Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kekhawatiran Rere


__ADS_3

Selamat hari natal bagi yang merayakannya.


...♥️♥️♥️...


"Agung dari mana saja?" tanya ayah Agung. Dia sengaja menunggu anaknya pulang karena khawatir.


"Belum tidur, Pa?" tanya Agung.


"Kamu ditanya malah balik nanya," protesnya. "Jawab dulu pertanyaan papa!" Omel sang ayah.


"Wajah kamu kenapa babak belur begitu? Apa kamu berantem?" tanya ayahnya yang memperhatikan wajah putranya itu terdapat bekas pukulan yang menyisakan memar di wajahnya.


"Nggak apa-apa. Papa kaya gak pernah muda aja."


"Nanti saja ceritanya. Aku ngantuk banget, Pa." Agung berlalu begitu saja meninggalkan ayahnya. Dia memilih pergi ke kamar karena matanya sudah sangat mengantuk. Saat ini sudah jam tiga pagi.


Agung merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk. Dia memejamkan mata sebelum ayam berkokok lebih dulu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu itu membuat Agung terusik. Rasanya baru beberapa jam yang lalu dia tertidur tapi sudah dibangunkan.


"Agung, bangun! Kamu berangkat kerja apa tidak?" Teriak ibunya.


Meskipun tidur hanya tiga jam tapi tidurnya sangat nyenyak jadi dia sudah tidak mengantuk lagi. Hanya saja badannya terasa pegal karena semalam habis berantem melawan penjahat.


Dia berjalan gontai untuk membukakan pintu. "Kerja, Ma," jawab Agung dengan malas.


"Ya sudah mama cuma mau ingetin aja. Lho wajah anak mama yang ganteng ini kenapa? Kamu habis dipukuli orang?" tanya sang ibu.


"Nggak apa-apa, Ma. Cuma berantem sebentar buat nolongin Rere karena diganggu sama preman," ungkap Agung.


"Ya ampun, lalu bagaimana keadaan Rere?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Sedikit syok. Tapi nanti Agung mau jenguk dia setelah pulang kerja."


"Ya sudah sampaikan salam mama pada Rere." Agung mengangguk.


Sementara itu Leo membujuk adiknya agar mau sarapan tapi dia menolak. "Nanti kamu sakit." Leo mencemaskan adiknya.


"Hari ini aku ingin menjenguk pria yang kupukul kepalanya dengan batu. Izinkan aku pada atasanku, Kak," pinta Rere.


"Kamu tidak perlu peduli dengannya. Ingat kamu hanya membela diri jangan terbawa perasaan. Dia pantas mendapatkannya," jawab Leo dengan ketus.


Rere meneteskan air mata. "Aku takut dipenjara," ungkapnya.


Leo memeluk adiknya yang ketakutan. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika ada yang menuntutmu aku akan menyewa pengacara termahal di kota ini," ujar Leo meyakinkan adiknya.


"Terima kasih, Kak. Aku beruntung memiliki kakak seperti dirimu."


Leo mengecup kening adiknya. "Percayalah aku akan selalu melindungimu." Leo memeluk erat Rere.


Hari ini dia mengabulkan permintaan adiknya agar dia tidak terus merengek. Dia juga telah menelepon Kristal guna meminta izin pada atasannya tersebut. Leo terpaksa berbohong dengan mengatakan jika Rere sedang tidak enak badan. Kristal pun memberikan izin tanpa ba bi bu.


"Kenapa kamu harus berpakaian seperti ini?" Leo merasa aneh pada Rere.


"Aku hanya tidak ingin wajahku diketahui publik, Kak," jawab Rere seolah dia publik figur.


Leo hanya menggelengkan kepalanya. Percuma saja menegur Rere. Dia memang gadis yang unik.


Meski Rere berpenampilan tertutup tapi Leo masih sama. Dia mengenakan setelan jas rapi seperti biasanya. Pekerjaan Leo terpaksa ditinggal sebentar demi menemani sang adik mengunjungi laki-laki itu.


Rere hanya ingin memastikan kalau laki-laki itu tidak mati setelah dipukul olehnya. "Bagaimana keadaannya?" tanya Rere pada perawat yang keluar dari ruangan tersebut. Kini gadis itu dan kakaknya tepat di depan ruangan pria itu.


"Apakah anda keluarganya?" tanya perawat tersebut. Dia menelisik penampilan Rere yang mencurigakan. Beruntung Leo langsung bisa membawa ekspresi wajah perawat tersebut. "Kami adalah orang yang menyelamatkan dia semalam," tutur Leo memberi tahu perawat tersebut.


"Dia sudah mendingan. Semalam darah yang keluar dari kepala bagian belakangnya cukup banyak sehingga dia harus menjalani operasi." Ucapan perawat tesebut membuat Rere menahan tangis. Ada rasa bersalah yang menyelimuti dirinya. Apakah dia berhak kasian pada orang yang berusaha mencelakai dirinya semalam?

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuknya. Saya akan menanggung semua biaya pengobatan laki-laki itu," ucap Leo diangguki oleh perawat tersebut.


"Bagaimana apa kamu sudah puas menjenguknya?" tanya Leo pada Rere. Gadis itu mengangguk. "Terima kasih banyak, Kak. Kamu harus mengeluarkan banyak uang untuk menanggung semua kesalahanku." Rere menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu.


"Jangan cengeng. Sebaiknya kita pulang sekarang. Urusan kita sudah selesai di sini," ajak Leo.


"Aku tidak mau pulang. Antar aku ke makam orang tua kita. Sudah lama kita tidak mengunjungi mereka." Leo tidak menyangka adiknya sedang merindukan orang tuanya. Leo menatap sendu pada Rere. Sejak kecil mereka sudah ditinggal oleh orang tuanya.


"Baiklah, aku akan mengajakmu ke sana."


Di tempat lain, Agung sedang tidak fokus bekerja karena terus memikirkan kekasihnya. Sejak tadi handphone Rere tidak aktif. Agung jadi merasa cemas.


Alex menepuk bahu Agung dari belakang. "Ngapain sih melamun saja?" tegur Alex.


"Semalam aku berkelahi dengan preman yang berbuat hajat pada Rere," ungkapnya.


"Lalu?" Alex malah terlihat antusias mendengar cerita Agung. Dia penasaran dengan kejadian selanjutnya.


"Rere memukul salah satu dari kelompok tersebut dengan batu di bagian kepalanya. Aku tidak tahu seberapa parah lukanya. Tapi Rere terus mencemaskan orang itu."


"Apa dia takut masuk bui?" tebak Alex. Agung memberikan tatapan tidak menyenangkan pada Alex.


"Aku hanya menebak," terang Alex.


"Kau benar. Dia sangat ketakutan hingga tidak bisa tidur. Bahkan aku harus menemani dia tidur."


Alex memberikan tatapan menyelidik pada Agung. Agung dapat membaca pikiran Alex. "Aku tidak melakukan sesuatu dengannya. Mana mungkin laki-laki terhormat memanfaatkan situasi," ucapnya penuh percaya diri.


"Cih, bilang saja karena kamu diawasi oleh kakaknya?" cibir Alex.


"Aku akan menahan diri sampai resmi menikah dengannya." Agung bangkit setelah mengatakan itu pada Alex. Sedangkan Alex tertawa nyaring karena puas mengerjai Agung.


Setelah pulang kerja, Agung mengunjungi rumah Rere. Saat itu dia melihat rumahnya tampak sepi. Bahkan pagar rumah mereka pun digembok. " Ke mana Rere?" gumam Agung.

__ADS_1


Tin tin


Suara klakson itu membuat Agung menoleh. Kira-kira siapakah dia?


__ADS_2