Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Ngebet kawin


__ADS_3

Agung pergi setelah mendengar pembicaraan orang tua Kristal yang meminta Ruli untuk datang melamar anak gadisnya. Hati Agung merasa sakit yang teramat dalam. Niatnya kembali untuk merebut Kristal dari Ruli pupus sudah. Agung berjalan cepat menuju ke parkiran mobil. Dia berpapasan dengan Rere saat itu.


Kebetulan Rere akan mengembalikan kunci mobil pada Kristal. "Pak Agung, Bu Kristalnya di mana?" tanya Rere yang tidak mengetahui keberadaan Kristal. Dia sempat melihat Agung mengendongnya ke rumah sakit. Agung tidak menyahut. Laki-laki itu berjalan melewati Rere.


Rere tampak curiga dengan sikap Agung yang tak seperti biasanya. Lalu dia mengikuti ke mana Agung pergi. Ternyata Agung menepikan mobilnya di sebuah bar. Dia masuk ke dalam sendirian. Rere tak berniat masuk ke dalam. Dia sadar penampilannya saat ini bisa mengundang bahaya untuk dirinya. Oleh karena itu, dia sabar menunggu sampai Agung keluar dari tempat laknat itu.


"Beri aku sebelas minuman." Agung duduk di depan meja bartender. Lalu seorang gadis penghibur mendekati dirinya.


"Hai, tampan. Apa kamu sendirian?" Godanya sambil meraba-raba bagian dada agung. Laki-laki itu tidak suka seseorang menyentuhnya sembarangan. Lalu dia menepis tangan wanita itu dengan kasar. Agung kembali meneguk minuman haram itu.


Wanita itu tersenyum miring. "Kenapa? Bukankah kamu butuh pelampiasan?" Goda wanita itu.


Agung meneguk lagi minuman yang diberikan oleh bartender tersebut. Entah sudah berapa gelas minuman beralkohol yang dia teguk. "Aku tak menginginkan wanita sepertimu. Yang aku inginkan adalah wanita seperti dia," tunjuk Agung pada seorang wanita yang berjalan ke arahnya.


"Mari, Pak. Saya antarkan pulang," ajak Rere. Saat itu dia masuk untuk menyusul Agung yang tak kunjung keluar dari bar. Rere memberanikan diri untuk melewati banyak pasang mata yang ingin menggodanya.


"Kamu siapa?" tanya wanita penghibur yang menghalangi niat Rere untuk membawa pulang atasannya itu.


"Dia atasanku. Sebaiknya kamu minggir aku akan membawanya pulang," ucap Rere dengan tegas. Sungguh dia tak ingin berlama-lama di tempat menyeramkan itu.


Rere melingkarkan tangan Agung ke lehernya. Dia memapah Agung yang mulai mabuk hingga ke mobilnya. Setelah itu, Rere membuka pintu. Tiba-tiba Agung menghimpit tubuhnya dengan kedua tangannya saat dia berbalik. Lalu laki-laki yang sedang mabuk ituHu mencium bibir Rere dengan rakus.


Dalam pandangan Agung yang sedang mabuk, dia mengira Rere itu adalah gadis pujaan hatinya alias Kristal. Rere sangat terkejut mendapatkan serangan dadakan dari Agung.


Agung menggigit bibir bawah Rere agar gadis itu membuka mulutnya. Dengan leluasa Agung mengeksplor bagian dalam mulut Rere. Gadis itu sempat mendorong dada bidang Agung tapi dorongan tangan Rere seperti sapuan kecil yang tak dapat membuat Agung bergerak.


Akhirnya Rere pasrah ciuman pertamanya diambil oleh Agung. Sudut mata gadis itu sudah meleleh. Agung baru melepaskan ciumannya setelah dia puas. Saat itu efek alkohol sudah agak berkurang sehingga membuat kesadaran Agung timbul.


"Rere kamu ngapain di sini?" tanya Agung ketika mereka saling berhadapan.

__ADS_1


Sesaat kemudian Agung baru sadar kalau gadis yang dia cium adalah Rere bukan Kristal. Rere merosot hingga terduduk. Dia menangis dengan kencang di depan Agung.


"Re, kamu jangan menangis. Aku mohon maafkan aku! Aku tidak sengaja."


Rere langsung menatap tajam ke arah Agung ketika mendengar Agung berkata demikian. "Tidak sengaja bagaimana, Pak. Bagaimana kalau saya hamil? Hua..." Rere menangis sejadi-jadinya.


Agung malah terkekeh mendengar kalimat ajaib yang keluar dari mulut gadis itu. "Jadi kamu belum tahu bagaimana caranya membuat orang hamil?" Rere menggeleng. Agung tersenyum menyeringai.


"Apa kamu mau aku ajari?" Bisiknya ke telinga Rere. Rere langsung mendorong tubuh Agung. Dia cepat-cepat masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mesin mobilnya.


Agung tertawa terpingkal-pingkal ketika dia melihat tingkah konyol Rere. "Dasar gadis aneh."


Sesampainya di rumah, Rere masuk ke dalam dengan terburu-buru. "Re kenapa kamu pulang malam sekali akhir-akhir ini?" tanya sang kakak.


"Lembur Iagi," teriak Rere sambil menaiki lantai atas. Rere menutup pintu dengan kencang. Dadanya masih berdebar mengingat ciumannya dengan Agung. "Hish, memalukan." Rere menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Keesokan harinya, Kristal tidak masuk kerja karena dia minta izin pada Alex untuk cuti sehari. Namun, Kristal lupa memberi tahu asistennya. "Kamu lihat Bu Kristal nggak?" tanya Rere pada temannya. Temannya itu menggedikkan bahu.


"Kristal hari ini cuti kamu bisa bantu pekerjaan Agung," perintah Alex pada gadis itu.


"Baik, Pak," jawabnya tidak bersemangat.


"Kenapa harus sama dia sih?" Batin Rere ingin memberontak. Sungguh dia merasa canggung dekat dengan Agung.


Bug


Rere yang berjalan sambil melamun tak sengaja menabrak laki-laki yang sedang dia hindari. "Maaf," ucapnya dengan gugup lalu hendak berlalu tapi lengannya di tahan oleh Agung. "Mau ke mana?" tanya Agung.


Rere sudah ketakutan. "Mau taruh berkas ini di tempatnya," jawab Rere beralasan. Agung melepas tangannya. "Kamu takut berada di dekatku?" Goda Agung. Entah kenapa dia merasa sikap polos Rere begitu menggemaskan. Menggodanya sekali membuat dirinya ketagihan. Bahkan Agung bisa mengingat rasa ciuman tadi malam.

__ADS_1


"Tidak, maaf saya harus pergi ke ruangan Pak Alex."


Tok tok tok


"Masuk!"


"Bapak butuh bantuan saya?" tanya Rere yang sudah berada di ruangan atasannya.


"Re, Kristal meminta kamu untuk datang ke rumah setelah pulang kerja. Nanti malam kami akan kedatangan tamu spesial. Kristal akan bertunangan dengan kekasihnya. Apa kamu bersedia?" tanya Alex.


Rere tersenyum girang. "Tentu, Pak. Saya akan datang ke acara nanti malam," jawabnya.


Sementara itu di rumah Berlian dan Kristal sedang sibuk mempersiapkan kedatangan Ruli dan keluarganya nanti malam. "Aduh kurang apa lagi ya, sayang?" tanya Berlian pada putrinya.


"Udah semua kayaknya Ma. Oh ya MUA nya datang jam berapa?" tanya Kristal.


"Nanti sore. Mama juga udah suruh bawahan mama buat bawa baju dari butik langganan mama juga. Gak sempat ukur baju buat kamu, habisnya acara serba mendadak gini," protes Berlian.


"Yagh bukan salah Kristal, Ma. Papa yang mau," elaknya.


"Alah, kamu yang ngebet kawin iya kan?" Ledek ibunya. Kristal tersenyum malu-malu.


"Oh ya, Ma. Aku mau hubungin Meilani dulu. Aku mau undang dia ntar malam."


"Ya sudah nanti balik lagi ya."


"Ma, apa yang bisa aku bantu?" tanya Sandra. Dia masih duduk di kursi roda karena kakinya belum sembuh. Dan lagi Alex melarangnya melakukan sesuatu yang berat. Jadi sementara waktu dia tinggal di rumah mertuanya agar ada yang menjaga.


"Tidak usah sayang. Kamu nggak boleh capek-capek ya. Biar mama sama Kristal aja yang ngerjain. Oh ya, mama kabari Tante Raina dulu ya." Sandra mengangguk.

__ADS_1


Berlian pun mengabari seluruh keluarga besarnya untuk datang ke acara tunangan Kristal nanti malam. Banyak yang protes karena acara begitu mendadak.


"Aduh, Ma. Aku juga kaget saat Kristal bilang kalau dia mau tunangan sama pacarnya malam ini. Katanya papanya yang minta agar Kristal dinikahi secepatnya," jawab Berlian pada ibunya melalui sambungan telepon.


__ADS_2