Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kehangatan keluarga


__ADS_3

Malam ini semua orang mengantar kepulangan Kristal dari rumah sakit. Sedangkan baby Gwen dan Glen nenek-neneknya yang bawa. Mama Berlian bersama baby Gwen sedangkan mama Lira bersama baby Glen.


Alex dan Sandra tengah menunggu kepulangan adiknya di rumah tamu yang ada di rumah Ruli. Mereka masuk karena dibukakan pintu oleh asisten rumah tangga yang baru.


Ya, Ruli meminta Gilang untuk mencarikan asisten rumah tangga agar Kristal bisa fokus mengurus bayinya tanpa mengerjakan pekerjaan rumah. Begitu pun dengan ibunya. Sesekali mama Lira bisa membantu menantunya itu untuk menjaga bayi kembar Kristal.


"Bi, Siti tolong siapkan minuman untuk semua orang," perintah Amara pada wanita paruh baya itu.


"Baik, Non."


"Wah keluarga kita makin rame ya kalau berkumpul begini." Kristal merasa bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.


"Selamat menjadi orang tua baru, Dek." Alex mencium kening adiknya. Dia merasa terharu Kristal yang sangat manja itu akhirnya bisa menjadi seorang ibu, anaknya kembar pula.


"Bang, apaan sih? Malu tahu aku, aku sudah ibu-ibu lho." Semua orang yang mendengar ocehan Kristal menjadi terkekeh. Kristal tidak merasa malu menyebut dirinya ibu-ibu. Ya, karena dia sudah lama menginginkan gelar itu.


Baby Gwen dan Baby Glen tidak rewel meski orang-orang bergantian mengajaknya. Ketika salah satu bayi itu merasa haus dan mengantuk, dia pun menangis. "Anak mama kenapa?" Kristal menimang anaknya.


"Sebaiknya kamu bawa dia masuk ke dalam. Mama kira dia haus dan mengantuk," kata mama Lira.

__ADS_1


"Baik, Ma." Kristal pun berjalan dengan perlahan menuju ke kamarnya. Di sana dia memberikan ASI pada bayinya.


"Sudah saatnya kita pulang," seru Jaden. Lalu anggota keluarga yang tidak tinggal di rumah Ruli pun berpamitan satu persatu.


"Tidak usah panggilkan Kristal, salam aja buat dia," kata Sandra.


"Baik, Kak. Terima kasih sudah mampir." Sandra mengangguk.


Setelah semua orang pulang ke rumah mereka masing-masing, Ruli membawa bayinya yang lain menyusul sang ibu di kamarnya. Tak disangka Kristal ketiduran ketika memberikan ASI sambil tidur miring.


Tanpa disengaja dia melihat buah dada istrinya terekspose. "Sayang, kamu sengaja ingin menggodaku, ya?" Gumam Ruli dengan pelan ketika bagian inti tubuhnya terasa mengeras.


Kristal yang tak sengaja membuka atasannya itu pun segara menurunkan bajunya. "Maaf, Mas." Kristal tersenyum lebar.


Setelah itu Ruli duduk di tepi ranjang. "Apa kau tidak merindukanku?" Ruli mengelus rambut panjang istrinya itu.


"Rindu? Bukankah kita selalu bersama?" tanya Kristal polos.


"Tapi aku rindu dengan sentuhanmu." Ruli mengusap bibir Kristal yang merah itu dengan ibu jari. Kristal jadi mengerti tingkah suaminya.

__ADS_1


"Ingat, Mas. Aku masih nifas tunggu sampai empat puluh hari setelah nifasku selesai," ucap kristal sambil menahan tawa.


"Aku hanya ingin berciuman denganmu apa tidak boleh?" tanya Ruli.


"Boleh lah. Masa aku melarang suamiku menciumku?" Akhirnya kristal mencium suaminya lebih dulu.


"Apa ini? Mana berasa kalau hanya seperti ini?" Ruli mengembalikan ciuman istrinya.


Kristal memukul dada bidang suaminya. "Dasar curang," cibir Kristal, Ruli hanya terkekeh geli.


Ruli mengikis jarak antara dia dan dirinya Setelah itu dia menempelkan bibirnya perlahan ke bibir Kristal. Saat ini Ruli harus berpuasa terlebih dahulu. Hanya ciuman yang bisa membuat gairah kelakiannya itu terobati.


...***...


Maaf malam ini bab tidak terlalu panjang, othor juga manusia biasa yang bisa merasakan lelah setelah seharian bekerja.


Yuk baca ini dulu, novel yang bikin kamu senang membacanya


__ADS_1


__ADS_2