Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Insiden


__ADS_3

"Amara," panggil Gilang. Jantung Amara berdegup kencang, dia kira yang memanggil namanya adalah Ruli. "Syukurlah," ucapnya merasa lega.


Amara cepat-cepat menghampiri Gilang. "Kak, jangan bilang Kak Ruli kalau aku ke sini bawa cowok," pinta Amara setengah memohon.


Gilang menengok laki-laki berpakaian rapi yang dia duga adalah teman kerjanya. "Kalian nggak mau masuk?"


"Nggak usah, kita pergi aja." Tanpa meminta izin tangan Amara menyeret Riko.


"Amara kita nggak jadi makan di sini?" tanya Riko bingung.


"Lain kali aja, makanan di sini mahal-mahal," jawabnya. Ucapan Amara terdengar sampai ke telinga Gilang. Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala.


"Lihat apa?" Ruli menepuk bahu Gilang dari belakang. Gilang terlonjak kaget.


"Ah, tidak. Tadi ada customer yang mau masuk tapi malah nggak jadi," bohongnya. Dia harap Ruli tidak melihat adiknya itu.


"Pasti customer itu nggak suka ya kalau kakaknya tahu kalau dia datang bawa pacarnya," sindir Ruli. Gilang melebarkan matanya.


"Ah, sudah ayo masuk," ajak Ruli.


Sementara itu di dalam mobil. "Amara, kamu kenapa sih?" protes Riko.


"Kakakku kerja di situ. Aku takut kalau ketemu dia," ungkapnya setelah berada di dalam mobil.


Berbeda dengan Amara yang ketakutan Riko justru ingin berkenalan dengan kakak kandung Amara. "Oh, ya? Kenapa kamu tidak mengenakan aku padanya? Siapa tahu kami bisa akrab?"


Amara tak percaya pada Rikonyang begitu antusias ingin bertemu sang kakak. "Siapa tahu kamu akan dibunuh olehnya. Kakakku itu super dingin, kaku, dan galak. Jangankan lalat semut kalau diinjak akan mati." Amara melebih-lebihkan omongannya. Padahal tidak ada yang perlu ditakuti oleh omongannya itu. Bukankah semut kalau diinjak siapa saja akan mati?


Tapi dasar Riko yang terlalu takut, dia jadi susah menelan ludahnya sendiri mendengar kebengisan sikap kakak pacarnya itu dari penuturan Amara.


Tak berpikir panjang, Riko langsung melajukan mobilnya. Sedangkan Amara menahan tawa karena berhasil mengerjai Riko. "Dasar penakut."


Di tempat lain, Mama Lira bersiap untuk membeli kebutuhan belanja bulanan. Dia tengah menenteng tas jinjing di tangannya. "Sayang kamu jadi ikut 'kan?" tanya Mama Lira pada menantunya.


"Jadi, Ma. Tapi agak ribet ini bawa dua stroller," ungkap Kristal.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, nanti mama bantu dorong. Mama bosan di rumah. Lebih baik kita jalan-jalan ajak si kembar," usul Mama Lira.


"Iya, Ma. Aku juga sudah lama tidak keluar. Kita sekalian cari baju untuk Baby Glen dan Gwen ya, Ma," ucap Kristal antusias. Mama Lira mengangguk setuju.


Mereka berdua menaiki mobil yang sama. Baby Glen dan Baby Gwen ditempatkan di sebuah bantalan bayi yang khusus untuk ditempatkan di mobil. Kali ini kedua wanita dan anak kembarnya diantar oleh sopir pribadi, Pak Usman namanya.


"Kita ke mall ya, Pak," perintah mama Lira.


"Baik, Bu."


Sesampainya di mall anak kembar Kristal diletakkan di dalam stroller kemudian didorong berjalan mengelilingi mall. Mama Lira mendorong baby Gwen sedangkan Kristal mendorong baby Glen. Mereka keluar masuk ke dalam toko yang menjadi incaran mereka.


Setelah cukup lama berbelanja, Kristal merasa ingin ke toilet. "Ma, boleh aku ke toilet sebentar?" Mama Lira mengangguk.


Mama Lira tetap berada di tempatnya saat ini. Mendadak ponsel Mama Lira berbunyi, dia pun mengangkat telepon dari Ruli. Mama Lira cukup lama berbicara lewat telepon sampai tidak menyadari kalau stroller Baby Glen berpindah.


Mall lumayan padat karena hari itu week end. Tanpa mama Lira sadari seseorang menendang kereta bayi yang ditempati baby Glen hingga menjauh. Orang itu tak sengaja karena terlihat buru-buru berjalan. Setelah mengakhiri panggilan dari Ruli, Mama Lira bingung ketika mendapati cucunya hilang entah ke mana.


Sewaktu Kristal kembali, dia tidak melihat stroller anaknya yang satu lagi. "Ma, di mana anakku?" Mama Lira bingung menjawabnya.


"Aku yakin pasti belum jauh, kecuali kalau ada yang menculik dia. Ah tidak, aku tidak boleh berpikiran jelek tentang anakku." Kristal menggeleng cepat. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mall.


"Tunggu mama, Kristal," teriak Mama Lira. Dia mempercepat langkahnya agar bisa menyusul sang menantu.


Dari kejauhan, Kristal melihat seorang laki-laki paruh baya menemukan stroller yang diyakini milik anaknya.


"Pak," teriak Kristal. Dia berjalan cepat menuju ke arah laki-laki itu.


"Dia anak saya," ucap Kristal kemudian.


Laki-laki itu melihat Kristal mendorong sebuah stroller yang sama. "Saya tak sengaja menemukan dia seorang diri," ungkapnya.


"Terima kasih. Saya akan mengambil kembali anak saya." Saat Kristal akan menarik stroller milik baby Glen, tangan laki-laki tua itu menahannya.


"Lepaskan tangan anda," ucap Kristal dengan dingin.

__ADS_1


"Apa benar dia anak anda? Bukankah anda sudah membawa bayi kenapa bisa mengakui anak ini sebagai anak anda?" Kristal menghela nafas.


"Anak saya kembar," ucap Kristal penuh penekanan. "Apa saya ada tampang penculik? Bukankah terbalik ya? Seharusnya saya yang mencurigai anda karena telah lancang membawa anak saya pergi," tuduh Kristal yang setengah emosi. Dia bukan bermaksud tidak sopan pada laki-laki itu, tapi Kristal hanya tidak terima dia dituduh sembarangan.


Lalu mama Lira datang untuk menengahi. "Apa yang dia katakan benar. Dia ibunya," sahut mama Lira barulah laki-laki tua itu percaya.


"Menyebalkan sekali," gumam Kristal lalu pergi. Dia sangat kesal karena dituduh akan menculik anaknya sendiri. Dia tak menghiraukan ibu mertuanya karena dia juga kesal pada wanita itu karena telah lalai menjaga putranya.


Kristal mendorong kedua stroller itu dengan susah payah. "Harusnya aku tidak perlu pergi ke mall segala," gerutunya.


"Maafkan menantu saya," ucap Mama Lira dengan lembut.


Sejak tadi laki-laki itu memperhatikan Mama Lira. Kemudian dia mengulurkan tangannya. "Nama saya Rama," ucapnya memperkenalkan diri.


"Saya Lira," balasnya dengan ragu. Sesaat kemudian mama Lira mendapatkan telepon dari Kristal.


"Ma, anak-anak sudah rewel tolong cepat kembali ke mobil."


"Baiklah. Mama akan secepatnya ke sana!" Mama Lira menutup teleponnya.


"Tunggu, apa kita bisa bertemu lagi?" Tanya Rama.


"Saya tidak tahu."


"Kalau begitu apa boleh kita bertukar nomor telepon?" Pintanya. Mama Lira ragu memberikannya. Tapi dia belum berterima kasih pada laki-laki itu karena telah menemukan cucunya.


Pak Rama bergerak cepat saat melihat Mama Lira yang ragu. "Ini kartu nama saya." Dia memberikan sebuah kartu nama. Setelah Mama Lira menerimanya, dia pamit pergi.


Rupanya Pak Rama jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mama Lira. Akankah ada kelanjutan dari hubungan mereka?


...****...


Yuk mampir ke sini dulu biar nggak bosen nunggu othor up, jangan lupa subscribe ya


__ADS_1


__ADS_2