
Pagi ini Ruli bangun lebih dulu dari istrinya yang masih tertidur lelap. Ruli sangat bahagia mengingat percintaan semalam. Ingin sekali dia mengulang kegiatan semalam. Jujur saja sudah lama dia tidak berhubungan badan dengan istrinya itu.
Ruli memilih diam sambil memandangi wajah cantik istrinya. Menunggu istrinya itu membuka mata dengan sendirinya. Tapi tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari luar kamar.
Tok tok tok
"Mas Ruli, Kak Kristal sudah bangun apa belum? Disuruh mama sarapan sekarang." Amara memanggil sambil berteriak.
Ruli mendengus kesal mendengar suara berisik adiknya. Karena ulah Amara, Kristal jadi terbangun. Perlahan Kristal membuka matanya.
"Mas Ruli, Kak Kristal udah bangun belum sih kok nggak ada suaranya?" Lagi-lagi suara berisik Amara. Dia masih menunggu jawaban Ruli.
"Kamu sama mama sarapan duluan aja, nanti mas nyusul," jawab Ruli tanpa membuka pintu.
Amara sepertinya sudah turun. Ruli dan Kristal saling bertatapan. Ruli melihat rona merah terpancar di wajah cantik istrinya. "Selamat pagi istriku," sapa Ruli seraya memberikan kecupan singkat di bibir merah Kristal.
Mendapatkan sambutan pagi yang begitu manis tentu saja wajah Kristal makin merona. "Selamat pagi suamiku," balas Kristal sambil tersenyum lebar.
"Apa kamu capek setelah semalam berolahraga?" Goda Ruli.
"Mas..." Pekik Kristal menahan malu. Dia mencubit kecil perut suaminya.
"Kode nih?" Ruli menaik turunkan alisnya.
"Dah, ah ayo bangun, nggak enak sama mama." Ruli tertawa melihat reaksi istrinya. Tiba-tiba Ruli memeluk Kristal dengan posesif. "Aku mau lagi," bisiknya di telinga Kristal.
"Udah siang, Mas. Masa mama udah bangun menantunya belum?"
"Kenapa nggak enak sama mama. Mama pasti paham kok apa yang kita lakukan semalam. Bukannya mama cepat-cepat ingin dapat cucu?"
Kristal tak menghiraukan godaan suaminya. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Hampir satu jam Kristal berada di dalam. "Sayang kamu tidur ya di dalam?"
"Hemm, aku masih ngantuk," jawabnya dengan santai. Kristal sedang berbadan di air busa yang hangat sehingga membuat badannya rileks.
"Hati-hati nanti masuk angin." Ruli memberi peringatan.
Tak lama kemudian Kristal memakai handuk kimononya. "Giliran kamu, Mas." Kristal mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut. Ruli mengambil alih hairdryer yang ada di tangan Kristal. "Aku bantu ngeringin rambutnya." Kristal mengangguk.
Dirasa kering, Kristal pun meminta Ruli berhenti. "Udah cukup, Mas. Sekarang giliran kamu yang mandi."
__ADS_1
Ruli menggendong Kristal. "Eh, eh mau ngapain?" tanya Kristal yang terkejut.
"Mandi lagi." Ruli tersenyum menyeringai. Dia memaksa istrinya mandi bersama. Tentu saja tidak sekedar mandi biasa.
"Ah, aku bisa telat ke kantor hari ini," protes Kristal. Ruli hanya tertawa kecil.
Seusai mandi Kristal dan Ruli turun ke bawah. Dia tak sempat mengeringkan rambutnya karena sudah telat ke kantor. "Mas aku langsung berangkat ya," pamit Kristal.
"Lho nggak sarapan dulu, Nak?" tanya Mama Lira.
"Udah telat, Ma." Kristal meraih tangan ibu mertuanya itu lalu menciumnya.
"Jangan lupa pulang kantor langsung ke tempat bang Alex," teriak Ruli.
"Memangnya ada acara apa di rumah kakak ipar kamu?"
"Syukuran anak keduanya, Ma. Nanti kita juga diundang ke sana. Ajak Amara juga ya."
"Wah mama belum siapin kado buat nanti malam."
"Kebetulan Kristal juga belum punya Karo, Ma. Bagaimana kalau mama pergi bareng aku aja. Kristal sedang sibuk. Jadi tidak sempat belanja kado untuk keponakannya." Mama Lira mengangguk setuju.
"Saya sedikit mual," jawab Kristal.
"Apakah anda sedang morning sickness Bu?" tebak Rere.
"Ah, mana mungkin jadi secepat itu Re. Aku baru membuatnya semalam." Ucapan Kristal membuat jiwa jomblo Rere meronta-ronta.
Kristal melihat wajah Rere seperti kepanasan. "Kamu kenapa? Sakit?" tanya Kristal tanpa dosa.
"Tidak, Bu. Saya akan kembali ke meja saya." Rere pun balik badan langsung keluar dari ruangan Kristal.
"Ih, gila ya Bu Kristal cerita masalah gituan, aku kan belum menikah," gerutu Rere.
Kristal semakin merasakan mual di perutnya dia pun pergi ke toilet. "Gara-gara tadi pagi mandi dua kali jadi masuk angin kaya gini kan."
Pada saat jam istirahat, Kristal meminta Rere membelikan obat masuk angin. "Anda yakin hanya masuk angin biasa Bu? Apa perlu saya belikan tespek sekalian?"
Kristal menghela nafas. "Saya tidak sedang hamil Re. Orang baru dua hari yang lalu saya selesai menstruasi mana mungkin saya hamil," elak Kristal.
__ADS_1
"Saya hanya mengira-ngira Bu."
"Saya juga berharap cepat hamil lagi," ucap Kristal dengan wajah sendu.
"Saya keluar sebentar, Bu," pamit Rere. Tak lama kemudian Rere kembali. Selain membawa obat dia juga membawa sekotak makanan. "Buat ibu." Rere menyodorkan sebuah kotak sterofoam.
"Isinya apa?" tanya Kristal.
"Buka saja, Bu." Kristal pun menuruti permintaan Rere. Dia merasa tidak enak karena sudah dibelikan makanan.
Surprise...
Isinya rujak buah lengkap dengan bumbunya. Kristal tertawa lepas. "Kamu ini ada-ada saja ya Re. Sudah dibilangin cuma masuk angin biasa."
"Tapi ibu kan belum tes urine. Ini saya belikan tespek Bu." Rere menyodorkan eua buah tespek kepada Kristal.
Kristal mengambil alat tes kehamilan itu. Dia tak mau membuat Rere kecewa. "Nanti saya pakai. Terima kasih."
"Tapi beneran dipakai ya Bu."
"Ih, saya yang mau hamil kok kamu yang antusias gitu? Mana obat masuk anginnya? Perut saya mual dari tadi."
"Saya tari tanya saya apotekernya obat ini untuk meredakan mual muntah ketika sedang hamil."
Kristal melotot tak percaya. "Rere...." Teriak Kristal saking kesalnya.
Dari pagi dia belum makan lebih-lebih dia mandi dua kali pagi ini membuat tubuh Kristal mengalami masuk angin. Tapi asistennya itu menyebalkan sekali. Disuruh beli obat masuk angin malah dia beli obat pereda mual pad ibu hamil. Siapa yang tidak kesal coba.
Kristal mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan. Sesekali dia berhenti ketika kepalanya pusing. "Ayo kristal. Sebentar lagi sampai di tempat Bang Alex." Kristal menyemangati dirinya sendiri.
Sementara itu, Gilang dna Meilani diminta untuk datang ke tempat Alex untuk mengirim bahan catering untuk nanti malam. "Pastikan semuanya tidak ada yang ketinggalan," perintah Gilang pada bawahannya yang sedang menurunkan bahan makanan dari dalam mobil fan.
Meilani merasa kagum pada calon imamnya itu. Tiba-tiba Kristal berlari melewatinya. Dia menahan mulutnya lalu berlari ke toilet. Saat sampai di depan kamar mandi ternyata ada yang pakai. Kristal pun bingung. Dia pun memuntahkan isi perutnya di kantong plastik yang tergeletak di meja begitu saja.
Meilani menghampiri Kristal. "Kamu kenapa?" tanya Meilani. "Aku mual, kepalaku pusing," jawab Kristal.
"Mungkinkah...."
Kristal kembali bola matanya. Semua orang yang mengetahui dirinya merasakan mual mengira dia hamil muda.
__ADS_1