
Kristal mengentikan mobil yang dia kendarai di halaman parkir rumah sakit. Kemudian dia turun lebih dulu. "Mari, Pak. Saya bantu."
"Lepaskan tangan kamu yang kotor itu!"
Bentakan Ruli membuat Kristal kecewa. "Hish, laki-laki ini sudah ditolongin juga," gerutunya dalam hati. Kristal menarik nafas dalam-dalam. "Sabar Kristal, sabar. Dia itu sekarang atasan kamu. Dia juga udah nolongin kamu jadi kamu harus balas budi." Kristal menyemangati dirinya sendiri.
"Tangan anda terluka karena saya, Pak. Saya hanya ingin menolong anda." Kristal berkata dengan tulus.
Ruli berjalan lebih dulu menuju ke ruangan dokter. Kristal mengikuti langkah Ruli dari belakang. Dia ingin memastikan luka Ruli ditangani oleh dokter dengan tepat.
Sementara Ruli diobati dokter, Kristal dengan setia menunggu atasannya itu sampai keluar ruangan. Tak lama kemudian Ruli keluar dengan balutan perban di tangan kirinya.
"Pak, bagaimana luka anda?" Kristal begitu khawatir.
Ruli menatap Kristal. "Dari mana kamu belajar menyetir?"
Deg
"Mampuus, jawab apa nih?" Kristal gugup. Tapi dia tidak kehabisan akal.
"Saya belajar dari bapak saya yang jadi sopir angkot, Pak," jawab Kristal dengan asal.
Ruli mengerutkan keningnya. Dia tak percaya. "Kamu tidak bohong kan?"
"Tidak, Pak."
Tak mau mendapatkan banyak pertanyaan dari Ruli, Kristal berusaha menghindar. "Kalau begitu saya permisi, Pak. Saya sudah terlambat bekerja hari ini."
"Tunggu! Kamu gila ya meninggalkan saya dalam keadaan begini?" Ruli menunjukkan tangannya yang diperban.
"Eh, iya lupa. Maaf, Pak. Kalau begitu saya antar bapak pulang dulu lalu saya kembali ke restoran."
"Itu lebih baik."
Tangan Kristal menengadah meminta kunci mobil pada Ruli
"Kamu ngapain?" Tanya Ruli.
"Minta kunci," jawab Kristal dengan entengnya.
__ADS_1
"Bukannya kamu yang bawa mobil tadi." Ucapan Ruli membuat Kristal tersadar kalau dia meninggalkan kunci mobil atasannya itu. Kristal menepuk jidatnya. Lalu dia berlari ke parkiran.
Di saat yang bersamaan ada dua orang laki-laki mencurigakan yang mengintip mobil Ruli. "Heh, mau apa kalian?" Teriak Kristal.
"Kita ketahuan, Bos," lapornya pada teman yang dia hormati.
Laki-laki itu mengulas senyum tipis. "Tenang saja, dia hanya perempuan." Laki-laki asing itu meremehkan Kristal. Dia mengajak temannya itu menangkap Kristal. namun, saat akan menyentuh Kristal lebih dulu memukul tangan salah satu di antara mereka.
Ruli melihat Kristal dan dua preman itu dari kejauhan. Dia ingin mengamati terlebih dulu.
"Weits, galak Bos." Laki-laki itu tertawa.
"Pergi kalian! Mau aku panggilkan Satpam?" Ancam Kristal.
"Kami tidak takut." Salah seorang di antaranya mengeluarkan belati. Kristal tampak tenang menghadapi para preman itu.
"Mau apa kalian dengan pisau buah itu?" Ledek Kristal.
"Untuk membelah buah daadaa mu." Keduanya tertawa terbahak-bahak.
Tak terima dengan omongan preman yang terkesan melecehkannya, Kristal menghajar preman itu. Gadis itu maju dua langkah lalu memutar badan dan menggunakan kaki jenjangnya untuk menendang wajah salah seorang preman. Alhasil, dia pun terjatuh akibat pukulan kaki gadis cantik yang berdiri di hadapannya itu.
"Dasar gadis tidak tahu diuntung." Preman lain menyerang Kristal dengan tinjunya. Untung saja putri pasangan Berlian dan Jaden itu dengan cepat menghindarinya. Saat pria itu kembali menyerang Kristal hanya menghindar tanpa membalas pukulannya hingga dia kelelahan.
"Cuma segitu kemampuan kamu?" Tanya Kristal yang terdengar meremehkan kemampuan lawan.
Lalu kedua preman itu maju secara bersamaan. Ketiga orang itu berkelahi di halaman rumah sakit. Tapi tak seorangpun yang datang membantu.
Kedua preman itu tidak mau menyerah. Kristal mulai membalas pukulan mereka. Dihajarnya preman itu habis-habisan hingga wajahnya babak belur dan mengeluarkan darah.
Kristal mulai kelelahan. Saat salah seorang di antaranya menyadari, dia mengambil kesempatan itu. Laki-laki itu melihat ke sekeliling dan menemukan balok. Balok itu akan digunakan untuk melemahkan Kristal. Ruli tidak tinggal diam. Dia berlari lalu menendang dengan sekuat tenaga laki-laki yang memegang balok itu.
Kristal menoleh. Lalu dia mengakhiri perkelahian dengan melumpuhkan preman yang lain. Kristal menyikut bagian daadaa laki-laki itu lalu memukul kepalanya dengan kepalan tangannya.
Ruli telah memanggil polisi dan polisi tiba tepat waktu. Setelah itu Ruli mendekati Kristal. "Pak, anda baik-baik saja?" Tanya Kristal khawatir karena Ruli juga ikut berkelahi.
"Dasar bodoh, kenapa harus berkelahi segala?" Ucap Ruli sambil mengacak rambut Kristal. "Lihat tanganmu penuh luka."
Kristal mematung di tempat. Dia tidak menyangka Ruli bisa bersikap manis padanya. "Mimpi apa aku semalam bisa diperhatikan sama bos?" Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Kristal, Kristal." Dia seolah mendengar namanya disebut.
"Iya, Pak." Kristal setengah sadar. "Eh tadi dia manggil aku apa ya?" Kristal hanya membatin. Gara-gara melamun otaknya jadi tidak sinkron.
"Kamu tidak apa-apa Nara? Apa perlu kita masuk ke dalam untuk mengobati luka kamu ini?" Tanya Ruli.
Sekilas Kristal melihat Alex yang baru saja keluar dari lobi rumah sakit. Kristal segera berbalik badan. "Mampus, Bang Alex ngapain di sini?"
"Tidak, tidak usah, Pak. Sebaiknya kita segera kembali ke restoran." Setelah mengatakan itu, Kristal langsung masuk ke dalam mobil. Tak lupa dia memakai masker agar Alex tidak mengenali dirinya. Kristal kembali melamun.
"Pakai ini!" Wajahnya bertabrakan dengan wajah Ruli ketika Ruli bermaksud memasangkan sabuk pengaman.
Jantung Kristal serasa ingin loncat dari tempatnya. Bahkan dia bisa merasakan hangat nafas laki-laki itu. Untung saja dia memakai masker sehingga ciuman bisa dihindari.
"Saya bisa pakai sendiri, Pak." Kristal cepat-cepat memasang sabuk pengamannya. Lalu dia menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area rumah sakit. Dia takut ketahuan oleh Alex.
Namun, dia lupa kalau Ruli duduk bersamanya. "Kamu ini kebiasaan. Aku belum sempat memakai sabuk pengaman," protes Ruli mendengus kesal.
Kristal menepikan mobil yang dikendarai setelah merasa aman. "Maaf, Pak. Saya lupa."
"Kurang Aqua ya kamu kenapa hari ini lupa melulu?"
"Jangan sebut merk, Pak. Nanti kena royalti," gurau Kristal sambil terkekeh.
"Gadis ini, misterius sekali. Tapi dia sangat menyebalkan. Ingat Ruli kamu tidak mungkin menyukai gadis yang baru saja kamu kenal, bukan?" Ruli menggelengkan kepalanya cepat untuk mengusir pikirannya.
"Bapak sehat?" Tanya Kristal.
Ruli mengacak rambut Kristal dengan kasar. "Bapak!" Protes Kristal yang kesal karena rambutnya acak-acakan.
"Hish, dia nggak tahu apa perawatan rambut aku tuh mahal."
"Kenapa? Jalan!" Perintah Ruli dengan angkuh. Kristal hanya mendengus kesal.
...♥️♥️♥️...
sambil nunggu author up kalian bisa baca novel teman aku ya
__ADS_1