
Sudah hampir setahun Kristal menunggu rahimnya tumbuh seorang anak. Tapi sampai detik ini tes urin yang dia lakukan selalu negatif. Kali ini Kristal ingin memastikannya lagi. "Bismillah semoga kali ini aku beneran hamil," gumamnya di dalam kamar mandi.
Dia pun mencelupkan alat tes kehamilan yang dia pegang ke air seni yang sudah ditampungnya. Jantung Kristal berpacu lebih cepat dari biasanya. Kristal tak sabar menunggu hasilnya keluar.
5 menit kemudian
Wajah Kristal berseri-seri. Dia menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya berkaca-kaca karena alat tes kehamilan yang dia gunakan menunjukkan dua garis. Sudah dapat dipastikan kalau dia hamil.
"Alhamdulillah, dia sudah tumbuh di rahimku," ucap Kristal seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Kristal berdiri di depan cermin lalu mengangkat bajunya untuk melihat perutnya. Sebentar lagi perutnya yang rata itu akan membuncit karena ada bayi yang berkembang di sana. Kristal tidak sabar melihat badannya yang semakin menggemuk.
Tok tok tok
"Sayang, kamu ngapain aja di dalam? Kenapa lama sekali? Aku ingin buang air," teriak Ruli dari luar kamar mandi.
"Udah selesai kok, Mas." Tak lama kemudian Kristal membuka pintu.
Ruli langsung tahu kalau Kristal habis menangis. Tapi bukan menangis karena sedih. "Kamu habis nangis ya?" tanyanya dengan lembut. Kristal menggeleng.
"Ceritakan kalau ada masalah!"
__ADS_1
Kristal tersenyum melihat kekhawatiran yang ditunjukkan oleh suaminya. "Aku menangis bukan karena sedih tapi aku bahagia hari ini. Sangat bahagia," tegas Kristal.
Ruli mengerutkan keningnya. Kristal tiba-tiba memeluk suaminya. "Mas tahu tidak apa yang membuat aku bahagia hari ini?" tanya Kristal.
"Apa?" Ruli malah bertanya balik.
"Coba mas tebak dulu!" Ruli terdiam sesaat untuk berpikir.
"Mas benar-benar tidak tahu apa yang membuat kamu bahagia hari ini sayang."
Kristal mengulas senyum kembali. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Ruli untuk membisikkan apa yang membuat Kristal bahagia. "Sebentar lagi aku bakal jadi calon ibu, Mas."
Ruli mematung di tempat. Dia menajamkan telinganya. "Apa kamu bisa ulangi sekali lagi!" Pintanya untuk memastikan kabar bahagia yang dia terima bukanlah mimpi.
Ruli mengambil tespek itu. Benar istrinya sedang hamil. Sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua. "Alhamdulillah sayang," ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.
"Apa kamu bahagia Mas?" Pertanyaan yang sebenarnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi pada suaminya.
"Sangat bahagia. Akhirnya setelah hampir setahun kita bisa memiliki keturunan. Aku sempat khawatir karena kamu habis keguguran waktu itu."
RuIi menghujani istrinya dengan banyak ciuman di wajahnya. Kristal menatap suaminya dengan air mata yang membasahi pipinya. Ruli menangis karena haru.
__ADS_1
"Kali ini kita akan menjaganya dengan baik bukan?" Ruli mengangguk setuju. Kristal takut kejadian yang dulu saat dia keguguran terulang kembali. Kristal merasa sedih dan takut tidka bisa menjaga anaknya dengan baik.
Ruli mengangguk dengan semangat. "Pasti sayang. Kita pasti bisa menjaganya dengan baik."
Setelah itu Ruli turun untuk mencium perut istrinya. "Hai sayang, apa kamu mendengar suara papa?"
Kristal yang melihat suaminya berbicara pada calon bayi mereka merasa terharu. Lalu dia kembali menegakkan tubuhnya. "Terima kasih sayang." Ruli mencium kening Kristal agak lama.
Setelah itu dia membawa istrinya untuk duduk di tepi ranjang.
"Nanti kita ke dokter ya. Kita periksa kehamilan kamu ini."
"Tapi hari ini aku ada meeting penting Mas."
"Suruh Rere mengatur ulang jadwalnya." Kristal hanya bisa menurut apa yang diperintahkan oleh suaminya.
Setelah itu mereka bersiap-siap lalu Ruli mengajak istrinya turun untuk sarapan. Dia menggeser kursi untuk istrinya. "Mama hari ini masak apa?" Tanya Ruli.
"Mama masak bubur ayam untuk sarapan kita hari ini."
"Bagaimana sayang apa kamu menyukainya?"
__ADS_1
Coba tebak apa Kristal menyukainya?