
Hari ini Meilani terpaksa izin ke tempat kerjanya. Ketika karyawan lain melihat Meilani masuk ke dalam sebuah mobil, mereka membicarakan Meilani di belakang.
"Eh, apa dia calon suaminya Meilani?" tanya teman Meilani pada temannya yang lain.
"Mungkin saja. Beruntung ya janda seperti Meilani bisa mendapatkan laki-laki kaya seperti dia." Temannya merasa iri.
"Selama ini aku tidak pernah melihat Meilani jalan dengan seorang laki-laki jadi mana mungkin itu calon suaminya?"
"Mungkin mereka baru pacaran." Yang lain hanya manggut-manggut.
Setelah itu Gilang menghadap kakak Meilani. "Mel kamu bawa siapa?" tanya Mira pada adiknya.
"Dia mas Gilang, calon suamiku," jawab Meilani. Mira terkejut rupanya laki-laki tangan amna menikah dengan adiknya dulu kembali lagi. Mira memang belum sempat melihat wajah Gilang karena mereka batal menikah. Sedangkan saat melamar dulu Mira tidak hadir dikarenakan jarak yang terlalu jauh.
"Masuk! Kita bicara di dalam saja!" ajak Mira.
Gilang ikut masuk ke dalam rumah Mira. "Silakan duduk, Mas."
"Jadi untuk urusan apa kamu datang ke sini Gilang?" tanya Mira.
"Saya ingin menikahi Meilani," jawab Gilang dengan mantap. Sejujurnya dia sangat gugup berhadapan langsung dengan kakak Meilani.
"Bukankah dulu keluargamu yang membatalkan pernikahan kalian? Kenapa sekarang ingin melamar Meilani. Kamu tahu bukan Meilani bukan anak gadis lagi. Dia sudah menjadi seorang ibu, Gilang."
Mira sangat sedih mengingat nasib adiknya yang tidak beruntung itu. Dia bahkan menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Saya tahu, kak. Saya mengerti keadaan Meilani. Dulu saya bodoh karena tidak bisa menentang permintaan orang tua saya untuk membatalkan pernikahan kami. Tapi kini saya sadar hidup saya terasa kosong dan hampa tanpa orang yang saya cintai. Asal kakak tahu, saya terpuruk selama berbulan-bulan dan menjadi pencandu alkohol setelah batal menikah dengan Meilani."
Meilani menjadi sedih ketika Gilang menceritakan kisah hidupnya sepeninggalan Meilani. Mira juga tidak menyangka Gilang sangat kehilangan adiknya itu.
"Sekarang maunya kaya gimana Gilang?" tanya Mira meminta kepastian. Tentu saja dia tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan adiknya. Meilani sudah banyak menderita setelah musibah yang menimpanya.
"Saya akan membawa Meilani dan anaknya ke Jakarta," jawab Gilang dengan yakin.
__ADS_1
"Apa aku bisa mempercayai kamu?" Gilang mengangguk yakin.
"Bagaimana dengan kamu Mel?" Giliran Mira mengajukan pertanyaan untuk adiknya.
"Aku percaya kalau ucapan Mas Gilang bukan sekedar janji, Mbak. Tolong restui kami."
Mira menghela nafas. "Baiklah, datanglah ke rumah orang tua kami untuk meminta restu. Jika mereka menentang jangan sekali-kali membantah mereka. Bujuklah mereka dengan cara halus. Kamu harus lebih bersabar lagi Gilang." Mira menasehati Gilang.
"Baik, Kak."
Setelah itu, Gilang membawa Meilani pulang ke rumah orang tuanya. Tak lupa dia membawa anaknya Meisya. "Aku pamit, Mbak. Terima kasih selama ini sudah menampungku dan membantu merawat anakku."
Mira mengusap rambut adiknya dengan sayang. "Mbak akan merindukan kalian." Setelah itu Mira mengecup pipi gembul Meisya.
Gilang membukakan pintu mobilnya kemudian membawa barang-barang Meilani masuk ke dalam bagasi mobil. Tak lupa Gilang membunyikan klakson sebagai salam perpisahan dengan Mira. Mira pun melambaikan tangan. Dia mengusap air matanya yang menetes. Ada perasaan lega karena adiknya telah mendapatkan calon suami.
"Semoga Gilang menepati janjinya untuk melindungi kamu dan anakku, Mel," gumam Mira seraya melihat mobil Gilang yang semakin menjauh.
Gilang menoleh ke arah anak kecil yang sedang tertidur di pangkuan ibunya itu. Dia begitu cantik dan mirip dengan Meilani. "Siapa namanya?" tanya Gilang.
"Namanya cantik secantik anaknya," puji Gilang. Meilani tersenyum dia merasa senang karena Gilang mau menerima anaknya.
"Terima kasih, Om," ucap Meilani menirukan gaya bicara anak kecil.
"Kok Om sih? Panggil papa dong!"
Meilani membulatkan matanya. Dia bahkan meneteskan air mata ketika mendengar Gilang menyuruh anaknya memanggil papa. "Terima kasih, Mas. Tapi sayangnya dia belum bisa bicara," ucap Meilani sambil terkekeh.
Gilang melirik sedetik untuk melihat senyum di wajah Meilani yang cantik. "Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum seperti ini. Dulu kamu gadis yang sangat ceria. Itulah kenapa aku menyukaimu."
Wajah Meilani menjadi merah merona karena malu. Wanita itu mengulas senyum tipis. Tak lama kemudian Meisya terbangun dan menangis.
"Apa aku membangunkannya?" tanya Gilang panik.
__ADS_1
"Tidak, dia sepertinya haus," jawab ibu satu anak itu.
Pikiran Gilang langsung travelling ke mana-mana. Dia bahkan susah payah menelan ludahnya. "Tolong berhenti sebentar!" Perintah Meilani.
Gilang yang terkejut lalu mengerem secara mendadak. "Maaf, aku terkejut," akunya.
"Aku ingin membuatkan susu sebentar untuk Meisya."
"Lho dia tidak minum ASI kamu?" tanya Gilang yang heran seharusnya anak seusia Meisya masih mengandalkan ASI.
"Produksi ASI ku kurang lancar jadi aku sambung menggunakan susu formula," jawab Meilani dengan jujur. Gilang pun mengerti sekarang. Dia pikir dia akan melihat pemandangan tak biasa ketika Meilani menyusui anaknya.
"Sudah, Mas. Ayo jalan lagi."
"Sebaiknya kita mampir ke restoran dulu. Ini sudah siang. Kamu juga perlu makan." Meilani mengangguk setuju.
Di tempat lain, ayah Gilang tak menemukan keberadaan anaknya. "Apa kamu tidak tahu ke mana perginya Gilang?" tanya Ayah Gilang pada Ruli. Dia bahkan mendatangi tempat kerja Gilang.
"Tidak, om. Saya sedang sibuk dengan urusan restoran jadi saya tidak memperhatikan dia." Ruli sengaja berbohong. Meski dia tahu kalau Gilang mencari Meilani tapi dia tidak akan mengatakannya pada pamannya itu.
"Ya sudah kabari jika kamu bertemu dengannya. Om ingin mengenalkan dia pada anak teman Om." Ruli mengangguk paham.
"Aku pamit."
"Baik, Om. Hati-hati."
Setelah kepergian pamannya. Ruli mencoba menghubungi Gilang. Sayangnya handphonenya tidak aktif. Lalu dia mengirim pesan singkat pada Gilang. Berharap dia akan membaca pesan tersebut. Di pesan itu Ruli mengatakan jika ayahnya sedang mencari.
Ketika selesai makan, Gilang mengaktifkan kembali ponselnya yang sedang dimatikan untuk menghemat daya. Laki-laki itu mengerutkan keningnya ketika membuka pesan singkat yang diterima dari Ruli.
"Ada apa, Mas?" Tanya Meilani ketika melihat perubahan wajah Gilang setelah membuka ponselnya.
"Tidak ada apa-apa. Lanjut lagi makannya. Biar Meisya aku yang gendong." Gilang mengambil Meisya dari gendongan Meilani. Anak kecil itu tersenyum ketika digendong laki-laki setampan Gilang. Meisya mungkin merasa kalau Gilang itu adalah ayahnya.
__ADS_1
Gilang pun senang karena anak kecil itu tidak rewel. Dia mencium pipi Meisya sekilas. "Aku janji akan menjadi ayah yang baik untukmu," batin Gilang mengucapkan janjinya.
Dia tidak akan membiarkan Meilani dan anaknya sengsara lagi. Dia janji akan membahagiakan mereka.