Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Hamil lagi


__ADS_3

"Kalau pakai tespek kurang akurat sayang, sebaiknya mama antar ke dokter kita bawa anak-anak sekalian," usul Mama Berlian.


"Tapi kan Ma, kalau di rumah sakit nggak boleh bawa anak-anak."


"Nggak usah ke rumah sakit, antrinya lama. Kita ke dokter spesialis yang buka di klinik saja biar tahu hasilnya dengan segera."


"Boleh, Ma. Tapi kita naik taksi saja, ya. Kepalaku agak berat."


"Biar mama yang stir mobilnya," kata Mama Berlian. Di saat seperti ini mamanya memang selalu bisa diandalkan.


Sementara Kristal pergi bersama ibu dan anaknya, Lala menyelinap keluar. "Kamu mau ke mana?" tanya asisten rumah tangga di rumah itu.


"Beli pembalut sebentar, Mbok. Ternyata saya sakit karena mau menstruasi hari ini saya nggak ada stok."


"Ya sudah jangan lama-lama." Lala mengangguk patuh.


Lala pun mencari tukang ojek untuk belanja ke mini market. Di perjalanan menuju mini market Lala melihat toko baju yang baru buka dia jadi ingin mampir ke sana. Tertulis di spanduk besar SERBA 50RIBU. Mata Lala langsung hijau. Dia pun tak melewatkan kesempatan itu.


"Berhenti, Bang. Saya mau beli baju dulu," ucapnya lalu mengambil uang untuk membayar ojek.


"Wah, bagus-bagus murah lagi." Lala mencoba satu per satu pakaian yang ingin dia beli hingga dia lupa tujuan utamanya keluar.


Ketika akan membayar pakaian yang dia beli, Lala tak mendapati dompetnya di saku celananya. "Lho ko hilang sih? Ke mana dompetku?" gumam Lala lirih. Dia merasa malu karena tidak bisa membayar belanjaannya.


"Maaf nggak jadi beli," ucapnya mengembalikan pakaian itu pada kasir.


"Kalau nggak punya uang jangan pura-pura nggak bawa dompet, jangan-jangan mau maling," sindir salah seorang pelayan toko tersebut. Lala yang mendengar omongannya langsung melirik dengan tajam.


"Kamu kira aku ini menganggur?" tantang Lala.


"Alah paling kamu gelandangan yang pengen baju gratis," tuduhnya tidak sopan.


Lala langsung menjambak rambut pegawai toko itu. "Jangan sembarangan bicara!" sentaknya dengan nada tinggi. Dia tidak terima dikatai gelandangan.


"Pekerjaan aku itu menghasilkan banyak uang ketimbang pekerjaan kamu ini," ungkap Lala.

__ADS_1


"Heh kalian kenapa ribut di toko saya," teriak pemilik toko pakaian itu.


"Ayo ikut ke pos keamanan." Pemilik toko itu menarik tangan Lala dan pegawai tokonya dengan kasar.


"Ada apa ini, Pak?" tanya petugas keamanan itu.


"Mereka membuat kerusuhan di toko saya. Pembeli jadi kabur," gerutu pemilik toko tersebut.


Sementara itu, Kristal merasa senang karena setelah diperiksa dia positif hamil. "Aku ingin kasih kejutan ke papanya anak-anak," ucap Kristal memberi tahu ibunya.


"Mama senang karena mau nambah cucu lagi. Tapi apa kamu tidak akan kerepotan nanti mengurus tiga balita?" tanya Mama Berlian.


"Kan ada Lala, Ma. Dia akan bantu Kristal. Mungkin sementara aku fokus ngurus bayiku nanti. Setelah Rere keluar aku kesulitan mencari penggantinya," ungkap Kristal.


"Ya sudah nanti mama juga bantu ngurus anak kamu tenang saja." Kristal mengangguk menanggapi ucapan ibunya.


Setelah menebus vitamin, Kristal mengajak ibu dan anak-anaknya pulang. Sesampainya di rumah asisten rumah tangganya mengadu jika Lala belum kembali.


"Memangnya tadi dia pamit ke mana?" tanya Kristal.


"Tidak apa-apa, Bi. Nanti saya hubungi handphonenya," jawab Kristal.


"Mama ke kamar anak-anak dulu ya sayang," ucap Mama Berlian.


Setelah itu, Kristal menelepon handphone Lala. "Kamu di mana?" tanya Kristal pada Lala lewat sambungan telepon.


Lalu pemilik toko itu menanyakan siapa yang menelepon Lala. "Dia majikan saya," ungkapnya. Pemilik toko itu langsung merebut ponsel Lala dengan kasar.


"Hallo, tolong anda ke sini. Pegawai anda ada di pos satpam karena membuat kerusuhan di toko saya," terang pemilik toko tersebut.


"Baik, tunggu saya di sana."


"Ma, aku akan menjemput Lala. Dia membuat masalah di luar," terangnya.


"Apa kepalamu sudah tidak pusing lagi?" tanya Mama Belian yang cemas.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Nanti aku naik taksi saja." Kristal pun mengambil tas lalu dia melangkahkan kakinya keluar. Dia sedang menunggu taksi di luar. Kebetulan sekali suaminya pulang kerja. Ruli membuka kaca mobilnya.


"Sayang mau ke mana?" tanya Ruli pada istrinya.


Kristal buru-buru masuk ke dalam mobil suaminya. "Kebetulan sekali, Mas. Ayo jemput Lala dia membuat masalah di luar," ungkapnya pada sang suami.


"Bukannya dia sedang sakit?" tanya Ruli yang bingung.


"Aku pun tidak tahu, nanti minta penjelasan langsung dari Lala," jawab Kristal. Ruli memutar mobilnya lalu Kristal pun menunjukkan jalannya.


Sesampainya di lokasi, Kristal dan suaminya turun. "Kami sudah menunggu lama," seru pemilik toko tersebut.


"La jelaskan sama saya," perintah Kristal pada baby sitternya itu. Lala pun menjelaskan secara detail.


"Jadi apa mau anda sekarang?" tanya Ruli.


"Banyak pembeli yang kabur gara-gara dia," tunjuk pemilik toko itu. Lala hanya menunduk. "Bayar kerugian sebesar satu juta untuk kerugian yang disebabkan olehnya."


"Apa anda ingin memeras kami, Pak?" tanya Lala. Dia cemas karena dia tidak punya uang sebanyak itu.


"Baik, akan saya berikan uang yang anda mau," kata Ruli. Mau tidak mau Ruli memberikan satu juta pada pemilik toko itu. Setelah urusan selesai Kristal dan Ruli mengajak Lala pulang.


Sesampainya di rumah, Ruli mengintrogasi Lala. "Saya tahu saya salah, Pak. Bapak bisa potong gaji saya," ucap Lala sambil menunduk.


"Tidak perlu," sahut Kristal. Lala mendongak. "Anggap saja itu bonus buat kamu," kata Kristal. "Tapi jangan mengulangi lagi." Lala mengangguk cepat.


"Saya janji, Bu." Lala mencium tangan majikannya berkali-kali. Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Mulai saat ini Lala berjanji tidak akan membuat masalah lagi. Jika bukan karena bantuan majikannya, dia bisa saja dipenjara.


Sesaat kemudian mama Berlian pamit pulang. "Glen dan Gwen sudah tertidur mama pulang dulu ya."


"Ma, biar aku antar." Ruli menawarkan tumpangan. Mama Berlian tidak menolak ajakan menantunya.


Sementara menunggu Ruli pulang, Kristal merebahkan diri di atas ranjang hingga tak terasa matanya pun terpejam saking ngantuknya. Satu jam kemudian Ruli membuka pintu kamarnya. Ketika berjalan dia tak sengaja menyenggol tas istrinya hingga isinya berserakan.


"Apa ini?" Ruli mengambil sebuah surat yang jatuh dari tas istrinya. Ruli mengulas senyum lebar karena melihat hasil pemeriksaan istrinya yang menyatakan dirinya hamil.

__ADS_1


Tak lama kemudian Kristal yang merasa mendengar suara berisik membuka mata. Ruli bangkit dan memeluk istrinya. "Aku bahagia," ucapnya pada sang istri. Kristal belum menyadari kalau suaminya sudah tahu kalau dia hamil.


__ADS_2