
Pagi ini perut Amara terasa lapar. Dia pun memesan makanan di restoran yang ada di hotel tempatnya menginap. Sayangnya ketika dia akan membayar, dompetnya hilang. "Di mana aku meletakkan dompetku?" Amara menggeledah isi tasnya tapi tak juga ditemukan dompet yang dicarinya.
"Apa saya bisa bayar pakai ini?" Amara melepas jam tangannya. Jam tangan yang dia beli ketika tinggal di luar negeri.
"Maaf kami hanya menerima pembayaran berupa uang tidak menerima barang," ucap pegawai restoran itu.
"Ada apa ini?" tanya Manager yang bekerja di sana.
"Nona ini tidak memiliki uang untuk membayar tagihan makanan yang telah dia pesan, Pak," lapor pegawai tersebut.
"Tidak punya uang saja belagu mau makan di sini," ucao manager tersebut dengan kasar. Amara ingin rasanya menangis. Dia ingin membela diri tapi pasti mereka tak percaya kalau dompetnya hilang.
"Tuhan, berikan aku pertolongan," batin Amara.
Tak lama kemudian Kristal dari arah lain mendekat ketika melihat gadis yang dia kenal sendang dalam masalah. "Ada apa ini?" tanya Kristal.
Manager itu langsung menunduk hormat ketika atasan mereka datang. "Kak Kristal." Amara memeluk kakak iparnya. Manager itu pun dibuat terperangah.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Kristal pada Amara. Dia tak menghiraukan manager itu langsung mengajak Amara ke ruangannya.
"Aku baru pulang semalam, tapi saat aku tiba di rumah pagar terkunci rapat. Jadi aku putuskan untuk menginap di hotel. Siapa sangka aku malah kehilangan dompet sehingga tidak bisa membayar tagihan makan," terang Amara panjang lebar.
"Minumlah dulu!" Kristal memberikan segelas air untuk adik iparnya.
"Kami semalam tidur di rumah orang tuaku. Aku mengajak Mas Ruli dan anak-anak menginap di sana karena sudah lama tidak mengunjungi mereka. Oh iya kenapa kamu pulang tidak mengabari kami sebelumnya?" protes Kristal.
"Aku dipindahtugaskan perusahan tempat aku bekerja secara mendadak jadi aku tidak sempat menghubungi kalian. Awalnya aku ingin memberi surprise tidak tahunya aku malah kena sial. Semalam aku menghubungi ponsel kak Ruli kenapa tidak diangkat?" tanya Amara.
__ADS_1
Kristal menggedikkan bahu. "Jadi rencana kamu apa? Di rumah ada asisten rumah tangga sebaiknya kamu pulang dulu ke sana. Pak Usman sudah tidak bekerja lagi pada kita karena pulang ke kampung halamannya," terang Kristal.
"Pantas gerbang depan tidak ada yang jaga. Pagi ini sebenarnya aku harus mengunjungi perusahaan cabang yang ada di sini. Mungkin agak terlambat tapi sebaiknya aku pergi sekarang." Amara berdiri lalu dia meninggalkan ruangan Kristal.
"Ingat untuk pulang," teriak Kristal.
Di tempat lain Rere sudah diperbolehkan pulang. "Mas kamu sudah berhari-hari tidka masuk kerja apa kamu tidak dimarahi atasanmu?" tanya Rere yang merasa tidak enak.
"Tenang saja kalau ku dipecat dia tidak akan bis menemukan asisten yang sesetia diriku," ucap Agung penuh percaya diri hingga membuat Rere menahan tawa.
"Hati kamu terbuat dari apa sih Mas? Kenapa naik banget sama aku?" tanya Rere.
"Hati aku hanya sebongkah daging yang jumlahnya satu tapi kupersembahkan untukmu," jawab Agung.
Wajah Rere memerah ketika mendengar rayuan Agung. "Lebay," cibir Rere.
Agung membukakan pintu untuk Rere. Dia menutup bagian kepala gadis itu agar tidak terpentok pintu mobil. "Terima kasih," ucap Rere pada Agung. Agung tersenyum lalu menutup pintu mobil perlahan. Setelah itu dia menuju ke kursi kendali mobil.
Agung mengantarkan Rere pulang. "Apa kamu tidak ingin mampir ke suatu tempat? Barang kali kamu ingin beli makanan atau sesuatu lainnya?" tawar Agung. Rere menggeleng.
"Tidak usah, Mas. Nanti aku delivery makanan ke rumah aja." Agung mengangguk setuju.
Sesampainya di rumah, Agung layaknya seorang suami yang merawat istrinya yang sedang sakit. Sayangnya saat Agung akan melamar gadis yang dia cintai itu sempat tertunda karena Rere masuk rumah sakit.
"Mas, apa orang tuamu tidak akan mempersalahkan jika kamu menemaniku seperti ini? Kamu bahkan merawatmu seperti seorang ratu."
"Anggap saja ini latihan pra nikah," gurau Agung. Dia tidak mau Rere terbebani. Agung memutuskan untuk menunda acara lamarannya sampai Rere benar-benar pulih.
__ADS_1
Rere merasa beruntung memiliki kekasih sebaik Agung. Selain tampan, Agung tipe laki-laki yang sangat peduli pada pasangannya.
"Maaf tindakan bodohku malah membuatmu repot," ucap Rere sambil menunduk. Dia merasa bersalah.
Agung duduk di samping Rere. Tangannya terangkat untuk mengusap air mata Rere yang meleleh di pipi. "Jangan bicara seperti itu. Aku sendiri yang ingin merawatmu karena aku peduli padamu," ucap Agung.
Sesaat kemudian Agung menempelkan bibirnya di bibir sang kekasih. Dia menyesap dengan lembut bibir yang terasa manis itu. Tak cukup sampai di situ, Agung menggigit bibir bawah Rere agar mulutnya terbuka sehingga dia bisa mengeksplore bagian dalam mulutnya.
Sesaat Rere pun terbuai. Badannya meremang. Agung menarik ujung bibirnya. Setelah puas menguasai bibir dia mencium bagian lehernya. Rere tak melakukan perlawanan. Dia cenderung menyukai permainan Agung.
Tak tak tak
Suara langkah kaki itu membuat keduanya mengentikan aktivitasnya. "Ternyata kalian di sini?" ucap Leo.
Dia memandang Agung dan Rere secara bergantian. Mereka jadi salah tingkah. Rere takut kejadian barusan diketahui oleh kakaknya. Dia tidak malu melainkan takut kakaknya itu akan marah pada Agung.
"Kapan kakak pulang?" tanya Rere menyembunyikan ketakutannya.
"Aku tadi ke rumah sakit tapi kamunya sudah pulang," protes Leo. "Gung terima kasih sudah menjaga adikku selama ini, sebaiknya kamu pulang. Orang tuamu pasti khawatir," usir Leo secara halus.
Dia bukannya tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan berdua sebelum kedatangannya, tapi Leo hanya tidak ingin mempermalukan adiknya.
Agung berdiri lalu dia pamit pulang. "Besok aku akan ke sini lagi? Bagaimana kalau aku membawa oran tuaku?" tanya Agung meminta pendapat pada Leo.
"Terserah Rere saja," jawab Leo.
Lalu Agung pun menoleh ke arah kekasihnya. Lalu apa jawaban Rere apa dia setuju dilamar oleh Agung besok?
__ADS_1