
...Akan ada banyak lika-liku yang kau temukan saat berkomitmen terhadap sesuatu. Pertahankan dan jagalah selalu keyakinan itu....
...***...
"Kristal tidak seperti yang kamu tuduhkan," sahut mama Berlian tidak terima. Ruli terkejut ketika melihat kedatangan mama mertuanya.
Berlian mendekat ke arah Ruli. "Kristal sangat kehilangan anaknya. Dia butuh kamu Ruli," bujuk Berlian.
"Bukankah sudah ada orang lain yang membantunya." Berlian memutar ingatannya kembali.
"Jadi kamu cemburu dengan Agung?" tebak mama Berlian. Ruli tak menjawab.
"Waktu itu mama yang memberikan perintah pada Agung untuk mengangkat Kristal. Ruli mama mohon jangan tinggalkan anak mama. Dia begitu mencintai kamu. Sekarang dia sedang hancur setelah kehilangan anaknya. Apa kamu mau menambah kesedihan Kristal dengan menjadikan dia janda?"
Ruli mencerna omongan ibu mertuanya. Sejenak dia berpikir dan menurunkan egonya. "Maafkan aku, Ma. Aku sudah egois. Aku ingin menjemput istriku, Ma. Aku tidak mau kehilangan dia," ucapan Ruli membuat mama Lira dan mama Berlian sama-sama merasa lega.
"Terima kasih banyak, Nak," ucap mama Berlian.
Ruli menjemput Kristal ke rumah mertuanya. Sebenarnya dia sangat malu bertemu dengan Kristal. Namun, dia mencoba mengumpulkan keberanian agar bisa menghadapi istrinya.
"Pa," sapa Ruli ketika melihat Jaden.
Jaden ingin memarahi Ruli tapi Jaden merasa de Javu. Dulu dirinya juga sempat melakukan hal yang sama pada Berlian dengan alasan yang sama pula. "Masuklah, Kristal sudah menunggumu." Ruli mengangguk paham.
Berlian mengusap punggung suaminya. "Terima kasih sudah menahan diri untuk tidak marah. Bukankah dia mengingatkanmu di masa lalu?" Sindir Belian sambil mengulas senyum. Jaden menjadi kikuk.
Sementara itu Ruli mencoba membuka pintu kamar istrinya. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Ruli menarik nafas dalam lalu menghembuskannya sebelum bertatap muka dengan istrinya.
Saat itu, Kristal sedang tertidur. Ruli duduk di pinggir ranjang. Dia meraih tangan Kristal dan menggenggamnya. Merasa ada pergerakan, Kristal jadi terusik. "Mas." Kristal menatap suaminya dengan nanar.
Ruli memeluk istrinya. "Maafkan aku sayang. Aku telah mengabaikanmu."
Kristal mwmbakas pelukannya. "Tidak, Mas. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku telah membuat anak kita pergi," ucap Kristal sambil menangis sesenggukan.
Ruli mengusap punggung istrinya agar dia lebih tenang. "Ikhlaskan dia sayang. Kita bisa buat lagi nanti," bisik Ruli.
Kristal mengurai pelukannya. "Dasar mesum," cibirnya sambil memukul dada bidang suaminya.
Berlian dan Jaden yang menyaksikan dari ambang pintu merasa lega anak dan menantunya sudah berbaikan.
__ADS_1
"Malam ini bermalamlah di sini dulu," seru Jaden. Ruli dan Kristal menoleh ke sumber suara. "Baik, Pa," jawab Ruli.
Setelah itu Jaden mengajak istrinya keluar. "Ayo sayang, giliran kita yang bermesraan," goda Jaden pada istrinya.
Berlian memukul dada bidang suaminya. "Dasar mesum. Sudah kakek-kakek juga," ledek Berlian.
"Kamu menghinaku, sayang. Apa perlu aku buktikan kalau aku bisa buat anak lagi?"
"Papa."
Ruli pun naik ke atas ranjang. Kristal meminta suaminya tidur sambil memeluknya. "Sudah berapa hari kita tidak tidur bersama?" tanya Kristal sambil mendongak.
"Hampir seminggu."
"Tidak begitu lama, tapi aku merasa kita sudah berpisah setahun lamanya. Berjanjilah padaku untuk tidak mengabaikan aku lagi, Mas. Aku sudah cukup hancur setelah kehilangan calon anak kita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu."
Kristal kembali meneteskan air mata. Ruli menghapus air mata istrinya yang jatuh dengan ibu jarinya lembut. "Aku janji." Setelah itu dia mencium kening Kristal cukup lama.
"Tidurlah sayang. Aku akan menemanimu. Malam ini aku tidak akan menyentuhmu sampai kau sembuh." Kristal mengangguk. Dia menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya. Rasanya sangat hangat dan nyaman.
Keesokan harinya Ruli mengajak istrinya kembali ke rumahnya. "Kami pamit, Ma," ucap Ruli. Mereka berpamitan pada kedua orang tua Kristal.
"Berjanjilah agar menjaga putriku ini," pesan mama Berlian pada menantunya. Ruli menjawabnya dengan senyum.
"Jangan membuatku ingin menahanmu di sini." Jaden mencolek hidung mancung putrinya. Kristal terkekeh. "Ikutlah suamimu."
Ruli menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah itu. "Apa kamu ingin mampir ke suatu tempat sayang?" tanya Ruli pada istrinya.
"Tidak, Mas. Kita langsung pulang saja." Ruli mengangguk paham.
Mobil Ruli langsung menuju ke kediamannya. Sesampainya di sana, mama Lira dan Amara yang mendengar suara mobil Ruli langsung menyambut kedatangannya.
"Selamat kembali ke rumah ini, sayang." Mama Lira sangat merindukan menantunya itu.
"Terima kasih, Ma."
"Mari kak aku bantu bawakan barangnya," kata Amara.
,.
__ADS_1
Saat siang hari mereka kedatangan Gilang dan Meilani. "Di mana Kristal?" Tanya Gilang pada Amara.
"Biar aku panggilkan dulu, Kak."
Tak lama kemudian Ruli dan Kristal turun dari lantai atas. "Kristal," Meilani langsung berhambur ke pelukan sahabatnya. Kristal membalas pelukan Meilani.
Meliani mengurai pelukannya perlahan. "Maaf aku baru bisa menjengukmu. Aku turut berduka atas musibah yang menimpa kalian."
"Terima kasih, Meilani."
"Ayo duduk!" Ajak Ruli.
"Apa kamu sudah baikan? Aku juga baru sempat menjengukmu," kata Gilang yang merasa tidak enak.
"Aku menyuruhnya untuk menyelidiki masalah yang menimpa restoranku sayang."
"Alhamdulillah dalangnya sudah tertangkap."
"Ya, awalnya kamu mengira itu kerjaan Yanti mengingat dulu dia pernah menggunakan sosial media untuk menjatuhkanmu. Tapi ternyata bukan dia," sahut Meilani.
"Lupakan! Semua masalah sudah clear jadi tidak ada yang perlu dicemaskan lagi." Ruli mengangguk setuju dengan ucapan Gilang.
Setelah sembuh dan bisa beraktivitas kembali, Kristal bekerja lagi di kantor. "Selamat datang kembali di kantor kita, Bu."
Kristal terkejut saat Rere dan karyawan hotel yang bekerja di sana mengadakan acara penyambutan untuk dirinya. Tak lupa Rere memberikan sebuah buket bunga yang cantik untuk atasannya itu. "Terima kasih, Re," ucap Kristal sambil menerima buket pemberian Rere.
Setelah itu Rere meminta semua pegawai kembali bekerja. "Terima kasih sudah menghandle hotel selama saya sakit."
"Tidak masalah, Bu. Saya yang harus berterima kasih karena ibu sudah memberikan kepercayaan penuh pada saya."
Kristal tersenyum. Tidak salah dia mempekerjakan Rere sebagai asisten pribadinya. Kristal menuju ke ruangannya. Dia merindukan pekerjaannya. "Mari kita kembali bekerja."
Saat jam pulang kantor, Ruli sudah menunggu istrinya di area parkir. Dia melambaikan tangan pada Kristal saat melihat istrinya itu berjalan dari kejauhan. Kristal tersenyum lebar ketika melihat suaminya berada di sana.
"Sudah lama?" tanya Kristal. Ruli menggelengkan kepalanya.
"Mas, apa aku boleh main ke rumah kak Sandra? Aku merindukan Zavier."
"Tentu saja boleh, sayang." Ruli mengacak rambut istrinya itu dengan sayang. Mereka seperti pasangan muda-mudi yang belum menikah.
__ADS_1
Mampir ya ke novel teman aku