
...Jika hati sudah memilih maka cara yang paling benar adalah mengungkapnya dengan tindakan yang membuat pasangan kita diperhatikan bukan hanya mengeluarkan kata-kata manis tapi sebuah perhatian yang menunjukkan kesetiaan....
Seperti Agung yang masih setia menunggu Rere hingga dia sadar. Sementara Leo mengurus pemakaman pria yang meninggal itu. Untungnya dia tidak punya keluarga. Jadi, kejadian ini tidak membuka peluang bagi siapa pun untuk menuntut Rere.
Rere sangat khawatir dia akan dituntut dan dimasukkan ke dalam penjara. Akhirnya dia memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya.
Rere mulai membuka mata. Tapi dia masih sangat lemah. "Mas Agung," panggil Rere pada laki-laki yang sejak tadi duduk di tepi ranjang.
"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Agung. Kemudian dia mengecup tangan Rere dengan lembut. "Jangan lakukan hal bodoh lagi. Aku benar-benar takut kehilangan kamu," ucap Agung sambil menitikkan air mata. Dia tidak tega melihat kekasihnya terbaring tak berdaya seperti ini. Sedangkan Rere tak punya tenaga untuk menjawab Agung.
Berhari-hari Agung menunggui Rere hingga sembuh. Leo menyetujui usulan Agung karena dia ingin adiknya cepat sembuh. Leo tahu yang dibutuhkan saat ini adalah perhatian Agung ketimbang dirinya. Rere merasa terharu karena dia memiliki kekasih yang begitu peduli padanya.
"Mas apa kamu tidak capek?" tanya Rere pada Agung.
"Rasa capekku hilang setiap kali mendengar kondisimu yang semakin membaik," jawab Agung.
Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Rere masuk. "Selamat pagi," sapa dokter itu ramah.
"Pagi, Dok," jawab Agung.
"Saya periksa dulu ya." Agung memberikan ruang pada dokter itu untuk memeriksa Rere.
Setelah selesai Agung pun menanyakan kapan Rere boleh pulang. "Sehari lagi ya, besok jika tekanan darahnya sudah membaik boleh pulang," jawab dokter itu.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Agung dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Di tempat lain, Kristal sedang sibuk bersama dengan anak kembarnya. Usia mereka sedang aktif bermain lari-larian. Kristal capek mengingatkan keduanya agar tidak lari-lari. Ibunya tentu takut kalau anaknya jatuh.
Ruli sejak tadi merasa bising mendengar omelan istrinya. "Sayang, stop biarkan mereka bermain tanpa dibatasi. Aku pusing mendengar suara kamu yang berisik itu," keluh Ruli pada istrinya.
"Ow, jadi kamu nggak mau denger aku ngomong lagi? Lebih suka kalau aku diem. Ya udah aku diemin kamu. Jangan coba ngajak bicara ya. Aku nggak mau ngomong sama kamu. Ingat diem aja, aku lagi mode ngambek. Jangan ngajak ngomong soalnya kamu yang suruh aku diam. Emangnya nggak boleh ya kalau ngingetin anak kecil? Kalau merasa berisik ya udah pindah aja, kenapa jadi aku yang disalahin, aku kan khawatir kalau mereka jatuh makanya aku ingetin mereka. Mas kamu denger nggak sih?"
"Denger," jawab Ruli singkat dari pada panjang urusan. Ruli mana bisa menyela ketika istrinya bicara tanpa jeda sejak tadi. Bahkan dia hanya bernafas sejenak lalu nerocos panjang lebar.
"Ditanya jawabnya cuma gitu doang. Aku tuh capek ngo...."
Ruli membungkam mulut istrinya dengan menempelkan bibirnya. Dia berhasil membuat istrinya terdiam. "Fokus mengawasi anak-anak saja tidak perlu menekan mereka," ucap Ruli dengan lembut seraya mengelus rambut panjang istrinya. Kristal pun mendadak jadi penurut.
Sedangkan Ruli menahan tawa melihat sikap istrinya yang berubah jinak. Tak lama kemudian Gwen menangis. Dia terjatuh Kristal pun segera menghampiri anaknya. "Duh, lututnya lecet kita ambil obat oles dulu ya, nanti kita obati lukanya," ucap Kristal pada buah hatinya.
Kristal mengobati luka Gwen dengan hati-hati. Meski pun Gwen menangis dan menolak saat akan diobati tapi Kristal membujuknya dengan halus.
"Gwen, jangan begini, nak. Nanti kalau lukanya tidak diobati malah tambah sakit. Gwen mau main bareng lagi kan sama adeknya?" tanya Kristal pada balita itu. Gwen merespon dengan menganggukkan kepalanya.
"Anak pintar. Tahan sebentar ya sayang. Mama tinggal tempel plester saja kok." Kristal berusaha setenang mungkin menghadapi Gwen.
"Nah, sudah selesai. Sekarang kita susul adek." Kristal menggendong Gwen dan berjalan ke meja makan.
"Duduk sini ya, kita makan sama-sama." Kristal menyuapi anak kembarnya dengan telaten. Ruli kagum melihat istrinya itu. Meski terlalu sering mengomel tapi dibalik sikapnya yang agak bar-bar dia adalah sosok yang lembut jika sedang berhadapan dengan anak-anaknya.
"Sayang, bagaimana kalau kita ajak anak-anak keluar? Apa kamu ada rencana mengajak mereka ke suatu tempat?" tawar Ruli.
__ADS_1
Kristal berpikir sejenak. "Bagaimana kalau ke tempat mama. Sudah lama kita tidak ke sana." Ruli mengangguk setuju.
Ruli pun menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah mertuanya. Setelah sampai, Glen dan Gwen berlari menghampiri nenek dan kakeknya.
Mama Berlian terkejut ketika melihat lutut Gwen diperban. "Gwen habis jatuh ya?" tebak mama Berlian. Gwen mengangguk dengan mata memerah seolah ingin menangis. Mama Berlian segera memeluk cucunya itu agar Gwen tidak menangis.
"Lain kali hati-hati ya," ucapnya sambil mengusap punggung Gwen beberapa kali.
Sedangkan Glen sedang bermain bersama kakeknya. Mereka bermain mobil-mobilan. Jaden yang biasanya gak banyak bicara begitu berbeda ketika dia sedang di samping cucunya.
Ruli pun merasa senang melihat kehangatan keluarganya. Mertuanya begitu baik padanya. Hanya seseorang yang dia rindukan, Amara. Sampai saat ini dia belum kembali semenjak dia dikirim ke luar negeri.
Jika melihat Gwen dan Glen, Ruli jadi mengingat masa kecilnya. Usia yang tak terlalu jauh dengan Amara membuat keduanya seperti sepasang teman sebaya.
"Mas, kamu ngelamun apa?" tanya Kristal ketika mengamati suaminya.
"Aku ingat masa kecilku bersama Amara saat aku melihat Glen dan Gwen," jawab Ruli. Matanya memancarkan kerinduannya pada sang adik.
"Hubungi saja lewat panggilan video," saran Kristal. Ruli baru kepikiran.
"Aku akan coba hubungi dia di sana." Ruli pun mengeluarkan ponselnya. Dia menekan kontak dengan nama Amara.
Cukup lama Ruli menelepon tapi tidak diangkat oleh adiknya. "Ke mana dia? Apa dia masih sibuk bekerja?" gumam Ruli merasa kesal karena teleponnya diabaikan oleh sang adik.
Kira-kira ke mana ya Amara?
__ADS_1