
Kristal berdiri di depan balkon. Lalu Ruli memeluk istrinya dari belakang. Dia mencium pundaknya. "Sedang apa?" tanya Ruli.
Kristal mendongak sambil tersenyum. "Aku hanya tidak percaya kalau aku sudah menjadi seorang istri Mas."
Ruli tersenyum menanggapi ucapan istrinya. "Sebentar lagi aku akan membuatmu menjadi seorang ibu." Kristal balik badan sambil menatap suaminya. "Kamu ingin aku melahirkan berapa anak Mas?" tanya Kristal penasaran.
"Selusin," jawab Ruli asal. Kristal memukul pelan dada suaminya itu.
"Kamu pikir aku ini kelinci?" Ruli tertawa mendengar ungkapan yang diucapkan istrinya.
"Ayo turun, kita sarapan bersama Amara dan mama." Kristal mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
Hari ini Kristal tidak masuk bekerja karena dia baru saja menikah kemaren. Oleh karena itu, Rere memegang pekerjaan Kristal sementara waktu.
Agung yang mengetahui kekasihnya sedang sibuk berusaha membantu. Di saat jam makan siang, Agung datang ke kantor Rere. Dia tidak tinggal diam saat melihat gadis pujaannya itu mengalami kesulitan.
"Mas, apa tidak sebaiknya kamu makan dulu," kata Rere yang merasa tidak enak karena Agung harus merelakan jam makan siangnya.
"Aku bisa makan nanti di kantor. Sekarang waktunya terbatas. Aku ingin membantu pekerjaanmu." Agung mengacak rambut Rere hingga membuat jantung Rere berdebar kencang.
Sikap manis Agung padanya sungguh membuat baper. Pasangan yang baru jadian itu terlihat kompak. Meskipun Leo sebenarnya belum merestui hubungan mereka tapi Agung tetap mengakui Rere sebagai pacarnya.
Tak lama kemudian pesanan makanan Agung datang. Dia mengambilnya di bawah. "Terima kasih," ucapnya pada tukang ojek online yang membawa pesanannya.
Ketika dia baru masuk ke dalam lift, sebuah kaki mengganjal pintu lift yang hendak tertutup. Leo ikut bergabung ke dalam lift bersama Agung.
"Apa kabar?" tanya Agung dengan canggung.
Sebelum dia tahu Leo adalah kakak Rere sikapnya biasa saja. Namun, setelah Leo mengetahui kalau Agung menyukai adiknya, dia seolah menjaga jarak dengan Agung. Leo tahu bagaimana Agung mencintai Kristal sampai dia tak sempat move on. Dia hanya tidak percaya tiba-tiba Agung tertarik pada adiknya. Dia takut Rere hanya dijadikan sebagai pelarian saja oleh laki-laki itu.
"Kita tak sedekat itu," jawab Leo dengan nada dingin. Lalu dia melirik ke tangan Agung. Agung yang menyadari tatapan Leo pada sesuatu yang dibawanya kemudian berbicara. "Ini makanan untuk Rere. Dia tidak sempat keluar karena terlalu sibuk."
"Berikan padaku biar aku saja yang sampaikan," kata Leo sambil menarik paper bag di tangan Agung. Namun, Agung mempertahankan paper bag tersebut.
__ADS_1
"Tidak perlu repot," tolak Agung.
"Bukankah kamu harus kembali ke kantor atau atasanmu akan menunggumu," ucapan Leo mengingatkan jadwal meeting Alex siang ini.
"Oh shiit. Ambil ini bilang pada kesayanganku kalau aku kembali ke kantor karena urusan penting." Agung menarik tangan Leo agar mengambil alih paper bag tersebut.
"Cih, kesayangan. Enak saja itu adikku," ucap Leo tak rela.
Setelah itu dia menemui Rere tapi dia tidak memberikan makanan yang diberikan Agung pada adiknya. Dia memberikan makanan tersebut pada OB.
"Rere," panggil Leo.
"Kakak di sini?" tanya Rere sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
"Apa kamu belum makan?" tanya Leo khawatir. Rere menoleh sekilas lalu menggeleng.
Leo menarik tangan Rere hingga adiknya itu agar bangun. "Kak kerjaanku belum selesai," omelnya.
"Makan siang dulu nanti kamu sakit. Aku akan bantu menyelesaikan pekerjaanmu."
Leo memesankan banyak makanan untuk adiknya. "Kak aku tidak bisa makan sebanyak ini," kata Rere.
"Makan sendiri atau mau aku suapi?" Ancam Leo. Rere hanya bisa menurut pada semua orang melihatnya disuapi oleh sang kakak seperti anak kecil.
"Kak bisakah kakak tidak terlalu mengawasiku? Aku sudah dewasa aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk untukku," protes Rere sambil mengacak-acak makanannya.
"Kamu masih adik kakak, jadi kakak bertanggung jawab untuk menjagamu." Terus terang Rere sangat terkekang dengan sikap kakaknya yang terlalu posesif.
Rere melihat jam yang melingkar di tangannya. "Sudah saatnya aku kembali. Kakak juga harus melanjutkan pekerjaan kakak." Leo mengangguk. Rere berdiri dari tempat duduknya.
Pada saat waktunya pulang, Rere mendapati ban mobil yang dia pakai bocor. Padahal hari sudah malam. Lalu Rere berinisiatif menelepon Agung. Kebetulan Agung sudah berada di jalan. Saat melihat handphonenya bergetar, dia menepikan mobilnya lalu mengangkat telepon.
"Ada apa Re?"
__ADS_1
"Mas ban mobilku bocor, aku tidak tahu harus bagaimana. Bisakah kamu menjemputku sekarang aku masih berada di area parkir hotel tempatku bekerja."
"Baiklah, tunggu aku di sana."
Rere duduk di dalam mobil sambil menunggu Agung datang. Saat itu dia tak sengaja melihat aksi pencurian kaca spion mobil yang terparkir di area parkir yang sama.
Rere clingak-clinguk mencari keberadaan satpam tapi dia tidak menemukannya. Lalu Rere berteriak agar orang-orang mengalihkan perhatiannya saat itu.
"Maling, maling." Teriakan Rere didengar oleh sang pencuri. Tidak ada yang datang seorangpun saat itu. Lalu dia menghampiri Rere untuk membungkam mulutnya. Rere kembali masuk ke dalam mobil. Dia sangat ketakutan.
Laki-laki itu menggedor kaca mobil Rere karena tidak terima. "Keluar lo atau gue pecahin kaca mobil ini."
Rere mengulur waktu sampai Agung tiba. Dia mencoba menelepon Agung kembali tapi tangannya bergetar hebat hingga ponselnya terjatuh. Sedangkan pencuri tadi masih geram dengan perbuatan Rere yang hampir membuatnya dipergoki oleh banyak orang. Laki-laki yang menutup wajahnya dengan masker hitam dan bertopi itu akhirnya memecah kaca mobil Rere.
Dengan leluasa dia membuka pintu mobil setelah kacanya berhasil dipecahkan. Dia menyeret Rere agar keluar dari dalam mobil. Rere melawan dan mempertahankan diri.
Saat penjahat itu tak berhasil membawa Rere keluar dia malah melakukan pelecehan di dalam mobil. Laki-laki itu berusaha menggagahi Rere. Gadis itu ingin berteriak tapi mulutnya dibungkam dengan tangan. Rere berontak tapi tenaganya tak cukup untuk melawan laki-laki yang bertubuh besar itu.
Tak lama kemudian Agung tiba. Dia langsung mencari keberadaan mobil kekasihnya. Alangkah terkejutnya saat dia melihat seseorang sedang berusaha memper*koosa Rere. Agung turun dengan cepat lalu dia menutup pintu mobil dengan kasar.
Dalam sekejap darah Agung memanas. Agung berlari lalu memaksa laki-laki itu keluar. Dia menarik laki-laki itu dalam satu sentakan lalu memukuli wajahnya. Laki-laki itu merosot ke bawah tapi Agung kembali mengangkat tubuhnya. Dia tidak hanya memberikan hujaman dia bagian wajah tetapi juga di bagian perut.
Agung tidak bisa berpikir jernih lagi. Rasanya dia ingin membunuh pria jahat yang telah melecehkan kekasihnya. Bahkan Agung mencekik lehernya hingga laki-laki asing itu kesusahan bernafas.
Beruntung seorang Satpam melihat perkelahian mereka kemudian dia memisahkan Agung dari laki-laki kurang ajar tersebut. Kalau tidak Agung bisa saja membunuh seseorang waktu itu.
"Ada apa ini Pak?" tanya Satpam tersebut pada Agung.
"Kamu ke mana saja?" Bentak Agung. Dia tidak menjawab malah memarahi satpam tersebut. "Bawa ba*ji*ngan ini ke kantor polisi," perintahnya dengan tegas. Satpam tersebut menyeret laki-laki yang sudah banyak belur itu.
Lalu Agung masuk ke dalam mobil. Dia memeluk Rere yang sedang menangis. "Tenanglah sayang, kamu aman sekarang."
Sambil nunggu up lagi mampir dulu ya ke sini. Jangan lupa like dan subscribenya
__ADS_1