
"Kenapa muntah lagi?" Tanya Ruli. Dia membantu istrinya duduk di sofa.
"Dia nyium bau pup Liora. Sebaiknya kamu bawa dia keluar," saran Sandra pada suami adik iparnya itu.
"Dek, onty keluar dulu ya." Kristal masih sempat pamitan sama Liora. Padahal anak kecil itu tidak mengerti.
Alex mendekati ibunya. "Ma aku titip anak dan istriku ya di sini."
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Mama Berlian. Tumben putranya itu menitipkan anak dan istrinya.
"Aku mau ada urusan bisnis di luar kota. Ini perintah papa juga selama seminggu," jawab Alex. "Satu jam lagi aku akan berangkat ke bandara," imbuhnya setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sesaat kemudian Kristal dan Ruli mendekat. "Abang mau keluar kota kamu mau dibawakan oleh-oleh apa dek?" tanya Alex pada Kristal.
"Apa aja, Bang," jawab Kristal. Dia sih tidak begitu berharap pada abangnya tapi dia hanya ingin menyenangkan Alex.
"Ma, kita mau pulang dulu. Kristal butuh istirahat." Ruli memberanikan diri untuk meminta izin pulang pada ibu mertuanya.
"Tunggu sebentar." Mama Berlian berlalu ke belakang. Setelah itu dia kembali dengan membawa satu rantang di tangannya.
"Bawa pulang ini lalu makan setelah sampai di rumah. Ingat makan yang banyak, jangan terlalu banyak makan yang asam-asam nanti kamu sakit perut.
Setelah berpamitan mereka masuk ke dalam mobil. Alex juga meninggalkan rumah orang tuanya di waktu yang bersamaan. Dia akan terbang satu jam lagi.
Seperti beberapa waktu lalu, Kristal langsung tertidur ketika masuk ke dalam mobil. Matanya tidak bisa diajak kompromi. Ruli membiarkan istrinya tertidur pulas. Sesekali dia membetulkan kepalanya yang miring.
Sesampainya di rumah, Ruli tak membangunkan istrinya. Dia langsung menggendong tubuh Kristal hingga masuk ke dalam rumah.
"Kristal kenapa?" tanya mama Lira yang melihat mata menantunya itu terpejam. Apa dia pingsan? Pikir mama Lira cemas.
__ADS_1
"Dia hanya mengantuk, Ma," jawab Ruli sambil berjalan menaiki tangga. Mama Lira mengikuti mereka sampai ke depan kamarnya lalu membantu membukakan pintu.
"Mama sudah belikan susu hamil untuk Kristal. Kamu bisa buatkan dia kalau dia mau. Mama taruh di laci dapur." Sungguh ibu mertua yang amat perhatian bukan. Kira-kira mematahkan image ibu mertua yang selalu galak tidak readers?
"Terima kasih banyak Ma," ucap Ruli.
Laki-laki tampan itu merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan. Lalu dia menggenggam tangan istrinya dan mencium punggung tangannya. Setelah itu dia beralih ke perut kristal. "Jangan rewel ya sayang. Nanti kasian mama." Ruli berbicara pada janin yang tumbuh di rahim istrinya itu. Setelah itu Ruli merebahkan diri di samping Kristal.
Kristal lumayan lama, dia terbangun karena merasa lapar. Wanita yang sedang hamil muda itu pun membangunkan suaminya. "Mas bangun sebentar." Dengan sekali goncangan Ruli membuka matanya.
"Ada apa sayang?" tanya Ruli.
"Aku lapar," ucapnya sambil mengusap perutnya. Ruli ingat saat mama Berlian memberikan sebuah rantang berisi makanan tadi.
Dia sempat meminta tolong mamanya untuk menghangatkan makanan itu. Lalu Ruli mengajak istrinya ke dapur. Dengan sigap dia menyiapkan masakan mama Berlian.
"Aku tidak mau makan itu, Mas." Kristal mendorong piring yang disodorkan oleh suaminya.
"Makan mi instan," bisik Kristal.
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh makan itu. Kurang bagus buat bayi kita sayang."
Kristal mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu biarkan anak dan istrimu ini kelaparan dan tidak bisa tidur semalaman." Kristal mendramatisir keadaan.
Mau tak mau Ruli membuatkan mi instan. Tapi dia menambahkan sayur seperti sawi dan wortel. "Sudah jadi." Ruli membawa mangkok berisi mi yang masih panas itu pada istrinya.
Wajah Kristal berbinar saat melihat asam yang mengepul di atas mi tersebut. "wah tampilannya cantik sekali. Mari kita coba apa rasanya seenak bentuknya."
"Bagaimana?" Ruli menanti jawaban kristal. Dia baru pertama kalinya memasak mi instan.
__ADS_1
"Enak Mas." Kristal menghabiskan satu mangkuk mi buatan suaminya.
"Ingat ya sayang ini terakhir kalinya kamu makan makanan tidak sehat seperti ini." Ruli memberi peringatan pada istrinya. Kristal menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.
"Siap, Pak Bos. Sekarang aku sudah kenyang. Ayo naik."
Sebelum mengikuti istrinya naik ke lantai atas, Ruli mencoba sedikit kuah mi instan yang dia masak. "Beh, asin." Ruli meludah saat mencicipi rasa mi buatannya yang keasinan.
"Dasar bumil aneh. Lidahnya apa nggak kaku ya makan makanan seasin itu?" Setelah membereskan piring Ruli naik ke atas menyusul istrinya.
Saat naik ke kamarnya, Ruli melihat sang istri meringkuk kedinginan. Dia pun mengecilkan AC kamarnya. Kemudian dia ikut merebahkan diri di samping istrinya sambil memeluk tubuh Kristal.
Keesokan harinya, Kristal mual muntah seperti biasa. Ruli menyingkap selimut yang ia kenakan. "Mual lagi ya?" tanya Ruli. Kristal mengangguk lemah. Setelah selesai membuang isi perutnya, kristal diajak oleh suaminya duduk di tepi ranjang.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya aku buatin minuman hangat." Kristal tersenyum patuh.
Ruli pun menginjakkan kakinya di dapur. "Cari apa, nak?" tanya mama Lira.
"Susu hamilnya di mana Ma?"
"Di laci sebelah kanan atas."
Ruli pun membuka laci itu dan melihat susu hamil yang begitu banyak. "Mama borong supermarket ya?"
"Buat cadangan. Lagi pula sembilan bulan itu lama lho jadi harus stok banyak lagi."
Baiklah, terserah mamanya. Sekarang istrinya sedang menunggu. Ruli membaca aturan minum susu tersebut lalu membuat sesuai aturan yang tertulis.
"Semoga dia suka," gumam Ruli tersenyum puas dengan hasil karyanya pagi ini.
__ADS_1
"Sayang, cobalah!" Ruli menyodorkan segelas susu hangat pada istrinya.
Apa reaksi Kristal?