Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Welcome baby twins


__ADS_3

Rere berteriak minta tolong. Kemudian Mama Lira keluar dari dalam rumah. Mama Lira terkejut ketika melihat menantunya sedang kesakitan sambil memegangi perutnya. "Sayang kamu kenapa? apa ini sudah saatnya melahirkan?" tanya mama Lira panik.


"Mari bawa bu Kristal ke mobil saya, biar saya yang menyetir. Ibu temani dia duduk di bagian belakang," ucapnya pada mama Lira.


Mama lira setuju dengan usulan Rere. Apabila menghubungi Ruli maka Kristal harus menunggu terlalu lama. Takutnya dia tidak sempat tertolong.


Rere dan Mama Lira memapah Kristal sampai masuk ke dalam mobil Rere. Setelah itu Rere masuk ke bagian depan. Dia mulai menyalakan mobilnya.


"Bertahan ya sayang, kamu harus kuat." Mama Lira menyemangati menantunya saat ini. Ketika dalam perjalanan beliau menghubungi Ruli melalui handphonenya.


Rully baru saja sampai di depan restoran. Tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari ibunya. Belum sempat bilang hallo mama Lira sudah bicara duluan.


"Ruli, istrimu mau melahirkan," serunya memberi tahukan keadaan Kristal.


"Baik, Ma. Aku akan segera menyusul ke sana." Setelah menutup telepon Ruli masuk kembali ke dalam mobil. Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Pemandangan itu tak luput dari pengamatan Gilang. Dia pun heran pada tingkah Ruli. "Jangan-jangan terjadi sesuatu pada istrinya," gumam Gilang seorang diri.


"Kenapa Mas?" tanya Meilani yang berada di belakangnya.


"Aku melihat pak bos terburu-buru pergi padahal dia baru saja sampai," jawab Gilang.


"Apa kamu berpikiran sama denganku, Mas?" Gilang mengangguk. Mereka tahu ini adalah minggu-minggu waktu kelahiran Kristal.


Sementara itu Rere mengendarai mobil dengan lancar, tidak ada kemacetan yang berarti. Mereka sampai ke rumah sakit tiga puluh menit kemudian. Rere langsung turun kemudian memanggil perawat. Para perawat pun segera menghampiri dan memindahkan Kristal ke atas brankar.


Kebetulan Dokter Sinta lewat di depan ruang UGD. "Dia pasien saya," ungkapnya. "Tolong siapkan ruang bersalin!" Perintahnya pada para perawat yang ada di sana. Mereka mengangguk paham.


Dokter Sinta memeriksa perut Kristal. "Apa kontraksinya makin sering?" Kristal mengangguk lemah.


"Ibu mau melahirkan normal? Kita bisa melakukannya kalau ibu mau. Melihat kondisi ibu sangat mungkin bisa melahirkan normal," terang Dokter Sinta.


"Saya mau lahiran normal, Dok," jawab Kristal. Peluhnya semakin banyak. Dia mencengkeram sprei untuk melampiaskan rasa sakitnya.


"Mas Ruli, Mas Ruli ke mana?" Teriak Kristal menyebutkan nama suaminya. Lalu salah seorang perawat menemui keluarga Kristal.


"Suaminya mana, Bu?" tanya perawat tersebut.


"Belum datang, Sus. Sedang diperjalanan," jawab mama mertua Kristal.

__ADS_1


Sementara itu Rere sibuk menghubungi Agung. Dia mengirimkan pesan singkat pada Agung. Agung langsung membaca pesan yang dikirim oleh kekasihnya. Kemudian dia menyampaikan pada Alex.


Setelah rapat berakhir Agung menyampaikan bahwa Kristal melahirkan. "Apa papa sudah tahu?" tanya Alex pada asisten pribadinya.


"Saya kurang tahu. Tapi sepertinya belum, Pak. Saya mendapatkan pesan singkat dari Rere. Kemungkinan dia sedang menemani di rumah sakit."


"Baiklah, kita ke sana sekarang. Aku akan menghubungi orang tuaku ketika berada di perjalanan nanti.


Kembali ke rumah sakit.


Ruli yang baru saja keluar dari mobil langsung berlari menuju ke ruang bersalin. "Ma, di mana istriku?"


"Masuklah ke dalam, perawat sudah menunggumu." Ruli menuruti arahan ibunya.


Kristal melihat suaminya datang. Lalu Ruli menggenggam tangan sang istri. "Aku datang sayang."


"Sudah pembukaan sepuluh kita mulai mengejan ya, Bu. Jika tidak kuat bilang sama saya," Kristal mengikuti arahan dokter tersebut.


Ruli menyemangati istrinya dan memberikan dukungan. "Ayo sayang kamu bisa." Kristal mengejan sekuat-kuatnya.


Akhirnya bayi pertama keluar berjenis kelamin perempuan. Suster mengambil bayi itu lalu dokter kembali meminta Kristal mengejan. Satu lagi bayi yang masih ada di dalam perutnya. "Ayo Bu. Lebih kuat."


Ruli mencium kening istrinya. "Selamat sayang, kamu berhasil melahirkan si kembar." Kristal tersenyum lemah.


Dia bisa melihat perjuangan istrinya yang tengah berada di dalam hidup dan mati ketika proses melahirkan tadi. Ruli sebenarnya tidak tega tapi kalau dia meninggalkan istrinya, Kristal tidak akan bersemangat.


Ruli keluar dari ruang bersalin selama Kristal dan anaknya dibersihkan. Dia menemui keluarga Kristal yang telah hadir dan menunggu di luar ruang bersalin.


Mama Berlian menghampiri menantunya. "Bagaimana proses kelahiran bayi kembarnya?"


"Alhamdulillah berjalan lancar, Ma. Bayi pertama perempuan lalu kedua laki-laki." Ruli menyampaikan kabar bahagia itu.


"Bagaimana dengan ibunya?" Jaden menimpali.


"Baik, Pa. Dia juga selamat. Sekarang sedang dibersihkan."


Semua anggota keluarga bernafas lega setelah hampir satu jam lamanya menunggu kelahiran cucu kembar mereka.

__ADS_1


"Pak Ruli silakan adzani dulu anaknya," seru salah seorang perawat agar Ruli masuk kembali ke dalam. Ruli melihat anaknya sudah selesai dibersihkan. Mereka dibungkus bedong agar Ruli mudah menggendongnya.


Usai diadzani secara bergantian, mereka dipindahkan ke ruang bayi. Bayi mereka lahir dengan berat masing-masing 2,8 kilo.


Semua orang berpindah ke ruang bayi. Mereka melihat bayi kembar itu melalui kaca besar yang digunakan sebagai dinding.


"Mereka sangat lucu," seru Amara. Mama lira sependapat dengan putrinya itu. "Mama tidak sabar membawa mereka pulang."


Agung juga berada di sana menemani kekasihnya, Rere. Dia menyikut lengan Rere. "Kapan kita punya mainan selucu itu?" Wajah Rere berubah merah metalik mendengar ucapan Agung. Rere memukul lengan Agung karena malu.


"Kapan kamu meresmikan hubungan kita?" Bisik Rere. Agung membulatkan matanya. Dia mendapatkan kode dari Rere untuk melamarnya.


"Secepatnya," balas Agung.


Tak lama kemudian giliran Kristal yang akan dipindahkan ke ruang perawatan. Sesampainya di ruang perawatan, semua orang memberikan ucapan selamat. Kristal hanya bisa tersenyum lemah saat menjawab ucapan mereka satu per satu.


"Biarkan Kristal beristirahat dulu, Ma, Pa dan ayang lainnya. Kalian bisa kembali." Ruli tidak bermaksud mengusir hanya saja mereka juga sudah terlihat lelah berada di rumah sakit.


Kemudian semua orang pulang kecuali Ruli. Sesaat kemudian suster membawa bayi-bayi Kristal ke ruangannya untuk disussui.


"Waktunya menyusui bayi-bayinya Bu."


Karena baru pertama kalinya, Kristal belum bisa menempatkan bayi-bayinya di posisi yang nyaman saat menyusu dari sumbernya langsung. Akan tetapi suster dengan telaten mengajari ibu baru tersebut.


Lama kelamaan Kristal mulai terbiasa. ASI yang dihasilkan Kristal belum terlalu banyak. Wajar kalau anaknya belum merasa kenyang.


Ruli menangis haru ketika melihat istrinya itu sedang menyusui anak-anaknya. Akhirnya mereka memiliki momongan sendiri setelah menunggu setahun lamanya.


"Mas, kenapa menangis?" tanya Kristal ketiak melihat pipi suaminya basah.


"Aku hanya merasa bahagia. Akhirnya keluarga kita lengkap sayang. Terima kasih telah berjuang demi melahirkan si kembar," ucapnya dengan tulus.


"Jadi siapa nama mereka Mas?"


...***...


sambil nunggu up kalian bisa mampir ke novel yang satu ini

__ADS_1



__ADS_2