Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Laki-laki asing


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Kristal diantarkan oleh Ruli. "Hati-hati di jalan ya," pesan Kristal pada tunangannya. Ruli melambaikan tangan. Lalu Kristal membalasnya.


Dari kejauhan seseorang mengawasi interaksi mereka. "Setelah sekian lama akhirnya aku menemukanmu," gumam laki-laki itu sambil tersenyum menyeringai.


"Selamat pagi, Bu. Hari ini kita ada jadwal meeting di luar sekitar jam sepuluh nanti," lapor Rere.


"Apa kamu sudah siapkan semua keperluan meeting?" tanya Kristal pada asisten pribadinya. Rere mengangguk.


"Kerja bagus. Sebelum kita meeting kumpulkan karyawan karena saya akan memberikan briefing." Rere mengangguk paham.


Setelah semua karyawan berkumpul, Kristal memberikan briefing pada karyawannya. "Saya harap kalian bisa bekerja dengan baik." Kristal menutup pidatonya.


Usai briefing, Kristal kembali ke ruangannya. Dia terkejut saat melihat sang ayah sudah menunggu di ruangannya. "Papa, kapan papa datang? Aku tadi tidak melihat waktu papa lewat."


"Kamu tadi serius memberikan briefing sampai tidak melihat kehadiran papa."


"Ada apa, Pa? Apa ada sesuatu yang penting? Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau ke sini?"


"Tidak ada. Papa hanya ingin mampir dan melihat kinerjamu. Ternyata kamu sudah ada kemajuan sekarang. Good job sayang." Jaden merangkul putrinya.


"Terima kasih, Pa."


Jaden melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Papa harus pergi ke bandara. Hari ini papa berangkat ke luar kota selama beberapa hari."


"Aku akan merindukan papa." Kristal memeluk ayahnya dengan erat.


"Papa juga akan merindukanmu. Kabari papa jika mengalami kesulitan."


Setelah itu, Jaden keluar dari ruangan Kristal. Rere berjalan mendekat ke arah Kristal. "Sudah waktunya berangkat ke acara meeting dengan klien, Bu," lapor Rere.


"Oke. Saya ambil tas dulu."


Mobil yang dikendarai Kristal dan Rere tiba-tiba mengalami kebocoran ban saat di perjalanan menuju ke restoran. "Sepertinya kita punya masalah, Bu," lapor Rere.


Kristal buru-buru turun dan melihat ban mobilnya. "Sial, kenapa harus sekarang sih?" Kesal Kristal. Lalu dia menghentikan taksi tapi tidak ada taksi yang mau berhenti. Kemungkinan di dalam taksi tersebut ada penumpangnya.


Jika harus memesan taksi online dia tidak punya waktu menunggu. Lalu Kristal meminta Rere untuk menghubungi asisten kliennya. "Tolong bilang kalau kita akan terlambat datang. Jelaskan saja apa adanya agar mereka tidak berprasangka buruk pada kita." Rere mengangguk paham.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Baik Kristal maupun Rere tidak tahu pemilik mobil tersebut. Lalu seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan jas hitam dan kaca mata dengan warna yang sama turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu kenal dia?" Bisik Kristal pada Rere.


"Tidak, Bu."


"Sebaiknya kita waspada." Kristal memberikan peringatan pada Rere.


"Apa kamu perlu bantuan?" tanya laki-laki itu. Saat dia membuka kaca mata Kristal baru ingat kalau dia adalah salah satu pengunjung hotel.


"Anda yang waktu itu?" Tunjuk Kristal. Laki-laki itu mengangguk.


"Apa kamu perlu bantuan?" tanyanya sekali lagi.


"Ah, iya mobil kami mengalami kebocoran ban. Padahal kami harus ke tempat meeting sekarang," terang Kristal.


"Kalau kamu mau kamu bisa menumpang di mobil saya." Sebenarnya Kristal sedikit ragu tapi dia tidak punya pilihan. Dia takut kliennya akan menunggu lama.


"Rere kamu telepon bawahan kamu untuk mengambil mobil ini," perintah Kristal pada asisten pribadinya. Rere menuruti perintah atasannya itu.


Setelah itu, kedua wanita tersebut masuk ke dalam mobil laki-laki asing yang belum diketahui namanya itu. Kristal tidak menaruh curiga sama sekali.


Tak lama kemudian mereka sampai di lokasi. Kristal heran ketika laki-laki itu juga turun dari mobil. "Apa anda juga punya janji dengan seseorang di sini, Pak?" tanya Kristal heran.


Sesaat kemudian seorang perempuan yang Rere kenali menjelaskan kalau dia adalah Tuan Heru, orang yang akan berinvestasi di perusahaannya.


"Maafkan saya karena tidak menanyakan nama anda dari awal," ucap Kristal yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Saya senang berkenalan dengan anda tanpa sengaja seperti ini. Saya jadi tahu kalau anda adalah orang yang baik."


"Anda terlalu memuji, Pak. Apa kita bisa langsung mulai sekarang?" Heru mengangguk.


Usai menandatangani kerja sama dengan perusahaan Kristal, Heru pergi bersama sekretarisnya. Kristal dan Rere pulang secara terpisah karena mereka tidak mengendarai mobil yang sama.


"Bagaimana anda akan pulang, Bu?" tanya Rere yang khawatir terhadap atasannya.


"Kamu tenang saja aku bisa meminta Mas Ruli menjemputku."


"Baik, Bu. Saya pulang duluan kalau begitu," pamit Rere. Rere pun menunggu taksi di pinggir jalan. Sedangkan Kristal masih menunggu kedatangan kekasihnya di dalam restoran.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mobil Agung tiba-tiba berhenti di depannya.

__ADS_1


Tin tin


Agung membunyikan klakson. "Masuk Re!" Tentu saja Rere tidak akan menolak tawaran Agung.


"Pak Agung kenapa bisa ada di sini?" tanya Rere.


"Saya mau pulang. Justru saya yang mau tanya kenapa kamu ada di sana tadi?"


"Owh, saya sama Bu Kristal habis meeting dengan klien," jawab Rere.


"Kenapa tidak bawa mobil?"


"Tadinya bawa tapi tiba-tiba ban mobil kami bocor di jalan. Lalu ada orang baik yang mengantar kami sampai ke restoran itu. Eh taunya itu klien kami sendiri," terang Rere yang bercerita panjang lebar.


"Kamu memang gadis yang baik makanya selalu beruntung di setiap kesempatan," ucap Agung sambil mengelus kepala Rere. Jantung Rere seolah ingin loncat dari tempatnya. Sungguh dadanya berdesir mendapatkan perlakuan manis dari pujaan hatinya.


"Boleh peluk sekalian?" Batin Rere.


"Boleh kalau kamu mau," jawab Agung tiba-tiba. Seolah dia tahu isi hati Rere. Rere membuang muka dan menghadap ke luar jendela.


Rere lupa kalau dia sedang bersandiwara seolah tak mengenal Leo. Sayangnya rasa bahagia dekat dengan Agung membuatnya tidak fokus. Agung terkejut saat Rere memberi tahu alamatnya.


"Re kamu yakin tinggal di sini?" tanya Agung. Rere mengangguk begitu saja. Dia masih belum sadar kalau Agung mengetahui siapa yang tinggal di rumah itu.


Agung memicingkan mata. "Jadi kamu siapanya Pak Leo?"


Deg


"Mampus, aku lupa kalau aku pura-pura baru mengenal kakakku," batin Rere yang tengah risau. Agung mendekat ke arah Rere. Kini wajahnya sangat dekat dengan gadis itu hingga Rere dapat merasakan hembusan nafas hangatnya.


"Apa kamu berbohong padaku selama ini?" Tuduh Agung. Rere sudah berkeringat dingin.


"Saya, saya tidak bermaksud..."


Cup


Agung mencium Rere tanpa aba-aba. Rere yang awalnya biasa saja kini mulai mengikuti permainan Agung. Laki-laki itu sempat menggigit bibir bawahnya hingga membuat Rere membuka mulutnya. Agung dengan leluasa mengeksplore bagian dalam mulut gadis itu.


Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil tersebut.

__ADS_1


__ADS_2