
Kristal berkaca di depan cermin. Dia menyadari perubahan bentuk tubuhnya yang semakin melebar. "Apa aku sedot lemak saja ya Mas?" Kristal meminta saran sang suami.
"Tidak usah melalukan hal yang aneh-aneh sayang. Aku suka dengan perubahan badanmu. Kamu terlihat sangat sek*si."
Kristal memicingkan matanya. "Ini pujian atau ejekan Mas?" tanya Kristal curiga. Ruli terkekeh menanggapi ucapan istrinya.
"Bagaimana pun bentuk badanmu, aku tetap mencintaimu apa adanya. Perasaanku padamu tidak akan berubah." Ruli mengecup punggung tangan istrinya. Hati Kristal berdesir ketika mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut sang suami.
"Jangan menggodaku, Mas."
Sesampainya di kantor, Kristal merasa pakaian yang dipakai saat ini terlalu ketat. "Sepertinya aku harus membeli baju baru, Re."
"Kenaikan berat badan anda terlihat signifikan Bu," ucap Rere dengan jujur.
"Apa terlihat sangat jelas?" tanya Kristal pada asisten pribadinya. Rere mengangguk yakin.
"Jam makan siang nanti kita ke toko untuk beli baju baru," ajak Kristal. Rere hanya menurut apa perintah atasannya.
Kristal menepati janjinya untuk mengajak Rere ke sebuah toko bunga terlebih dulu. "Kenapa kita mampir ke sini, Bu?" tanya Rere bingung.
"Aku suka bau bunga-bunga ini." Kristal mencium satu persatu bunga yang ada di toko itu. Padahal sebelumnya Kristal tidak suka pada bunga. "Aku ingin beli beberapa tangkai untuk menghiasi kamarku," imbuhnya.
Di depan toko bunga itu berdiri sebuah toko baju yang baru dibuka. "Kita coba lihat-lihat baju di toko itu barangkali ada yang pas dan cocok untuk kupakai," ajak Kristal.
Kristal melangkah lebih dulu. Saat dia akan menyeberang, sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Kristal hampir saja tertabrak jika tidak ditolong oleh seseorang. Laki-laki asing itu menarik tangan Kristal sehingga dia selamat dari maut.
Kristal memegang dadanya yang berdebar. Dia sangat ceroboh hingga tidak memperhatikan sekeliling.
Rere menyusul atasannya itu. "Anda tidak apa-apa, Bu?" tanya Rere yang begitu khawatir. Kristal menggeleng.
Kristal menghadap laki-laki yang menyelamatkan dirinya. "Terima kasih banyak telah menyelematkan saya," ucap Rere pada laki-laki asing yang menolong dirinya.
"Sama-sama," jawabnya singkat.
"Ah, bagaimana saya harus membalas kebaikan anda?" Kristal ingin impas.
"Tidak perlu nona saya menolong anda atas dasar kemanusiaan," ucapnya dengan suara merdu.
__ADS_1
"Saya Kristal siapa nama anda?" tanya Kristal.
"Saya Brian," jawab laki-laki tersebut.
Kristal mengambil sesuatu yang ada di dalam dompetnya. "Ini kartu nama saya, apabila anda membutuhkan pertolongan anda bisa menghubungi saya."
Brian mengambil kartu nama yang diberikan oleh Kristal. Setelah itu dia berpamitan. Brian tersenyum menyeringai karena berhasil mendapatkan nomor handphone Kristal.
Di tempat lain, seorang pengunjung di restoran milik Ruli memberikan ulasan buruk tentang makanan yang disediakan. Di dalam ulasan tersebut dia menyertakan gambar yang terlihat seperti belatung. Di caption-nya dia mengatakan kalau makanan yang dimasak di restoran milik Ruli tidak higienis.
Pengunjung yang datang ke restoran Ruli menjadi sepi. "Pak apa anda sudah lihat ulasan mengenai restoran kita?" tanya Gilang.
"Apa yang mereka ulas? Apa ada yang mencurigakan?" tanya Ruli. Gilang menunjukkan ulasan buruk di handphonenya.
"Hubungi bagian dapur! Apa mereka sudah menjaga kebersihan bahan makanan?" Gilang menuruti perintah atasannya.
Setelah itu Ruli masuk ke dalam dapur untuk mengecek bahan baku yang akan dibuat makanan di restorannya. "Kalian sudah lihat ulasan yang dikirim oleh customer kita?" Sentak Ruli. Para pegawai yang bekerja di bagian dapur menunduk takut.
"Pak Ilham, silakan beri penjelasan!" Ruli meminta kepala chef yang bertugas untuk menjelaskan.
"Gilang selidiki kejadian ini! Aku tidak mau citra restoran yang aku bangun dengan baik tiba-tiba rusak karena ulah satu orang yang tidak penting," perintah Ruli dengan tegas.
"Apa ini ada hubungannya dengan Yanti ya?" Gumam Meilani seorang diri. Dia tahu wanita itu bisa saja nekat setelah pemecatan Tidak terhormat yang dilayangkan kepadanya.
"Meilani, ada apa?" tanya Gilang.
"Saya sudah lihat ulasan buruk mengenai restoran kita, Pak. Akankah kita membiarkan saja?" tanya Meilani.
"Menurut kamu bagaimana Meilani?" Gilang bertanya balik.
"Saya khawatir ini ada hubungannya dengan Yanti Pak. Apakah anda masih ingat dengan wanita tersebut?"
"Ya, aku ingat. Jadi kamu berpikir dia yang membuat restoran kita sepi pengunjung?" tanya Gilang. Meilani mengangguk.
"Aku akan menyelidiki masalah ini."
Sesampainya di rumah, Ruli terlihat murung. "Ada apa, Mas?" tanya sang istri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa hanya masalah kecil," jawab Ruli berbohong. Dia tidak mau membuat Kristal kepikiran.
"Kalau ada masalah jangan disembunyikan Mas. Ceritakan padaku siapa tahu aku bisa menolong." Kristal mengusap punggung suaminya.
"Aku sudah menyiapkan air hangat Mas. Sebaiknya kamu mandi dulu supaya kamu lebih segar." Ruli menuruti saran istrinya.
Di tempat lain, Brian mengunjungi kakaknya yang kini mendekam di penjara. "Apa kabarmu?" tanya Brian pada Vano.
"Seperti yang kau lihat. Bagaimana usahamu untuk menghancurkan kekasih Kristal?"
"Apa kau tidak tahu kalau mereka sudah menikah?" tanya Brian setengah meledek.
Vano memukul jeruji besi yang mengurungnya. "Sial, jangan-jangan mereka telah melakukan one night stand? Bukankah mereka terlalu terburu-buru?"
"Aku tidak tahu alasan mereka menikah. Tapi gadis bernama Kristal itu sangat menarik," ucap Brian sambil tersenyum mengingat wajah cantik Kristal.
Vano menarik ujung bibirnya. "Dapatkan dia jika kamu mau dengan caramu," Vano meracuni pikiran adiknya.
Setelah itu Brian menghubungi nomor telepon Kristal yang ada di kartu namanya. "Hallo."
"Hallo, ini siapa?" tanya Kristal melalui sambungan telepon.
"Aku Brian. Bisakah kau membantuku mencari pekerjaan? Aku sudah resign dari tempat kerjaku yang lama."
"Baiklah, datanglah ke alamat yang tertera di kartu namaku," kata Kristal.
Kemudian Brian menemui Kristal di kantornya. "Apakah aku bisa lihat CV mu?" Brian memberikan sebuah amplop yang berisi surat lamaran pekerjaannya.
Kristal membaca surat lamaran tersebut. "Pendidikanmu tinggi, kalau aku boleh tahu kenapa kamu keluar dari tempat kerjamu yang lama?"
"Aku berselisih dengan salah satu pegawai di sana," bohong Brian.
"Di perusahaanku hanya ada lowongan sebagai kasir apa kau bersedia? Belum ada lowongan di bagian yang sesuai dengan ijazahmu."
Brian terpaksa menerimanya. "Tidak masalah," jawab Brian dengan yakin.
Setelah itu Kristal meminta Rere untuk menunjukkan apa saja yang perlu dikerjakan oleh Brian. "Selalu teliti, jangan sampai ada kesalahan dalam menghitung pendapatan hari ini." Rere memberikan peringatan pada pegawai barunya itu.
__ADS_1