
"Mampir sebentar," kata Kristal lalu dia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Kristal masuk ke dalam minimarket untuk membeli sesuatu. Sedangkan Ruli menunggu di dalam mobil. Ketika Kristal selesai membayar ke kasir dia bertemu dengan seseorang yang tak dia sangka.
"Kristal," panggil Vano.
Kristal terkejut bukan main. Dia cepat-cepat keluar untuk menghindari Vano. Tapi sayangnya tangan Vano mencekal pergelangan tangannya.
"Lepaskan!" Kristal berusaha memberontak tapi Vano tak mau melepasnya.
Ruli melihat seorang laki-laki mengganggu gadis yang dia kenal. Laki-laki tampan itu turun dari mobil lalu berjalan mendekati keduanya.
"Lepaskan dia!" Bentak Ruli pada Vano.
"Siapa kamu? Apa kamu kenal dengan wanita ini?" Tanya Vano pada laki-laki di hadapannya itu.
Ruli menarik pinggang Kristal. Sontak membuat gadis itu terkejut. "Tentu saja aku kenal. Dia pacarku."
Jantung Kristal berdebar ketika dirinya dianggap pacar oleh bos dinginnya itu.
Vano terlihat tidak terima mendengar ucapan Ruli. "Jangan berbohong! Kamu bukan aktor yang baik," ledek Vano. Tangannya hendak meraih kembali tangan Kristal. Namun, Ruli menghadangnya.
"Berhenti mencampuri urusan kami. Sebaiknya kamu minggir jangan jadi sok pahlawan," ancam Vano.
"Memangnya kamu siapanya dia hingga kamu ngotot untuk memisahkan aku dengan pacarku?" Tanya Ruli pada Vano sesaat kemudian dia mengerlingkan sebelah matanya pada Kristal.
"Aku ini pacar dia yang sesungguhnya," ucap Vano sedikit ngotot.
"Jangan asal bicara, kamu ini cuma mantan yang sudah kubuang," seru Kristal.
"Kris..."
"Cukup Vano, kamu tidak berhak lagi mencampuri urusanku," sela Kristal sebelum Vano menyebut nama aslinya.
"Kita belum putus, sayang. Kenapa kamu tega menduakan aku dengan laki-laki seperti dia?" Vano meninggikan suaranya.
"Apa kamu ingin bukti kalau aku ini pacarnya?" Ruli tak mau diam saja dia juga ingin laki-laki di hadapannya itu segera pergi.
Tanpa menunggu jawaban Vano, Ruli mencium bibir Kristal tanpa aba-aba. Kristal terkejut bukan main mendapatkan perlakuan dari Ruli. Sedangkan Vano membulatkan matanya melihat sepasang sejoli itu berciuman di hadapannya. Dia merasa jijik sekalipun dia sering melakukan perbuatan itu pada wanita lain.
"Sial, dia berani mencium bibir Kristal. Padahal menyentuh pipinya saja aku tidak diperbolehkan." Protes Vano dalam hati.
__ADS_1
Tak mau melihat lebih lama adegan dewasa itu, Vano memilih pergi. Tapi dia berjanji akan merebut Kristal dari laki-laki itu.
Kristal mendorong tubuh Ruli ketika melihat kepergian Vano. "Cukup, Pak! Dia sudah pergi. Bapak ini nyari kesempatan dalam kesempitan," gerutu Kristal sambil mengusap bibirnya yang basah.
"Jangan asal bicara kamu! Apa kamu tidak mau berterima kasih pada saya yang telah membantu kamu terbebas dari gangguan mantan sialaan kamu itu?"
"Terima kasih, Pak." Ucapan Kristal terdengar mengejek. "Saya tidak menyuruh bapak membantu saya." Kristal berjalan mendekati mobil. Namun, Ruli menarik tangan gadis itu hingga dia berbalik dan memeluk dada bidang Ruli.
Kristal tampak mengagumi daada bidang lelaki tampan itu. Ruli mengulas senyum ketika melihat ekspresi wajah Nara.
"Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya?" Ruli menirukan omongan Kristal.
Kristal tak menjawab. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Cepat-cepat dia memasuki mobil dan memasang sabuk pengaman. Lalu dia melaju dengan kencang mengendari mobil milik Ruli.
"Wanita siallan. Kenapa dia malah meninggalkan aku." Ruli nampak begitu kesal pada Nara.
Sedangkan Kristal tidak sadar telah meninggalkan atasannya. Dia berpikir dia sedang menaiki mobil pribadinya. Sesaat kemudian Kristal mengerem mendadak. "Ya ampun, bego banget sih, orangnya ketinggalan."
Kristal memutar mobilnya menuju ke tempat Ruli ditinggalkan. Namun, ketika sampai di sana, Ruli sudah tidak ada. Lalu Kristal turun, dia bertanya-tanya ke mana perginya Ruli.
Tak habis pikir dia menelepon Ruli dengan ponsel yang dia dapat darinya. "Hallo, Pak. Anda di mana?" Tanya Kristal khawatir.
"Kamu ini benar-benar keterlaluan. Berani sekali kamu meninggalkan saya seperti orang bodoh di sana. Sampai resto kamu langsung menghadap saya." Ruli membentak Kristal melalui sambungan telepon. Kristal pun menjauhkan handphone dari telinganya.
Setelah itu, Kristal menuju ke restoran. "Kristal kenapa kamu baru datang? Pak Ruli marah-marah dari tadi," ucap Meilani mengingatkan.
"Ah, sudahlah. Aku pasrah dia mau makan aku juga aku pasrah saja."
Ucapan Kristal disalahartikan oleh Meilani. Dia tidak menyangka laki-laki yang terkenal dingin itu begitu menginginkan sahabatnya.
"Kamu yakin akan dimakan?" Kristal hanya mengangguk. Dia tidak bisa fokus.
Kristal memasuki ruangan Ruli. "Apa hukuman untuk saya, Pak?" Tanya Kristal to the point.
Ruli mengulas senyum ketika mendengar gadis itu minta hukuman. "Hari ini kamu belum bekerja bukan? Bekerja saja dulu, aku akan memberi tahu hukuman kamu nanti," ucap Ruli tersenyum licik.
Kristal bernafas lega. Dia kembali bekerja bersama pegawai lainnya. Hari ini restoran lumayan sibuk karena week end banyak pengunjung yang datang. Dan di antara tamu yang datang Kristal melihat ibunya.
"Mama."
Prank
__ADS_1
Kristal menjatuhkan piring yang sedang dia pegang. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian. "Maafkan atas ketidaknyamanannya." Gilang datang menenangkan pengunjung.
Lalu dia berjongkok untuk membantu Nara memunguti pecahan beling itu. "Nara, jangan pakai tangan nanti kamu terluka."
"Aw." Nara meringis kesakitan ketika tangannya tergores beling.
"Nara kamu tidak apa-apa?" Tanya Gilang panik. Gadis itu menggeleng. Lalu Gilang menarik tangan Kristal dan membawanya ke belakang untuk mengambil obat.
Gilang mengoleskan obat dengan pelan lalu menempelkan plester pada lukanya. "Terima kasih, Pak."
"Ihk kecentilan banget sih tu anak. Sengaja mecahin piring buat dapat perhatiannya Pak Gilang," cibir Yanti.
"Iya, nggak tahu apa kita lagi capek dia malah enak-enakan pacaran."
Sesaat kemudian Kristal keluar dari ruangan Gilang. "Nara, antar pesanan ke meja yang ada di sana!" Tanti menunjuk meja yang diduduki oleh ibunya.
"Mampuus kalau ketahuan mama aku bisa diseret pulang," batin Kristal bergejolak.
"Tapi aku harus bersihin pecahan beling tadi, Mbak," elaknya.
"Kamu ini sama-sama kerja di sini tapi mau enaknya saja. Cepat antar!" Yanti memberikan nampan pesanan yang dia pegang dengan paksa.
Ruli mengamati Nara dari kejauhan. Dia ingin lihat kenapa Nara enggan mengantarkan pesanan ke meja tersebut.
Kristal tak kehilangan akal. Dia memakai masker untuk menutupi wajahnya. Lalu meminjam kacamata temannya yang dia sambar begitu saja.
"Kacamataku," protes laki-laki yang memiliki kacamata tersebut.
"Pinjam bentar mataku sakit takut nular ke pembeli," ungkapnya asal.
Ruli tersenyum melihat tingkah konyol Nara. "Dasar gadis aneh."
Jantung Kristal jedag-jedug ketika semakin dekat dengan ibunya. Tapi dia berusaha setenang mungkin agar tidak ketahuan. Kristal meletakkan makanan di meja Berlian dengan hati-hati.
Berlian menatap pelayan yang mengantar makanannya dengan curiga. Namun, kristal segara menghindar setelah dia selesai menaruh makanan yang dipesan ibunya.
"Tunggu!" Ucap Berlian.
Akankah Berlian mengetahui kalau itu putrinya?
Oh ya kalian tim siapa? Tali (Kristal + Ruli) atau Talang (Kristal + Gilang) ?
__ADS_1
Dukung karyaku dengan menyumbangkan hadiah ya 🙏