
Mama Lira berselisih paham dengan Grace. Saat ini hanya ada mereka berdua. Amara pergi bekerja seperti biasa.
"Grace sebaiknya kamu segera keluar dari sini!" Usir Mama Lira.
"Tapi Mas Ruli belum mengizinkan aku keluar, Ma," bohongnya.
"Jangan berbohong. Kedatangan kamu membuat menantuku pergi dari rumah. Sebaiknya kamu sadar diri. Cobalah berada di posisi Kristal."
"Aku ingin kembali pada Mas Ruli. Lagipula kami punya Siena."
"Sadar Grace Siena bukan anak Ruli." Ucapan mama Lira membuat Siena tersinggung. Dia pun berlari keluar rumah. Di saat yang bersamaan mobil Ruli berhenti saat melihat Siena berlari keluar rumah. Ruli turun dari mobil dan segera mengejar Siena. Tapi dari arah yang berlawanan sebuah mobil melaju dengan kencang.
Kristal yang menyadari mobil itu akan menabrak Siena segera menghadang dengan mobil Ruli. Tabrakan pun tak terelakkan. Mobil Ruli yang dikendarai Kristal terseret lumayan jauh. Ruli berhasil menyelamatkan Siena tapi dia tidak tahu bagaimana keadaan istrinya sekarang.
Ruli menyerahkan Siena pada ibunya. Dia menyusul Kristal yang terhimpit di antara badan mobil. Ruli bingung bagaimana cara menyelamatkan istrinya. Dia meraung-raung menyerukan namanya. Sementara Kristal sudah tak sadarkan diri. Darah keluar dari kepalanya.
Mama Lira syok hingga dia pingsan. Sementara Grace menelepon Amara karena dia tidak tahu menghubungi siapa lagi.
Lalu warga berbondong-bondong untuk membantu evakuasi. Tak lama kemudian petugas polisi datang bersama ambulans. Ruli menguatkan dirinya ketika melihat tubuh istrinya tak berdaya. Dia ikut masuk ke dalam mobil ambulans.
Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit Ruli terus menggenggam tangan istrinya. "Aku mohon bertahanlah sayang." Ruli tak berhenti meneteskan air mata. Dia berharap istrinya itu baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit Kristal terus mendapatkan perawatan. Ruli hanya bisa menunggu di luar. Dia duduk sambil berdoa supaya iatrinya bisa selamat dari maut.
Tak lama kemudian, keluarga Kristal datang. Mereka mendapatkan kabar dari Amara. Jaden yang baru datang melayangkan sebuah pukulan di wajah menantunya. "Lihat apa yang kamu perbuat hingga membuat putriku celaka." Jaden sungguh geram. Saat ini emosinya sedang tidak terkontrol.
Beberapa waktu lalu Alex menceritakan tentang masa lalu Ruli pada ayahnya. Jaden tidak terima anaknya dibohongi oleh Ruli. Dalam sehari Ruli telah mendapatkan banyak bekas tinju di wajahnya. Tapi dia terima karena akar dari permasalahan ruang tangganya adalah karena sikapnya yang tidak tegas.
Dari awal dia sudah salah membela mantan istrinya yang menyebabkan Kristal menjadi merajuk. Lalu siapa sangka kejadian hari ini malah membuat istrinya di ambang kematian. Ruli tidak tahan dengan hidupnya. Seharusnya dia tidak membawa Kristal jadi tidak akan ada kejadian buruk yang menimpanya.
Alex menghalangi ayahnya untuk memukul Ruli untuk kedua kalinya karena hari ini dia sudah lebih dulu menghajar adik iparnya itu. Mereka tak datang bersama Berlian. Sang ibu pingsan setelah mendengar anak perempuannya kecelakaan.
__ADS_1
Sesaat kemudian dokter yang menangani Kristal keluar. "Keluarga pasien?" Ketiga laki-laki itu mengangguk secara bersamaan.
"Korban mengalami benturan yang keras di kepalanya kami akan melakukan operasi besar untuk menyelamatkan nyawanya," terang Dokter tersebut.
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya, Dok." Jaden memberikan keputusan.
"Tapi saya katakan resikonya di awal jika operasi kali ini gagal pasien akan mengalami kelumpuhan total."
Ucapan dokter itu membuat ketiga laki-laki yang menyayangi Kristal itu menjadi terpukul.
Operasi pun berjalan selama kurang lebih empat jam lamanya. Di saat lampu di depan rumah operasi mati, Jaden, Alex dan Ruli menunggu dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Operasinya berjalan lancar. Tapi kami belum bisa memastikan kondisi pasien. Kamu akan terus memantau perkembangannya setiap hari."
"Terima kasih banyak, Dok."
"Malang sekali nasibmu, Nak." Jaden tak kuasa menahan tangis. Laki-laki yang selama ini dingin di depan siapa pun tak berhenti menangis melihat kondisi putrinya yang terbaring lemah dengan perban di kepalanya.
Begitu juga dengan Alex, dia juga sempat meneteskan air mata melihat adik kandungnya tak bergerak sama sekali.
Bagaimana dengan Ruli? Jangan ditanya lagi. Sebagai seorang suami tentu hatinya hancur. Keadaannya kacau bahkan darah yang masih menempel di tubuhnya dibiarkan begitu saja karena sibuk memantau perkembangan sang istri.
"Kamu pulanglah, biar papa yang jaga." Perintah Jaden pada Ruli dengan nada dingin. Dia masih jengkel dengan menantunya itu.
"Tidak, Pa. Aku suaminya jadi biarkan aku saja yang menjaganya."
Jaden menarik kerah kemeja yang dikenakan Ruli. "Kamu sudah menyia-nyiakan putriku. Untuk apa menemaninya?"
Ruli sadar ayah mertuanya itu sedang marah dengannya. "Biarkan aku merawat istriku untuk menebus semua kesalahanku Pa."
__ADS_1
Di saat seperti ini Alex menjadi penengah. "Sebaiknya kita pulang, Pa. Mama butuh papa di rumah. Besok pagi kita kembali lagi ke sini," bujuk Alex pada papanya.
"Baiklah, ingat jangan meninggalkan putriku barang sedetik pun." Jaden memberikan peringatan. Ruli mengangguk paham.
Setelah itu, Alex membawa Jaden pulang ke rumah. Di rumah itu Berlian sedang menunggu kedatangan suaminya. "Bagaimana keadaan putriku?" tanya Berlian. Matanya sudah bengkak karena sedari tadi tak berhenti meneteskan air matanya.
"Dia baru saja dioperasi, Ma. Dokter bilang kondisinya sudah membaik. Kami menyuruh kita pulang karena Kristal tidak boleh diganggu pasca operasi," bohong Jaden. Dia tak ingin istrinya terlalu khawatir hingga membuat badannya sakit.
Sementara itu di rumah Ruli Siena terus menangis. Dia menyalahkan diri karena menjadi penyebab kecelakaan Kristal. "Ma, antarkan aku ke rumah sakit. Aku mau menjenguk mama Kristal."
"Siena. Kenapa kamu memanggil dia dengan sebutan mama?" Bentak Grace tak terima ada orang lain yang dianggap sebagai ibu oleh anak kandungnya.
"Grace kamu tidak perlu membentak Siena," tegur mama Lira.
"Siena ayo kita pergi dari sini," ajak Grace sambil manarik paksa tangan mungil Siena.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau," tolak Siena terang-terangan.
"Siena nenek sudah mengusir kita jadi untuk apa kita tinggal di sini." Mama Lira tak menyangka pedas sekali mulut mantan menantunya itu.
"Jaga ucapan kamu Grace. Aku tidak mengusirmu tapi aku ingin kamu sadar kalau kehadiranmu sudah menjadi benalu dalam rumah tangga Ruli. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik. Jangan meracuni otak anak kecil yang masih suci."
Grace menarik ujung bibirnya. "Jangan terus menyalahkan aku, Ma. Mas Ruli sendiri yang membawa aku kembali ke sini."
Mama Lira malas berdebat dengan Grace sehingga dia memilih untuk meninggalkan wanita tak tahu diri itu. Dia akan menyusul ke rumah sakit.
***
Mampir ke sini ya gais novel teman aku
__ADS_1