuka kantong kresek yang ada di hadapannya.


Detik itu juga, wajah Arga mendadak merah padam bagaikan kepiting rebus. Entah ekspresinya seperti apa, yang jelas cowok itu sangat malu sejadi-jadinya.


"Itu pasti, untuk pacarnya ya? Hayoo ... ngaku. Anak jaman sekarang, baru pacaran aja sudah perhatian begitu. Apalagi kalau sudah nikah nanti," goda si Mbak- Mbak apotik itu pada Arga.


Wajah Arga merah padam


Aaaarg!

__ADS_1


Ingin rasanya Arga kabur dari tempat itu sesegera mungkin. Hati Arga menjerit, memanggil nama Laura si gadis sialan itu.


"Jadi berapa ya, mba?" tanya Arga malu-malu. Bahkan cowok itu tidak berani bersitatap dengan wanita penjaga apotik itu.


"Totalnya tiga puluh empat ribu, Mas." Arga kemudian memberikan uang lima puluh ribu kepada mbak-nya. "


"Terima kasih ya, Mas. Salam buat pacarnya, semoga cepat sembuh sakit perutnya," ucap mbak itu sembari memberikan kembalianya pada Arga. Arga yang sudah tak punya muka lagi langsung mendorong kembalian itu.


"Ngga usah, buat Mba aja! " Anak itu langsung nyelonong tanpa terima kasih. Arga sudah sangat risih berdiri di apotik bersama si penjaga apotik yang bawel itu.


Cowok itu berjalan cepat sekali. Rahang Arga mengeras sedari tadi karena menahan emosi. Cacing Pita itu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya ia mempermalukan Arga seperti ini.

__ADS_1


Arga tak henti-hentinya mengumat di dalam hatinya. Segala macam sumpah serapah sudah ia lontarkan atas nama Laura. Cewek itu sukses membuat kebencian Arga semakin mendalam. Demi apa pun Laura lebih menyebalkan dari apa pun. Andai hanya ada satu wanita di muka bumi ini, Argalebih memilih hidup menjomlo seumur hidup daripada harus hidup bersamaan dengan Laura si gadis ajaib itu.


***


__ADS_2