
Gilang menemukan Ruli tergeletak di lantai begitu saja. Wajahnya babak belur penuh luka. Sementara itu di sampingnya Amara masih dalam posisi terikat. Gilang melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Amara. Lalu Amara melepas lakban yang menempel di bibirnya.
Gilang dan Amara menolong Ruli. "Mas Ruli kamu tidak apa-apa?" tanya Amara panik sambil berderai air mata.
Ruli tak menjawab omongan adiknya. Dia mencari seseorang. "Gilang di mana Kristal?" tanya Ruli yang tak menemukan tunangannya bersama Gilang.
"Dia mengejar ayahmu." Ruli tak percaya Gilang membiarkan gadis itu mengejar ayahnya seorang diri.
"Kamu gila meninggalkan dia seorang diri. Ayahku sangat berbahaya," omel Ruli.
"Tenangkan dirimu. Kristal gadis yang pandai bela diri. Aku yakin dia punya banyak cara untuk melindungi dirinya. Sebaiknya aku hubungi polisi untuk meminta bantuan mereka saat ini," usul Gilang.
Amara mengajak Ruli duduk di dalam mobil. Dia begitu cemas memikirkan nasib Kristal. Lalu Ruli nekat mengendarai mobil seorang diri. Dia meninggalkan Amara pada Gilang. Amara tidak bisa mencegah keinginan kakaknya.
Ruli ingat ayahnya itu memiliki villa yang jarang dia kunjungi. Dia berpikir kalau ayahnya pasti bersembunyi di sana. Maka dia memutar mobil menuju ke villa tersebut.
Saat itu Kristal berhenti di kejauhan setelah mengetahui tempat persembunyian Heru. Dia tidak bisa mendekat karena banyak orang yang berjaga di sana. Lalu dia mengirimkan pesan pada kakaknya, Alex. Kristal meminta bantuan pada Alex agar menghubungi polisi.
Tapi Alex pikir polisi akan bertindak lambat. Lalu Alex menghubungi ayahnya dan mengatakan jika Kristal dalam masalah. "Baik, papa akan kirim anak buah papa untuk membantu Kristal. Papa juga akan ikut ke sana," jawab Jaden yang sedang berbicara pada Alex melalui sambungan telepon.
"Mama ikut, Pa," rengek Berlian.
"Sebaiknya mama di rumah. Ini terlalu berbahaya. Putrimu itu memang tidak bisa diam." Berlian pun menurut perintah suaminya.
Kristal yang sibuk dengan handphonenya tidak menyadari keberadaan orang yang menodongkan senjata ke arahnya. "Turun!" Perintah laki-laki itu.
Di saat yang bersamaan Ruli datang dengan membawa senjata. "Lepaskan dia!"
Kristal yang melihat penjahat itu lengah langsung menarik lengannya lalu mematahkan pergelangan tangannya. Senjata yang dia pegang terjatuh. Tangannya pun diplintir Kristal ke belakang.
__ADS_1
"Bawa kami pada tuanmu!" Perintah Kristal. Dia berjalan sambil mencengkeram tangan penjahat itu di belakang punggungnya.
Ruli mengikuti Kristal di belakangnya masih dengan memegang senjata api untuk melindungi diri.
Heru melihat anak buahnya disandera oleh Kristal. "Ternyata calon menantuku ini jagoan," ledek Heru.
"Sebaiknya serahkan diri anda pada pihak yang berwajib, Pak."
Heru tertawa renyah. "Aku tidak segila itu Kristal. Kamu lupa aku harus mengurus bisnisku denganmu. Bukankah kita akan bekerja sama?"
"Aku tidak lupa tapi aku ingin melupakan perjanjian kontrak kerja sama kita. Tidak ada untungnya bagi perusahaanku bekerja sama dengan orang seperti anda."
Heru mengepalkan tangan menahan amarahnya. "Kamu tahu aku bisa berbuat apa saja untuk mendapatkan keinginanku. Sebaiknya kamu tidak terlalu ikut campur."
"Jangan banyak bicara lagi. Serahkan dirimu pada pihak yang berwajib!" Sahut Ruli.
Heru tersenyum miring. "Aku tidak yakin kamu bisa menggunakan senjata itu?"
"Sebelum kau menembakku. Peluru anak buahku akan lebih dulu jatuh ke kepalamu." Heru memberikan kode pada anak buahnya untuk menembak. Kristal segera menghindar. Gadis itu berguling dan bersembunyi ke belakang dinding. Begitu juga dengan Ruli. Beruntung laki-laki itu mengetahui situasi jadi dia bisa menghindar sebelum peluru itu mengenai kulitnya.
Kristal mencoba menembakkan pistol yang dia pegang tapi sialnya itu tidak berfungsi. Dia menatap tajam ke arah Ruli untuk menyuarakan protesnya. Ternyata dia memegang pistol mainan. Kristal pun membuang pistol mainan yang dia pegang. Lalu dia melihat posisi anak buah Heru yang sedang memegang senjata. Dia ingin mengambil ancang-ancang agar bisa merebut senjatanya.
"Keluarlah. Jangan jadi pengecut!" Tantang Heru.
Kristal melempar sesuatu ke arah lain. Ketika perhatian teralihkan, Kristal menyergap salah seorang anak buah Heru dari belakang. Gadis itu mematahkan kepalanya hingga dia pingsan. Lalu Kristal mengambil senjata tersebut. Dia kembali bersembunyi agar tidak ketahuan.
Lalu Kristal menembaki kaki anak buah Heru dari balik dinding. Saat semua orang sudah kalah Kristal berjalan ke arah Heru dengan penuh percaya diri. Kristal tidak takut meski laki-laki yang bergelar ayah tunangannya itu tengah memegang senjata.
Heru menembak ke arah Kristal tapi tembakan itu melesat ke atas karena Ruli menyerang ayahnya dari belakang. Ruli dan Heru terguling dari lantai atas. Namun, keduanya masih bisa bangkit dan berkelahi. Mereka saling serang.
Sementara itu Kristal tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menunggu pertikaian itu selesai. Heru berusaha mengambil senjatanya kembali tapi Kristal mengarahkan tembakannya tepat di saat Heru akan memungut senjata itu. Laki-laki itu mundur.
__ADS_1
"Anda sudah bisa berkutik lagi Pak." Kristal menodongkan senjata yang dia pegang ke kepala Heru. Tapi Heru menarik tangan Kristal kemudian menyimpannya ke belakang punggung. Heru merebut senjata dari tangan Kristal setelah itu menjadikan dia sandera.
"Ayah, lepaskan dia!" Seru Ruli.
Di saat yang bersamaan Jaden datang bersama anak buahnya. Dia terkejut ketika melihat anaknya sedang disandera.
"Biarkan aku pergi!" Pinta Heru pada Ruli. Ruli mengangguk tapi dia berbohong. Dia berpikir untuk menangkap Heru setelah melepas cengkeraman tangannya dari tubuh Kristal.
Heru menyeret Kristal sampai ke samping mobil. Lalu Jaden menembak kaki Heru dari jarak yang lumayan jauh. Dia tidak bisa membiarkan penjahat yang berusaha mencelakai putrinya itu hidup.
Heru terduduk ketika betisnya terkena timah panas yang ditembakkan oleh Jaden. "Papa," Kristal berhambur ke pelukan orang tuanya.
"Kenapa papa ke sini? Aku kan meminta bantuan bang Alex," protes Kristal.
"Jangan ganggu dia. Kamu tahu kan Sandra butuh seseorang untuk menjaganya."
"Maaf aku dalam keadaan mendesak."
Ruli mengikat ayahnya dengan tali seadanya. "Nikmati sisa hidupmu dibui." Heru mengerang kesakitan tapi Ruli membiarkannya.
Lalu Jaden memerintahkan anak buahnya untuk membawa Heru dan semua anak buahnya ke kantor polisi.
Ruli mendekat ke arah Jaden. "Maaf karena telah membuat putri anda dalam bahaya," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak percaya omonganmu. Aku tahu Kristal gadis yang nekat. Dia akan berbuat sesuatu sesuai keinginannya. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri." Kristal menampakkan deretan gigi putihnya.
Ruli tersenyum lega mendengar penuturan Jaden. "Terima kasih sudah membantu saya. Maafkan orang tua saya."
"Jelaskan itu nanti saja. Sebaiknya kamu pulang dan segera obati lukamu itu." Ruli mengangguk patuh.
Kristal berjalan menuntun Ruli ke dalam mobil. "Kristal ikut pulang bersama papa," perintah Jaden dengan tegas. Kristal mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1