Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Masa lalu


__ADS_3

Agung dan Rere gelagapan saat seseorang yang mereka kenal mengetuk kaca mobilnya. Rere segera turun. Agung juga ikut turun. Rere tersenyum canggung pada kakaknya. Sedangkan Agung tanpa berdosa sedikitpun malah bertanya pada Leo mengenai hubungannya dengan Rere.


"Jadi Pak Leo ini..."


"Dia adik saya," jawab Leo sebelum Agung menyelesaikan omongannya. Agung sangat terkejut.


"Kak, aku masuk dulu." Saat Rere hendak berjalan, Leo menarik tasnya. "Mau ke mana kamu? Jelaskan pada kakak apa yang kalian lakukan di dalam mobil tadi?" Leo menatap tajam ke arah keduanya.


"Aku menyukai adikmu." Ucapan itu sontak membuat Rere terkejut karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Agung juga menyukainya.


Leo menarik ujung bibirnya. "Bukankah anda belum bisa move on dari Nona Kristal?" Rere lebih terkejut lagi ketika Leo mengatakan hal yang baru dia ketahui. Rere tidak tahu kalau Agung pernah menjalin hubungan dengan atasannya.


"Aku tidak mungkin mengharapkan wanita yang sudah bertunangan dengan laki-laki lain," balas Agung.


"Sebaiknya anda pulang," usir Leo. Dia tidak mau adiknya dijadikan sebagai pelarian semata.


"Kak..." Protes Rere agar kakaknya itu tidak terlalu keras pada Agung.


"Kamu masuk!" Perintah Leo dengan tegas. Agung tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dia masuk ke dalam mobil.


Di tempat lain, Kristal sedang berada di dalam mobil Ruli. "Bagaimana kejadiannya ban mobilmu bisa bocor?" tanya Ruli.


"Entahlah, aku tidak mengeceknya. Mungkin kena paku di jalan. Untung saja tadi aku ketemu orang baik yang menolongku. Eh ternyata dia investor yang akan bekerja sama dengan perusahaanku," terang Kristal menceritakan pertemuannya dengan Heru.


"Apa dia masih muda?" tanya Ruli. Kristal mencium bau cemburu. "Jangan khawatir dia sudah seumuran papaku. Kalau tidak salah namanya Heru."


Ruli tiba-tiba mengerem secara mendadak hingga menimbulkan suara decit ban mobil yang bergesekan dengan aspal. Kepala Kristal terbentur bagian dashboard.


"Kamu bilang siapa namanya?" tanya Ruli sekali lagi. Dia ingin memastikan pendengarannya baik.


"Heru," jawab Kristal. Wajah Ruli tiba-tiba berubah menjadi pucat dan berkeringat dingin.


Kristal menyadari perubahan Ruli hingga membuatnya khawatir. "Kenapa Mas? Apa kamu mengenalnya?"


"Apa kamu tahu siapa nama belakangnya?" Tanya Ruli lebih lanjut.

__ADS_1


"Tidak mas. Dia memakai inisial M di belakang namanya. Aku tidak tahu kepanjangan namanya. Apa perlu aku tanyakan pada Rere besok?"


"Tidak perlu sayang." Ruli berusaha mengusir rasa was-was dalam hatinya. Dia berharap laki-laki itu bukan orang yang dia hindari selama ini. Kemudian dia menyalakan kembali mesin mobilnya.


Tak lama kemudian Kristal turun dari mobil saat tiba di depan rumahnya. "Mas nggak mampir dulu?" tanya Kristal.


"Lain kali saja sayang. Aku akan menjemput Amara. Hari ini mobilnya masuk ke bengkel."


"Kalau begitu hati-hati ya Mas. Sampai ketemu besok." Kristal melambaikan tangan ke arah Ruli. Gadis itu merasa seseorang mengawasinya dari jauh. Tapi dia mencoba mengusir pikiran negatifnya lalu masuk ke dalam rumah.


Ruli meminta Gilang untuk menyelidiki keberadaan ayahnya. "Gilang aku butuh bantuan kamu."


"Katakan apa yang bisa kulakukan untukmu?"


"Cari tahu di mana ayahku tinggal sekarang. Dan apa saja yang dia kerjakan saat ini. Aku curiga dia mengawasiku diam-diam."


"Apa yang mendasari kecurigaanmu itu?" tanya Gilang yang penasaran.


"Kristal bertemu dengan seseorang yang bernama Heru."


"Tapi pertemuan mereka seolah direncanakan. Tolong berikan informasi padaku secepatnya tentang ayahku. Aku tidak mau dia mencelakai orang-orang terdekatku." Gilang mengangguk mengerti. Dia tahu betul watak ayah Ruli.


Saat itu Gilang yang sedang main ke rumah Ruli tak sengaja mendengar pertengkaran antara Lira dan suaminya.


Prank


Heru membuang barang-barang yang ada di sekitarnya. "Mas apa yang kamu lakukan?" Teriak Lira.


"Aku rugi besar. Semua harta kekayaanku akan disita oleh Bank."


"Apa maksudmu Mas? Kenapa bisa disita oleh Bank?" tanya Lira yang ikut panik.


"Ini semua salah kamu. Aku harus mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan ayahmu yang sakit-sakitan itu." Heru menyalahkan Lira atas uang yang telah dikeluarkan untuk pengobatan oran tuanya.


"Mas kalau bukan kita yang membiayai pengobatan ayahku lalu siapa lagi? Kamu tahu bukan kakakku tidak sekaya dirimu." Lira mencoba menenangkan suaminya tapi usahanya sia-sia.

__ADS_1


"Ah, aku menyesal telah menikahi denganmu. Kamu membuat hidupku miskin."


Lira merasa sakit hati. Dia pun menangis setelah dibentak suaminya. Waktu itu Ruli turun dari kamarnya saat melihat ibunya disakiti oleh sang ayah.


"Bisakah papa berkata lebih halus pada mama? Bukan kemauan mama kalau kakek sakit-sakitan. Papa jangan sombong. Bisa jadi papa akan mengalaminya suatu hari nanti."


Plak


Heru menampar pipi Ruli. "Kurang ajar kamu. Berani mengataiku. Kamu mendoakan keburukan pada ayahmu sendiri, hemm?"


Lira memegangi pipi Ruli bekas tamparan sang suami. "Jangan libatkan anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa. Kalau mas tidak terima dan meminta kembali yang yang telah kau keluarkan untuk pengobatan ayahku, aku akan menggantinya."


"Ganti, ganti pakai apa? Kamu saja tidak bekerja. Bagaimana caramu menggantinya?"


"Mulai besok aku akan mencari pekerjaan," balas Lira.


Heru tertawa renyah. "Kamu pikir cari pekerjaan itu gampang apalagi usiamu sudah tidak muda lagi. Apa ada yang mau menerima wanita beranak dua sepertimu? Kalaupun ada gajinya pasti sangat kecil. Lalu butuh berapa tahun mengembalikan uangku?"


Sungguh tega sekali suaminya ini. Padahal mereka keluarga. Lira tidak menyangka suaminya itu sangat perhitungan.


"Ah aku tahu bagaimana cara mendapatkan banyak uang?" Sebuah ide terbesit di benak Heru. "Jual dirimu pada orang-orang kaya. Aku yakin mereka akan membayarmu mahal karena kulitmu ini sangat halus." Heru mengelus kulit istrinya sambil membisikan kata-kata yang menyakitkan itu.


Bagaimana bisa seorang suami menyuruh istrinya untuk menjual kehormatannya. Gila, sangat gila. Hanya karena uang yang hanya merupakan titipan belaka seseorang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya.


"Aku tidak mau melakukan pekerjaan hina macam itu Mas," tolak Lira. Bagaimana pun dia perempuan baik-baik. Sedari kecil orang tuanya selalu mengajarkan cara untuk menjaga kehormatan dan nama baik keluarga.


"Jangan sok suci. Kamu tahu sebentar lagi aku akan bangkrut. Aku rela membagi tubuhmu itu pada laki-laki lain asalkan mendapatkan bayaran yang setimpal."


Plak


Lira menampar pipi suaminya dengan keras. "Menyesal aku menikah denganmu."


Heru merasa tak terima. Lalu ria menjambak rambut Lira dan mendorongnya hingga terbentur ke dinding. Ruli berteriak lalu memukul ayahnya. "Ba*ji*Ngan," umpat pemuda belasan tahun itu.


Tenaga Ruli yang tak seberapa tak bisa mengalahkan ayahnya. Sang ayah malah memukul dirinya dengan stick golf hingga Ruli babak belur. Gilang yang tak sengaja menyaksikannya merasa ketakutan dan mengunci diri di kamar Ruli bersama Amara. Setelah itu dia menghubungi ayahnya agar segera menolong Ruli dan ibunya.

__ADS_1


Heru yang sadar telah membuat dua orang anggota keluarganya terluka malah melarikan diri. Sejak saat itu tidak ada yang tahu di mana keberadaan laki-laki yang sempat dicari oleh polisi tersebut.


__ADS_2