Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Saling menjaga


__ADS_3

Agung menatap iba pada kekasihnya. Dia membuka jasnya kemudian menutup tubuh Rere. Baju Rere sudah terkoyak. Agung merasakan sesak di dadanya karena dia tidak bisa melindungi Rere. Leo pasti akan menyalahkan dirinya.


"Sayang, kita ke rumah sakit?" Rere menggeleng. "Aku tidak mau. Kalau sampai kakakku mendengar aku hampir saja diperkosa maka dia akan mengurungku di rumah."


"Lalu kamu ingin bagaimana sekarang?"


"Bawa aku ke hotel saja, tapi jangan di sini, aku tidak ingin bawahanku tahu. Aku akan sangat malu jika semua orang melihat aku telah dilecehkan."


Agung mengusap air mata gadis pujaannya itu. "Baiklah, aku akan membawamu ke apartemenku saja." Rere mengangguk.


Lalu Agung membawa Rere masuk ke dalam mobilnya. Dia menggendong Rere ala bridal style. Setelah itu Agung masuk ke dalam mobil. Dia menghubungi seseorang sebelum menyalakan mesin mobilnya.


"Mas apa kau menghubungi Kak Leo?" tuduh Rere curiga.


"Bukan aku menghubungi orang bengkel untuk memperbaiki mobilmu."


"Kalau begitu aku akan menghubungi kak Leo. Aku akan mengatakan padanya kalau aku menginap di rumah temanku agar dia tidak curiga." Agung setuju dengan ide Rere.


Rere hanya mengirimkan pesan singkat pada kakaknya. Suaranya masih bergetar setelah menangis. Jadi dia tidak mau ketahuan oleh Leo.


Leo mengerutkan kening saat membaca pesan dari adiknya. Dia merasa aneh karena baru kali ini Rere tidur di luar rumah. Leo berusaha berpikir positif karena Rere sempat mengutarakan protesnya saat makan siang tadi. Jadi Leo memberikan sedikit kebebasan pada adiknya itu.


Leo tidak tahu dia berteman dengan siapa saja, yang jelas saat ini dia hanya bisa percaya pada adiknya.


Sementara itu Rere sampai di apartemen Agung. Meskipun Agung masih tinggal bersama orang tuanya, kadang kala dia pulang ke apartemen jika sedang suntuk di rumah.


"Masuklah, maaf jika tempatku berantakan," ucapnya sambil memunguti sampah yang ada di meja.

__ADS_1


Rere tersenyum lalu dia duduk di sofa panjang itu. "Tunggu di sini aku akan membuatkan kamu minum." Rere mengangguk.


Tak lama kemudian Agung membawa secangkir teh hangat untuk kekasihnya. "Minumlah selagi hangat. Setelah itu kamu bisa membersihkan badanmu. Kamar mandinya ada di sana." Tunjuk Agung ke bagian sudut rumahnya.


"Tapi aku tidak membawa baju ganti," kata Rere. Agung berdiri untuk mengambil pakaian yang sekiranya dapat dipakai gadis itu.


"Pakailah kaos ini. Mungkin ukurannya agak kebesaran saat kau pakai. Besok aku akan belikan pakaian untukmu." Gadis itu mengambil kaos dari tangan Agung setelah itu menuju ke kamar mandi.


Sementara Rere mandi, Agung mencari makanan untuk Rere. Dia keluar unit apartemennya menuju ke restoran yang ada di seberang jalan.


Setengah jam kemudian Rere keluar dalam keadaan bersih. Namun,dia tidak melihat Agung. Dia mencari ke setiap ruangan di apartemen tersebut akan tetapi dia tetap tidak menemukan Agung. Rere menjadi panik. Dia tiba-tiba terduduk di sudut dinding sambil menangis.


Sesat kemudian Agung kembali. Laki-laki itu terkejut saat melihat Rere memegang lutut sambil menangis. Agung segera mendekapnya. "Kenapa menangis sayang?" tanya Agung sambil membelai rambut kekasihnya.


"Aku takut sendirian. Kenapa pergi meninggalkan aku?" Agung paham mungkin kejadian tadi membuat Rere trauma.


Tangan Agung tidak kuat menahan beban tubuh Rere lama-lama karena terluka setelah memukuli penjahat tadi. Dia mendesis menahan perih di tangannya.


Lalu Rere melihat luka di tangan Agung. Gadis itu terkejut ketika mendapati tangan kekasihnya lecet-lecet. "Mas, di mana kotak obatmu, biar aku obati dulu tanganmu ini," ucapnya khawatir.


"Aku baru membeli obat dan perban di apotek tadi. Bukalah bungkus plastik kecil itu!" Rere beranjak bangun lalu mengobati tangan Agung dengan telaten. Agung memperhatikan wajah Rere yang begitu teduh.


Rere adalah gadis yang bisa membuat dia berpaling dari Kristal. Entah apa yang disukai dari gadis itu yang jelas saat ini Agung ingin sekali melindungi Rere di manapun dia berada.


"Sudah selesai, Mas." Ucapan Rere membuyarkan lamunan Agung.


"Terima kasih banyak, sayang," ucap Agung dengan lembut. "Sudah malam sebaiknya kamu istirahat. Aku akan tidur di sofa," kata Agung. Rere mengangguk setuju.

__ADS_1


Keesokan harinya, Rere bangun lebih awal. Dia membangunkan Agung yang masih tertidur di sofa. "Mas, antar aku pulang. Aku harus ganti baju kantor."


Agung mengerjapkan matanya. Lalu dia bangun. Namun, dia terlihat lemah. "Mas kamu tidak apa-apa?" tanya Rere khawatir. Setelah itu dia menempelkan tangannya ke dahi Agung.


"Kamu demam Mas," ucapnya panik. Setelah itu Rere mengajak Agung untuk berbaring di ranjang. Rere lupa kalau dia harus berangkat kerja. Dia lebih memikirkan Agung yang butuh perawatan.


"Tunggu di sini sebentar Mas. Aku akan ambil air untuk mengompres demammu." Dengan telaten Rere merawat Agung pagi itu. Handphone Agung terus berbunyi sejak tadi. Rere melihat panggilan masuk dari Alex. Gadis itu mengubah setelan handphone menjadi mode diam.


Rere menghubungi bawahannya kalau hari ini dia tidak bisa masuk kerja. Leo yang merasa resah karena tak mendapat kabar dari sang adik akhirnya mendatangi kantor Rere.


"Apa Rere sudah datang?" tanya Leo pada salah satu karyawan.


"Hari ini Bu Rere izin, Pak," jawabnya. Tidak ada yang tahu hubungan saudara antara Rere dan Leo.


Leo makin curiga. Sesaat kemudian dia mendapatkan telepon dari Zidan. Laki-laki itu akan mencari keberadaan adiknya saat Zidan tak lagi membutuhkannya hari ini.


Kebetulan saat ini Zidan tengah meeting dengan Alex. "Ke mana asistenmu?" tanya Zidan yang melihat Alex datang sendirian.


"Entahlah, hari ini ada yang aneh dengannya. Aku menelepon beberapa kali tapi tidak diangkat."


Leo merasa ada yang aneh dengan Agung setelah mendengar penuturan Alex. Dia pun berniat mencari tahu di mana Agung tinggal selain di rumah orang tuanya.


Kemudian Leo mencari tahu kediaman Agung. Tak sulit baginya mencari informasi karena anak buahnya tersebar di mana-mana. Leo mendatangi unit apartemen yang diduga milik Agung. Dia menekan bel unit tersebut.


Rere mendengar seseorang menekan bel pintu sedangkan Agung sedang berada di toilet. Kondisinya sudah lebih baik setelah seharian Rere merawatnya. Rere membuka pintu tanpa curiga sedikitpun.


Betapa terkejutnya dia saat tamu yang berdiri di depan pintu tersebut adalah sang kakak. Leo mengepalkan tangannya geram karena Rere membohonginya. Leo menerobos masuk ke dalam unit apartemen tersebut. Dia melihat Agung yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk kecil yang melilit pinggangnya. Pikiran negatif sudah memenuhi kepala Leo. Apalagi adiknya itu tidak memakai pakaiannya sendiri.

__ADS_1


Sepersekian detik Leo menghantam wajah Agung dengan pukulan.


__ADS_2