Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Amara diculik


__ADS_3

Amara pulang agak terlambat. Meskipun week end dia tetap bekerja karena dia mengambil libur di hari lain. Gadis itu juga harus mengambil mobil yang ada di bengkel. Kebetulan bengkel tersebut buka sampai malam. Jadi dia mengambil mobilnya usai pulang kerja.


Hari ini hujan turun begitu lebat, Amara sulit menemukan taksi saat ini. Padahal malam semakin larut. Sebagai seorang gadis lajang tentu saja dia merasa was-was kalau ada orang asing yang mengganggunya. Amara hendak menghubungi Ruli akan tetapi handphonenya tak memiliki daya.


"Hish, kenapa pakai mati segala sih ni handphone," kesal Amara.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Amara mengerutkan keningnya karena tidak mengenal mobil tersebut. Lalu dia orang berpakaian hitam memaksa Amara masuk ke dalam mobil.


Dari arah yang berlawanan, Ruli melihat adiknya masuk ke dalam mobil yang tak dikenalinya. Saat itu dia habis mengantarkan Kristal pulang lalu dia menyempatkan diri untuk menjemput Amara. Tidak disangka dua orang asing menculiknya.


Ruli mengikuti mobil itu, tapi karena hujan begitu lebat dia kehilangan jejak. Ruli sangat kesal. Dia tidak bisa melindungi adiknya. Dia berpikir kemungkinan ini adalah kerjaan ayahnya.


Setelah itu, dia mendatangi rumah Gilang. "Ada apa malam-malam ke sini? Apa ada sesuatu yang mendesak?" tanya Gilang heran. Tidak biasanya sepupunya itu bertamu ke rumahnya.


"Ayahku kembali. Tadi aku lihat Amara dibawa oleh sekelompok orang tak dikenal. Aku pikir ini ada hubungannya dengan ayahku."


Gilang terkejut. "Aku mendapat informasi kalau dia tinggal di hotel tempat Kristal bekerja."


Ruli lebih terkejut lagi mendengar ucapan Gilang. Dia tidak bisa menebak apa sebenarnya yang direncanakan ayahnya itu. Ruli memukul udara saking kesalnya. "Bantu aku menemukan Amara!" Pintanya pada Gilang. Gilang mengangguk setuju.


Ruli bingung ingin mencari di mana keberadaan adiknya. Tapi dia mencoba segala kemungkinan. Pertama mereka mencari keberadaan ayahnya di hotel milik keluarga Kristal.


Kebetulan Kristal berada di tempat itu karena ada barangnya yang ketinggalan. "Kristal," panggil Ruli.


"Mas, kenapa ke sini?" tanya Kristal.


"Kamu sendiri? Bukankah tadi kamu sudah kuantarkan pulang?" Ruli bertanya balik.


"Aku mengambil flashdiskku yang ketinggalan," jawab Kristal.


"Sayang, bisakah kamu tunjukkan di mana ayahku tinggal? Bukankah dia sempat tinggal di sini?"


"Aku tidak tahu dia tinggal di kamar nomor berapa. Akan aku tanyakan pada pegawaiku."


Setelah mencari informasi ternyata Heru tidak lagi tinggal di hotelnya. "Kita lapor polisi saja," usul Kristal.

__ADS_1


"Tidak bisa, karena laporan kehilangan harus ada dua puluh empat jam."


"Tidak jika kamu melihat kejadian itu secara langsung. Kamu adalah saksi jadi polisi pasti akan memproses laporan kamu," sahut Gilang. Kristal mengangguk setuju.


Namun, tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke handphone Ruli.


"Siapa ini?" tanya Ruli dengan nada dingin.


Terdengar suara tawa dari telepon tersebut. "Apa kamu tidak mengenali suaraku, Nak?" Pertanyaan itu terdengar meledek.


"Aku tahu Amara bersamamu. Pulangkan dia sekarang!" Bentak Ruli.


"Tidak segampang itu. Datanglah kemari kalau kamu ingin menyelamatkan adikmu."


"Di mana tempatnya?" tanya Ruli. Ruli mendengarkan dengan seksama. Setelah mengetahui alamatnya Ruli bergegas menuju ke mobilnya.


"Mas aku ikut!"


"Tidak, pulanglah bersama Gilang. Aku tidak mau melibatkan dirimu. Kamu tahu ini berbahaya."


"Aku juga akan ikut," seru Gilang.


"Baiklah, sebaiknya kita segera berangkat. Aku tidak mau membuang waktu. Bagaimana dengan keluargamu sayang?"


"Pikirkan nanti yang penting kita selamatkan dulu Amara." Ruli mengangguk setuju.


Setelah itu, Ruli mengendarai mobil seorang diri ke sebuah gudang kosong yang tak terpakai. Sementara Kristal berada di mobil yang sama dengan Gilang. Mereka akan mengawasi dari jauh. Jika Ruli mengalami kesulitan mereka akan datang membantu secepatnya.


Ketika Ruli turun anak buah Heru memeriksa badannya. "Tidak ada senjata," lapornya pada temannya yang lain.


"Ajak masuk! Bos sudah menunggu."


Lalu orang-orang suruhan Heru mendorong Ruli dengan senjata yang dia pegang. Sementara Ruli berjalan sambil mengangkat tangannya ke atas.


Setelah sampai di ruangan gelap itu, Ruli melihat Amara terikat. Mulutnya juga diplester. Ruli menurunkan tangannya perlahan.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak pernah membiarkan kami hidup dengan tenang?" tanya Ruli pada ayahnya.


"Entahlah, kalian yang membuatku begini. Apakah kalian tidak pernah merindukanku? Aku ini ayah kandungmu?"


Ruli menarik ujung bibirnya. "Untuk apa merindukan orang sepertimu? Orang tua yang menyiksa anaknya sampai koma dan suami yang tega memukuli istrinya hanya karena hartanya berkurang, apa pantas untuk dirindukan?"


Plak


Heru menampar pipi Ruli hingga darah segar keluar dari mulut pemuda itu. "Lepaskan Amara!"


"Tidak semudah itu. Beri dia pelajaran!" Perintah Heru pada anak buahnya. Mereka mulai menghajar Ruli. Ruli bukannya tidak mau melawan tapi dia kalah jumlah dengan anak buah Heru.


"Mas Gilang apakah kita susul saja Mas Ruli. Dia sudah terlalu lama di dalam," usul Kristal yang sangat khawatir pada tunangannya.


"Biar aku saja."


"Tidak. Dia tunanganku. Aku berhak melindunginya." Kristal turun dari mobil lalu berjalan dengan penuh percaya diri ke depan gudang itu.


"Hei, siapa kamu?" Bentak salah seorang naka buah Heru yang berjaga di depan gerbang.


"Tidak usah basa-basi. Maju kalian!" Kristal sudah memasang kuda-kuda. Anak buah Heru mulai maju menyerang Kristal secara bergantian. Gilang ikut membantu Kristal. Dia membuang jasnya ke sembarang arah. Lalu ia menggulung kemejanya sampai lengan.


Saat salah seorang anak buah Heru melayangkan pukulan ke wajah Kristal, gadis itu bisa menghindar. Ia menangkap tangan itu lalu mematahkan tangannya menggunakan lutut. Lawannya pun jatuh tersungkur.


Gilang tak kalah hebat dalam berkelahi. Dua orang yang mencoba menyerangnya secara bergantian mendapatkan pukulan di bagian wajah secara bertubi-tubi. Keduanya pun jatuh tak berdaya.


Kristal dan Gilang masih sibuk mengatasi serangan lawan-lawannya. Heru yang mendengar kegaduhan di luar berjalan untuk melihatnya. Saat satu persatu dari anak buahnya mulai tumbang, ada rasa khawatir pada dirinya.


Kristal bertumpu ke sebuah pijakan lalu memberikan tendangannya pada orang yang akan menyerang Gilang dari belakang.


Brak


Suara benturan itu membuat Gilang menoleh. Ia tak menyangka Kristal jago dalam berkelahi. Kristal tersenyum ke arah Gilang setelah menyelesaikan tugasnya. Gilang menarik ujung bibirnya. Laki-laki itu baru pertama kalinya melihat Kristal berkelahi. Dia sangat takjub. Kristal yang dikira seorang gadis manja ternyata memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa.


Anak buah Heru mulai lelah. Gilang dan Kristal berhasil menumbangkan anak buah Heru yang berjaga di depan gudang. Heru kini panik saat anak buahnya tak berdaya. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi. Kristal menyuruh Gilang mencari keberadaan Ruli dan Amara. Sementara Kristal mengikuti mobil Heru.

__ADS_1


__ADS_2