Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kangen


__ADS_3

Hai readersku budayakan like setelah membaca ya sayang. Othor sangat menantikan dukungan kalian


...♥️♥️♥️...


Kristal berniat menemui Ruli di restorannya saat ini juga. Dia ingin bicara pada kekasihnya itu mengenai adiknya. Dia tidak ingin gadis itu menjadi korban Vano berikutnya.


Sesampainya di restoran, Kristal langsung berjalan ke ruangan Ruli. Namun, dia berpapasan dengan Gilang.


"Long time no see," sapa Gilang dengan senyum di wajah tampannya. Kristal akui kalau Gilang memang tampan tapi hatinya tidak berdesir. Berbeda saat dia menatap Ruli, tiba-tiba degup jantungnya selalu tidak beraturan jika menatap wajahnya yang teduh.


Kristal hanya menjawabnya dengan senyum. Sesaat kemudian Ruli datang menghampiri. "Sayang, kenapa kemari? Bagaimana bayinya apakah sehat?"


Kristal sedang menahan tawa saat ini. Terlebih saat melihat Gilang keheranan. "Sehat," jawab Kristal yang mengikuti permainan acting Ruli. Dia tahu siapa yang ditanyakan Ruli karena mereka sempat bertukar pesan ketika gadis itu sedang mengantar kakak iparnya.


Gilang yang merasa kebingungan memilih berlalu dengan segala pertanyaan di benaknya. Kristal dan Ruli tertawa ketika Gilang sudah pergi. Kristal memukul lengan kekasihnya itu. "Kamu sengaja kan?" tanya Kristal memastikan. Dia bahkan tidak tega melihat wajah bingung Gilang.


"Siapa suruh mendekati kamu. Ingat ya kamu hanya milikku seorang."


"Hish, berlebihan," cibir Kristal.


"Ada apa kemari?" tanya Ruli.


Dari arah lain Amara masuk ke dalam restoran tersebut. "Kakak." Panggilan itu membuat Kristal dan Ruli menoleh.


"Dia kan adiknya Mas Ruli," batin Kristal ketika melihat gadis yang usianya diperkirakan tak jauh berbeda dengannya itu.


"Amara ngapain kamu ke sini?" tanya Ruli pada adiknya.


"Mama menitipkan dompetmu yang ketinggalan. Dia siapa?" tanya Amara yang merasa asing pada wanita yang berdiri di hadapan kakaknya itu.


"Oh, kenalkan ini calon kakak ipar kamu, namanya Kristal."


Kristal mengulurkan tangannya. "Kristal."


Amara tak langsung membalas uluran tangan pacar kakaknya itu. Dia menelisik wajah Kristal dengan teliti. "Blasteran ya?" tanyanya sebelum membalas uluran tangan Kristal.

__ADS_1


Kristal mengangguk. Tak kunjung dibalas akhirnya dia menurunkan tangannya. Tapi tiba-tiba saja tangannya terangkat karena Amara menarik tangan Kristal dengan kasar.


"Ya ampun beruntung banget kakakku ini punya cewek bule. Kakak keturunan negara mana?" tanya Amara dengan antusias.


Kristal mengerutkan dahi. Dia mengira Amara ini gadis yang dingin tapi ternyata sebaliknya. "Jerman," jawabnya singkat.


"Oh ya? Kamu tidak pernah cerita?" Protes Ruli.


"Kamu nggak pernah nanya, balas Kristal."


"Oh ya, ada apa sayang kenapa siang ini kamu ke sini tanpa memberi tahu aku terlebih dulu?" Ruli mengulangi pertanyaannya.


Dia bingung mau menjawab apa. Sebenarnya dia berniat untuk menjauhkan Vano dari Amara. Namun, dia tidak mungkin mengatakan keinginannya di depan orang yang bersangkutan. Lalu Kristal pun menjawab dengan asal. "Kangen saja? Apa tidak boleh?"


Ruli tersenyum miring. Lalu dia menarik pinggang kekasihnya. Kristal dibuat kaget karenanya. "Tentu saja boleh ,sayang." Ruli berbisik di telinga Kristal.


Wajahnya menjadi merah karena malu terlebih di depannya disaksikan langsung oleh calon adik iparnya itu. Kristal malah mencubit perut Ruli. "Jangan sembarangan mengumbar kemesraan ingat yang dunia bukan milik kita berdua."


Ruli tergelak. "Anggap saja yang lain numpang."


"Siapa laki-laki itu?" tanya Ruli dengan nada dingin.


"Teman kerjaku," jawab Amara.


Suasana berubah menjadi tegang. Namun, tiba-tiba bunyi ponsel Kristal memecah ketegangan itu. Kristal pun melihat panggilan yang masuk. "Maaf sepertinya aku harus kembali ke kantor. Kalau tidak Bang Alex akan mengomel," pamit Kristal. Dia melambaikan tangan dan berjalan terburu-buru.


"Bang Alex siapa dia?" tanya Amara.


"Atasan sekaligus kakaknya," jawab Ruli lalu berlalu meninggalkan adiknya.


"Kak," panggil Amara. Ruli menghela nafas. "Apa lagi?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Amara.


"Dompetmu." Amara menyodorkan dompetnya. Ruli mengambil dompetnya dengan malas.


"Jangan cemberut gitu. Nanti tambah jelek," ejek Amara lalu pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Ruli merasa kesal adiknya tidak izin dulu saat akan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Sebagai kakak dia merasa khawatir jika adiknya itu akan dipermainkan oleh lelaki yang tak bertanggung jawab.


Di tempat lain, Kristal baru saja sampai di kantor. Alex sudah berkacak pinggang. Kristal hanya meringis dan menangkup kedua tangannya yang memohon pengampunan abangnya itu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Alex.


"Mampir ke restoran bentar beli makan aku kan lapar, apa tidak boleh?" Kristal terpaksa berbohong.


"Alasan paling kamu ke restoran pacar kamu itu bukan?"


"Bang kapan-kapan aku ajak mampir ke restoran Mas Ruli di sana ada menu kesukaan Kak Sandra. Dia kan lagi hamil pasti pengen makan makanan kesukaannya." Kristal berusaha mengambil hati abangnya itu agar tidak marah lagi.


"Hemm, boleh. Aku juga akan mengajak papa. Papa ingin sekali bertemu dengan calon mantunya," ucap Alex lalu dia melenggang pergi. Dia menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah Kristal yang ketakutan.


Kristal menepuk jidatnya. "Ya ampun, bagaimana kalau papa tidak merestui aku dan Mas Ruli? Ah kenapa harus ada acara bertemu dengan orang tua segala," gerutu Kristal. Dia membayangkan sikap papanya yang dingin akan menyusahkan kekasihnya itu.


"Kristal," panggil seseorang yang membuat Kristal membulatkan mata.


"Papa, kenapa bisa ada di sini? Padahal baru juga diomongin," ucap Kristal yang keceplosan hingga menutup mulutnya sendiri.


"Kamu ngomongin papa?" tanya Jaden dengan suara beratnya.


"Nggak, Pa. Papa ngapain ke sini?" tanya Kristal.


"Papa ada perlu sebentar dengan abangmu," jawab Jaden lalu masuk ke ruangan Alex.


Kristal memegang bagian dadanya. "Papa membuatku jantungan. Begini saja aku sudah was-was bagaimana kalau Mas Ruli bertemu dengan papa?" Kristal menggelengkan kepalanya cepat.


"Ah, pikir keri," serunya menirukan apa yang sering diucapkan orang Jawa untuk menyatakan dirinya yang berusaha cuek.


Di tempat lain Amara yang telah kembali ke kantornya menyapa Vano yang tengah berada di depan layar komputer. "Serius sekali," tegurnya sambil melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Vano.


"Sayang, kamu sudah kembali?" tanya Vano seraya mengulas senyum di wajahnya. Entah sejak kapan mereka jadian. Yang jelas mudah sekali bagi Vano mendekati juniornya yang baru bekerja beberapa minggu dengannya. Ataukah memang Amara yang mudah jatuh cinta.


"Sayang, apakah sepulang kerja nanti kamu mau ikut aku hang out?" tanya Vano. Amara sebenarnya ragu menjawab permintaan kekasih barunya itu. Tapi tidak enak juga kalau harus menolak.

__ADS_1


"Aku minta izin sama kakakku dulu ya?" Amara mengeluarkan ponselnya. Namun, Vano malah menurunkan ponsel yang diangkat Amara. "Kabari nanti."


__ADS_2