Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Insiden


__ADS_3

Dua hari kemudian Ruli diperbolehkan pulang. Kristal senang mendengar kekasihnya bisa kembali ke rumah. Dia pun tak harus bolak-balik lagi ke rumah sakit. Kristal sudah tidak sabar ingin menemui Ruli di rumahnya. Namun, setumpuk tugas yang diberikan oleh Alex membuatnya harus lembur hingga malam. Bahkan dia juga tidak sempat memegang handphone.


"Aaaa... Aku bisa stres kalau kerjaan nggak ada habisnya kaya gini. Bang Alex si Alan, mau bikin rambut aku rontok apa ya," geram Kristal.


Lalu dia mendengar suara tawa menggelegar tapi dia tidak melihat siapa pun di sana. Kristal menjadi seram sendiri. Pasalnya saat ini dia sendirian di kantor. "Bukan, bukan hantu." Gadis itu berusaha mengusir pikiran negatifnya.


"Hei." Sebuah tepukan di pundaknya membuat Kristal terperanjat kaget.


"Mas Agung, kirain setan," ucap Kristal sambil mengerucutkan bibirnya. Agung tak sengaja mengamati bibir Kristal. "Nggak usah manyun-manyun gitu, kamu mancing ya?"


"Hello, di sini nggak ada kolam, apa yang mau dipancing?" Gurau Kristal. Agung hanya menggelengkan kepalanya.


"Belum selesai?" tanya Agung.


"Belum, lihat nih masih segunung kertas yang mesti aku rekap." Kristal rasanya ingin menangis.


"Udah malam lanjutin aja besok," usul Agung.


"Tapi deadline-nya sebentar lagi."


"Besok aku bantu menyelesaikan. Orang tuamu pasti khawatir kamu jam segini belum pulang."


Kristal menutup mapnya lalu menyambar tas. "Aku capek, mau pulang saja. Ah masa bodoh dengan semua ini. Kalau sampai deadlinenya belum selesai juga aku siap dimarahi Bang Alex."


Agung mengulas senyum melihat tingkah manja gadis itu. Kemudian Kristal turun bersama Agung.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain Ruli merasa gelisah karena seharian belum mendapatkan kabar dari kekasihnya. "Kenapa handphonenya tidak aktif?" Gumam Ruli. Dia sudah mencoba berkali-kali tapi tetap tidak tersambung. Ruli mencoba berpikir positif terhadap kekasihnya.


Sebenarnya luka tembak di bagian perutnya belum sembuh benar tapi Ruli memaksa untuk pulang. Dia bosan berada di rumah sakit. Lagi pula jika berada di rumah dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya dengan leluasa, pikir Ruli.


Kristal mengendarai mobil sendiri tapi Agung mengikuti dia dari belakang untuk memastikan mantan pacarnya itu pulang dalam keadaan selamat. Hari sudah saling larut, jalanan yang dilintasi mobil Kristal begitu sepi. Tiba-tiba sebuah motor jatuh di depannya. Kristal mengerem mobilnya dengan mendadak.


Dia terkejut hingga jantungnya berdegup kencang. Lalu seorang laki-laki mengetuk kaca mobil. Kristal membukanya. Sedangkan Agung sementara memperhatikan dari jauh ketika melihat mobil Kristal berhenti mendadak.


"Turun!" Bentak laki-laki itu. Kristal mengikuti kemauan laki-laki asing itu.


"Lo sengaja ya nabrak gue? Lo lihat motor gue rusak parah, sekarang ganti rugi!" tuduh laki-laki itu dengan kata-kata kasar sambil membelalakkan matanya.


Kristal menengok ke arah motor laki-laki itu lalu ke arah bagian depan mobilnya ternyata tidak ada mobilnya yang lecet. Dia bisa menyimpulkan kalau laki-laki itu sengaja memerasnya. Kristal tersenyum miring. Dia bukan wanita yang mudah ditakut-takuti.


"Kalaupun ada yang rugi seharusnya aku yang minta ganti rugi. Anda telah membuat waktuku terbuang sia-sia di sini," jawab Kristal dengan angkuh.


Lalu segerombolan laki-laki yang membawa motor mendekat ke arah Kristal. Agung yang menyadari hal itu langsung turun dan berlari ke arah Kristal.


"Jadi kalian mau ngajak berantem?" Seru Kristal.


Bug


Sebuah tendangan mendarat lebih dulu di salah satu punggung penjahat itu. Laki-laki itupun jatuh tersungkur. Tendangan itu berasal dari Agung. "Kalian jangan jadi pengecut dengan mengeroyok seorang wanita," kata Agung memperingatkan.


"Mas, hati-hati," ucapan yang keluar dari mulut Kristal membuat hati Agung berdesir. Sudah lama dia tidak mendapatkan perhatian dari wanita itu.

__ADS_1


Ketika Agung lengah, sebuah pukulan mendarat di bagian wajahnya. Kristal tidak bisa tinggal diam. Dia pun menendang laki-laki yang telah memukul Agung. Perkelahian dua banding lima itu pun terjadi. Agung segera bergabung dengan Kristal melawan tiga penjahat sekaligus. Sedangkan Kristal melawan dua orang laki-laki.


Kristal menghajar mereka tanpa ampun. Setiap gerakan dapat ditangkis dengan mudah. Gadis itu memang pandai bela diri meski di mata sebagian orang Kristal tak lebih dari seorang gadis manja. Namun, para penjahat itu tidak mudah menyerah.


Kristal sudah mulai kelelahan. Pekerjaannya di kantor sungguh menguras tenaganya hari ini. Dia hampir saja lengah saat seorang penjahat mengarahkan belati padanya. Dia berusaha menusuk Kristal tapi gadis itu bisa menghindar. Sayangnya kaki Kristal tersandung.


Agung yang menyadari Kristal dalam bahaya segera berlari lalu menendang tangan laki-laki yang membawa belati itu. Pisau itu terjatuh, sayangnya penjahat lain mengambil pisau itu dan mengarahkan pada Agung. Tangan Agung terkena sayatan senjata tajam.


Kristal melihat ke sekeliling dan menemukan balok kemudian dia membalas pukulan mereka. Tenaganya tiba-tiba terkumpul saat melihat Agung terluka. Tak ada yang berhasil berdiri setelah mendapat pukulan balok Kristal.


Kristal berhasil melumpuhkan para penjahat itu. Setelah itu dia menghubungi abangnya meminta bantuan. "Bang, Mas Agung terluka tolong susul kami dan juga bawa polisi ke sini. Akan kukirimkan lokasinya."


Setelah menutup teleponnya, Kristal mengambil sapu tangan untuk membungkus tangan Agung yang berdarah. "Maafkan aku Mas. Tahan sedikit ya," ucap Kristal memberikan peringatan saat dia menyimpulkan sapu tangan tersebut. Agung meringis kesakitan.


Lalu dia memapah Agung masuk ke dalam mobil. "Mas tunggu Bang Alex sebentar ya, aku sudah menghubunginya." Agung mengangguk lemah. Akhirnya setelah sekian lama Agung mendapatkan perhatian dari Kristal. Meskipun harus mendapat sayatan di bagian lengannya terlebih dulu.


Tak lama kemudian, Alex dan beberapa bodyguardnya datang. Saat itu, Andi dan Amar pun ikut bersamanya. Dia berjalan mendekati sang adik. "Kenapa kamu tidak segera membawanya ke rumah sakit?" Protes Alex saat melihat tangan Agung yang terluka.


"Bang Andi saja yang bawa Mas Agung ke rumah sakit, aku ikut Bang Alex untuk bersaksi di kantor polisi. Mereka berusaha memeras dan mencelakai diriku. Jadi aku harus melaporkan para ba*ji*Ngan itu supaya cepat diproses," ucap Kristal dengan berapi-api.


Alex setuju dengan omongan adiknya. Lalu dia memerintahkan Andi membawa Agung ke rumah sakit. Sedangkan Amar membawa pulang mobil Agung.


"Maafkan aku, Bang. Karena aku Abang harus meninggalkan kak Sandra dan Zavier di rumah sendirian," ucap Kristal dengan lirih ketika berada di dalam mobil. Dia merasa tidak enak pada abangnya tapi dia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Tidak mungkin juga dia menghubungi Ruli yang baru keluar dari rumah sakit.


Alex mengacak rambut Kristal. "Dasar bodoh! Lain kali jangan pulang kemalaman." Alex tak bermaksud menyalahkan Kristal, dia hanya khawatir.

__ADS_1


"Ini semua salah orang yang memberiku banyak pekerjaan hingga akhirnya aku harus lembur sendirian," sindir Kristal.


Alex melirik ke arah Kristal sejenak lalu kembali fokus ke jalanan. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke kantor polisi terdekat. Para anak buah Alex menggiring penjahat-penjahat yang ditangkap oleh Kristal itu masuk ke dalam.


__ADS_2