
"Kalau Lo kapan nikah Gung?" tanya Andi setengah meledek.
"Besok," jawab Agung dengan santainya.
"Besok kalau udah ada pasangannya," sindir Amar.
"Kadang-kadang omongan lo nyakitin ya Tadz." Agung merasa kesal.
"Lah emang gitu kan biasanya jawaban lo," balas Amar.
"Ya elah, gitu aja sensi amat. Nggak lagi dapet kan?" Ledek Andi.
Agung meminum jus milik Andi sampai tandas. "Elo kira-kira dong Gung kalau minum. Pesan ndiri kek," protes Andi.
"Ya elah Ndi. Beli lagi bisa kan?" Kata Amar.
"Gue sih bukannya pelit Tadz tapi di gelas itu kan ada bekas bibir gue," keluh Andi.
"Cuih, kenapa gue sampai lupa ya." Agung meludah tapi tak mengeluarkan apapun. "Si alan lo, Ndi. Gue sama aja nyium bibir lo secara nggak langsung." Agung mengusap bibirnya dengan kasar.
Amar tergelak. "Siapa suruh rakus. Elo tuh ya dari zaman SMA nggak pernah berubah. Kelihatannya aja berdasi tapi kelakuan sama aja." Amar menggelengkan kepalanya.
"Apa lo nggak sebaiknya balikan sama Kristal?" Usul Andi.
"Dia udah punya pacar," jawab Agung dengan wajah sendu.
"Lah Kristal memang suka gonta-ganti pacar kan setelah putus dari lo," sambung Amar.
"Sepertinya kali ini beda. Tadi pagi gue ketemu dia di depan rumah sakit katanya habis nungguin pacarnya yang sakit." Agung mengingat kejadian tadi pagi.
Amar menepuk bahu sahabatnya itu. "Selama janur kuning belum melengkung, masih bisa lo tikung, Bro," ucap Amar.
Agung memicingkan matanya. "Wah ngajarin nggak bener Lo, Tadz," protes Andi tak terima dengan usulan Amar.
"Why not? Iya nggak Gung?" Amar meminta dukungan pada laki-laki lajang itu. Agung malah melempar sedotan ke wajah Amar tapi untungnya Amar bisa menghindar.
"Kumpul bareng kalian bikin makin gesrek." Agung memilih keluar dari kafe itu. Amar dan Andi ikut menyusul.
"Woi, pulangnya hati-hati. Jangan karena lagi patah hati lo malah bunuh diri," ledek Andi.
"Si*Alan kalian emang." Agung mengambil sepatunya hendak melempar Andi tapi tidak jadi. Sedangkan Andi dan Amar puas meledek Agung malam ini.
Di tempat lain, Ruli sedang ditemani Kristal. Dia sudah sepakat dengan Lira untuk gantian jaga. "Mas besok pagi-pagi sekali aku akan pulang karena aku harus kembali bekerja Jadi aku minta maaf jika tidak bisa merawatmu setiap hari." Kristal memberi tahu agar Ruli bisa memahami.
__ADS_1
"Iya, sayang. Tidak jadi masalah," jawab Ruli sambil tersenyum. Dia tidak mau mengekang Kristal. Toh mereka juga belum memiliki ikatan pernikahan.
"Malam ini aku tidur di sini untuk menemanimu, aku sudah izin orang tuaku. Biar mamamu bisa istirahat di rumah sambil menemani Amara yang baru sembuh," ucap Kristal sambil menaikkan selimut Ruli.
Ruli menangkap tangan Kristal. "Terima kasih sayang. Naiklah, temani aku tidur di sini!" Ruli menepuk ranjangnya.
"Nggak usah macem-macem ya, Mas." Kristal mengerucutkan bibirnya. Ruli tergelak menanggapi omongan Kristal.
Kristal memakai masker wajah lalu mengambil selimut yang dia bawa sendiri. "Aku akan tidur di sofa. Malam ini aku akan menganggap aku tidur di rumahku sendiri."
"Begitukah kebiasaan mu tidur, sambil pakai masker?" tanya Ruli.
"Tidak juga, aku memakainya seminggu tiga kali."
Ruli hanya menggelengkan kepalanya. "Berjaga-jagalah kalau tidak mau aku terkam nanti malam," goda Ruli. Kristal memicingkan matanya.
Gadis itu tampaknya tidak merasa nyaman tidur di sofa. Sejak tadi Ruli melihat Kristal bergerak bolak-balik ke kanan lalu ke kiri. Akhirnya Ruli memberikan bantal di kepala Kristal. Barulah dia bisa tidur dengan nyaman.
Keesokan harinya Kristal bangun ketika alarmnya berbunyi sekitar pukul lima pagi. Dia bersiap-siap setelah sholat subuh.
Kristal melihat Ruli belum bangun. Kristal agak menunduk untuk berbisik ke telinga Ruli. "Mas aku cari sarapan dulu," ucapnya di depan pemilik wajah tampan itu."
Tiba-tiba Ruli menyambar bibir Kristal. Gadis itu terkejut bukan main. "Hish, mas Ruli." Laki-laki itu terkekeh.
Kristal mengangguk. "Nanti Tante Lira ke sini. Mungkin aku akan ke sini setelah pulang kerja."
"Iya, sayang. Jangan khawatirkan aku."
"Mas aku pergi dulu ya," pamit Kristal.
"Tunggu! Apa kamu lupa sesuatu?" Ruli meminta Kristal berpikir.
Cup
Kristal mencium Ruli di bagian pipi sekilas. "Maaf aku hampir lupa," ucapnya dengan malu-malu. Setelah itu berjalan keluar.
Kristal mengendarai mobilnya dengan pelan. Dia berangkat lebih pagi jadi tidak terkena macet. Dia paling awal sampai di kantor. Saat itu Kristal tak sengaja berpapasan dengan Agung.
"Kristal tumben datang ke kantor pagi sekali?" tanya Agung.
"Iya, kebetulan jalannya tidak macet," jawabnya.
Mereka menaiki lift bersama-sama. Agung menatap Kristal diam-diam. Sedangkan Kristal tak sadar kalau Agung memperhatikan dia sejak tadi.
__ADS_1
Setelah sampai di kantor Kristal mengabari Ruli.
Kristal : Aku sudah sampai.
Ruli : Selamat bekerja sayangku. Yang fokus jangan mikirin aku terus. Aku akan tetap berada di pikiran dan hatimu meski kamu sedang tidak memikirkanku.
Kristal tersenyum membaca pesan yang dikirim Ruli. Agung mengerutkan kening ketika dia melihat Kristal yang senyum-senyum nggak jelas.
"Mungkin dia sedang berkirim pesan dengan kekasihnya," batin Agung tersenyum getir. Dadanya terasa sesak tiap kali memikirkan mantan kekasihnya yang sekarang tidak single lagi.
Ketika hari sudah mulai siang Kristal terlihat mengantuk. Agung sengaja membelikan satu cup kopi untuk Kristal.
"Segelas moccachino," ucapnya sambil menyodorkan gelas kopi pada Kristal.
"Makasih Mas Agung," ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu kurang tidur ya?" tanya Agung. Dia memperhatikan lingkar mata Kristal.
Lagi-lagi dia tersenyum. "Iya, semalam aku tidur di rumah sakit. Ini pengalaman pertama aku merawat orang yang ada di rumah sakit," jawabnya.
"Owh, spesial banget ya dia kayaknya," sindir Agung sambil berlalu.
"Ya gitu deh," jawab Kristal cuek.
"Cie, cie, ada yang mau CLBK nih kayaknya?" Ledek Andi yang baru datang.
"Hish, Bang Andi ngapain?" tanya Kristal ketus.
"Abang Lo ada?" tanya Andi.
"Masuk aja!"
Lalu Andi merangkul leher Agung dan membawanya masuk ke dalam ruangannya Alex. "Sadar woi, dia tuh pacar orang," tegur Andi pada Agung. Agung hanya mencibir.
"Ada apa Ndi?" tanya Alex yang melihat kedatangan Andi.
"Ini asisten lo mau ngajak adek lo CLBK," jawab Andi sambil terkekeh.
"Bukan itu maksudku? Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Alex yang menanyakan alasan Andi ingin menemui Alex. "Biasalah masalah bisnis."
Cukup lama Andi, Agung dan Alex berada dalam satu ruangan. Kristal tidak tahu mereka membicarakan masalah apa yang jelas saat ini sudah waktunya pulang. Kristal ingin segera kembali ke rumah sakit untuk menemui pujaan hatinya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Bang, aku mau pulang duluan."