
"Aku mau ke kamar dulu. Mau siap-siap buat nanti malam." Kristal meninggalkan Meilani dengan pemikirannya sendiri. Kristal merebahkan badannya di atas ranjang. Kepalanya sungguh pusing. Dia tiba di rumah abangnya tanpa menyapa pemilik rumah.
Dia malah ketiduran tanpa ganti baju terlebih dulu. Pada saat acara tiba, Ruli datang bersama mama Lira dan Amara. "Kamu nggak ngajak Kristal?" tanya Sandra yang tak melihat adik iparnya itu. Sesaat kemudian mama Berlian ikut menyapa Ruli dan besannya.
"Aku berangkat dari rumah tidak sama dia, Kak. Dia berangkat dari kantor. Aku lihat mobilnya di sini kok Kak," kata Ruli.
"Hah, tapi anaknya di mana? Biar mama cari dulu. Sejak mama datang tidak melihat dia," balas Berlian. Mama Berlian pun melihat ke kamar yang biasanya di tempati Kristal. Kebetulan tidak dikunci.
Mama Berlian menghela nafas ketika melihat anaknya tertidur. "Kristal," panggilnya dengan lembut agar Kristal terbangun. Namun, dengan berbagai cara dia membangunkan Kristal, mama Berlian tak mendapatkan hasil. "Apa anak ini pingsan?" Dia yang merasa khawatir lalu memanggil suaminya.
Namun, ketika mereka tiba, Kristal tiba-tiba terbangun dengan rambut acak-acakan. "Kristal, kami kira kamu pingsan," seru Berlian.
"Tadi memang sempat pusing Ma. Tapi ini udah enakan kok," terang Kristal.
"Ya sudah kamu siap-siap. Suami dan mertuamu juga sudah ada di bawah," perintah Jaden. Kristal mengangguk paham.
Berlian dan Jaden membaur dengan keluarga besar lainnya. Anak Alex dan Sandra sudah berada di bawah di atas ayunan yang dihias. Sekelilingnya dihiasi balon-balon lucu untuk menambah kemeriahan acara.
Sesaat kemudian Kristal turun dengan mengenakan pakaian serba panjang. Tak lupa memakai hijab yang senada. Semua orang memperhatikan Kristal. Acara hari ini adalah syukuran sekaligus pengajian jadi dia menggunakan pakaian yang sesuai.
Kristal berjalan ke arah suaminya. Ruli masih terpana melihat kecantikan istrinya yang amat teduh. "Tidak bisakah kamu setiap hari memakai ini? Kamu sangat cantik seperti bidadari turun dari kahyangan," puji Ruli.
"Bukan waktunya menggombal," balas Kristal. "Oh iya, aku lupa beli hadiah buat adiknya Zavier."
"Tenang saja, aku dan mama sudah beli," jawab Ruli. Kristal pun bernafas lega.
Usai acara pengajian, tamu-tamu yang diundang Alex menikmati hidangan. "Makanannya pesan di mana, Jeng?" tanya seorang tamu yang tak lain adalah tetangga Sandra.
"Di restoran menantu saya," jawab Berlian membanggakan menantunya.
"Wah kapan-kapan saya mau pesan di sana kalau ada acara. Boleh minta nomor teleponnya tidak?"
Mengetahui dirinya dibutuhkan Ruli berjalan mendekat. "Ini kartu nama saya, Bu." Ruli memberikan kartu namanya dengan tujuan agar orang itu bisa menghubunginya sewaktu-waktu jika ingin memesan makanan.
__ADS_1
"Wah apakah anda pemiliknya?" tebak ibu-ibu itu. Ruli mengangguk.
Dari kejauhan Kristal mengamati suaminya. "Cih, sama ibu-ibu tebar pesona," cibir Kristal melihat suaminya sedang berbincang dengan kumpulan ibu-ibu pengajian yang datang.
"Suaminya ke mana neng?" Goda Meilani.
"Noh, lagi TP TP sama ibu-ibu," jawab Kristal dengan ketus. Dia meminum sirup yang ada di gelas hingga tandas lalu menaruh gelasnya dengan kasar. Setelah itu berjalan ke samping suaminya.
"Assalamualaikum ibu-ibu, permisi saya mau bawa suami saya pulang. Soalnya sudah malam. Rumah kami agak jauh dari sini."
"Anda istrinya?" tanya salah seorang ibu dari kumpulan wanita paruh baya itu. Kristal mengangguk pelan menyesuaikan pakaian yang dia kenakan. Berpakaian jilbab lengkap membuatnya harus terlihat anggun di depan tamu-tamu yang hadir malam itu.
"Permisi," pamit Ruli menggandeng tangan istrinya dengan lembut. Hati Kristal merasa berdesir hingga membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Mas, kita pulang sekarang?" tanya Kristal.
Ruli menghentikan langkah lalu menoleh ke arah Kristal. "Bukannya kamu tadi yang ngajakin pulang?" tanya Ruli.
"Aku bawa mobil sendiri," terang Kristal.
Ruli berjalan untuk memberikan kunci
mobil Kristal pada adiknya. "Oke kak, aku ngerti kok," jawab Amara ketika Ruli pamitan.
Setelah itu Ruli kembali menggandeng tangan istrinya dengan lembut. "Kamu boros sekali mas membeli mobil semahal ini," protes Kristal pada suaminya.
"Tuntutan pekerjaan. Aku ini kan bos masa pakai mobil biasa," ucap Ruli dengan nada angkuh.
"Iya, ya. Gumush deh kenapa suamiku balik lagi ke mode beruang kutub kaya dulu." Kristal mencubit dagu suaminya.
"Tapi aku pikir-pikir nyaman juga," imbuhnya.
"Tentu saja sayang aku ingin memanjakan kamu."
__ADS_1
"Itu mulut makan gula berapa kilo?" Ledek Kristal. Ruli hanya terkekeh geli.
Setelah itu mereka menuju ke rumah. Ketika sampai di rumah, Ruli mengajak istrinya ke kamar. "Apa mas mau aku bikinin kopi?" tanya Kristal.
"Teh hangat saja, campur madu kalau ada," pinta Ruli pada istrinya.
Ruli menunggu di dalam kamar sembari mengecek laptopnya. Ternyata ada laporan keuangan bulan ini yang belum diselesaikan. Kristal menuju ke kamarnya dengan membawa secangkir teh hangat pesanan suaminya.
"Sibuk ya, Mas?"
"Iya ada anak buahku yang ngirim surat elektronik berisi laporan untung rugi bulan lalu."
"Apa perlu aku bantu?" Kristal menawarkan bantuan.
"Tidak usah sayang, sudah malam sebaiknya kamu istirahat. Nanti aku nyusul ya." Kristal mengangguk paham. Setelah itu dia mengganti baju.
Sayangnya saat mengganti baju, Ruli tak sengaja melirik ke arah istrinya. Otomatis jiwa kelakiannya pun bangkit. Dia berjalan lalu mendekap istrinya dari belakang. Kristal tersentak kaget.
"Mas," suara Kristal memekik. Tangan Ruli yang nakal itu sungguh membuatnya geli. Bagaimana tidak tiba-tiba saja dia meraba ke seluruh bagian tubuhnya. Sedangkan mulutnya mencium bagian pundaknya.
"Katanya mau kerja?"
"Nanti saja. Aku punya bawahan yang bisa kusuruh untuk mengerjakannya nanti. Aku hanya perlu membubuhkan tanda tangan saja," jawab Ruli tanpa melepas pelukan. Setelah itu dia membalik badan Kristal.
Selanjutnya dia mengamati wajah cantik Kristal yang tak pernah bosan dia lihat. Kulit putih bak susu, mata yang indah, buku mata yang lentik serta hidung mancung membuat Ruli betah berlama-lama memandangi istrinya.
"Jangan lihat aku seperti itu," tegur kristal saat melihat tatapan suaminya yang tak dapat dia definisikan.
Ruli tak menghiraukan. Dia kembali menatap bagian wajah Kristal yang dirindukannya yaitu bibir merah alaminya. Ruli menempelkan bibirnya perlahan. Kristal memejamkan mata ketika suaminya mencium bibirnya.
Ruli tersenyum mana kala istrinya itu memberikan kode untuk melakukan lebih. Tentu saja tidak sekedar ciuman yang mereka lakukan. Apalagi Kristal telah membuka sebagian baju yang ia kenakan. Tentu saja Ruli tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
...***...
__ADS_1
Yuk mampir ke novel teman aku, jangan lupa subscribe ya