Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Request baby twins


__ADS_3

Mama Berlian mengerutkan kening ketika menerima mangga muda dari menantunya. "Apa ini? Kamu ngeledek mama ya?" Geram Berlian. Ruli tak menyangka reaksi mama mertuanya begitu mengejutkan. Ruli mengambil kembali bungkusan dari tangan ibu mertuanya itu.


"Maaf Ma. Ini punya istriku."


Mama Berlian mengerutkan kening. "Kamu kaya orang ngidam aja," sindir mama Berlian. Ruli dan Kristal saling berpandangan lalu menahan tawa.


"Kalau iya, apa mama tidak senang?" Kristal bergelayut manja di lengan sang ibu.


"Beneran? Apa kamu sedang ngeprank mama?" tuduhnya.


"Kristal beneran hamil, Ma," sahut Ruli. Mereka menunjukkan foto USG setelah dari rumah sakit tadi. Mama Berlian langsung mencubit kedua pipi anaknya. "Mama, kok dicubit sih," protes Kristal.


"Mama saking senangnya. Ayo masuk kamu pengen makan apa? Biar mama masakin." Mereka mengobrol sambil berjalan.


"Pengen makan rujak mangga, Ma."


"Pke nanti mama buatin. Bumbu rujak buatan mama paling the best." Mama Berlian memuji dirinya sendiri.


Ruli dan Kristal menunggu di pinggir kolam renang. "Kenapa nggak nunggu di dalam aja sih, Yang?"


"Di sini lebih enak anginnya sepoi-sepoi," jawab Kristal. Dia juga memakai kacamata hitam sambil duduk selonjoran di atas kursi.


"Udah kaya orang lagi liburan ke pantai aja kamu, Yang."


"Wah boleh tuh, kapan kita ke pantai?" Rupanya Ruli harus mengontrol ucapannya di depan istrinya.


"Nggak ada, nanti kamu kecapekan," tolak Ruli.


Tak lama kemudian mama Berlian membawa sebuah nampan yang berisi buah mangga muda yang sudah diiris-iris beserta bumbunya. Dan juga dua buah minuman. "Ma, kenapa nggak minta tolong sama mbak aja?" Ruli mengambil alih nampan yang dibawa oleh mama Berlian.


"Sedang sibuk. Tuh cobain bumbunya!"


Kristal pun antusias mencolek buah mangga itu ke bumbunya. Saking enaknya dia menjilati jari-jarinya. "Kristal jorok ih," tegur sang mama.

__ADS_1


"Enak banget, Ma. Kenapa mama nggak jualan rujak buah aja?" Mama Berlian menggelengkan kepalanya.


"Mana ada tukang buah cantik begini?" Ruli menahan tawa ketika mendengar ucapan mama mertuanya yang sedang menyombongkan diri.


"Mas apa kamu nggak mau coba?" Kristal menyodorkan buah mangga muda itu.


"Nggak buat kamu aja!" Tolak Ruli sambil mendorong mangkuk yang berisi buah itu.


Mama Berlian menatap hari pada putrinya. Sebentar lagi dia akan menjadi ibu semoga kali ini tidak ada kejadian yang bisa membuat putrinya itu kehilangan calon anaknya lagi.


"Mama pesan sama kamu jaga baik-baik kandungan kamu yang sekarang. Mama tidak mau kamu kenapa-kenapa."


"Iya, Ma." Kristal berjanji pada ibunya.


"Ma, besok belanja baju bayi yuk!" Kristal terkesan buru-buru.


"Nanti saja kalau sudah dekat waktu kelahirannya. Bukankah kamu belum tahu jenis kelaminnya apa?" Apa yang dikatakan mama Berlian ada benarnya.


"Siapa yang mau belanja baju bayi, Ma? Mama hamil lagi?" Ledek Alex. Tiba-tiba saja dia ada di sana.


"Nganterin Sandra, Ma." Sandra dan anaknya sedang berjalan ke arah mereka. Sandra sedang menggendong baby Liora. Bayi yang usianya baru satu tahun itu sangat menggemaskan dengan setelan warna pink dan hiasan bando di kepalanya.


Kristal langsung berdiri untuk menyambut keponakannya yang lucu itu. "Ya ampun kangen banget sama kamu," kristal menghujani ciuman bertubi-tubi di wajah Liora.


"Hush, hush jangan ganggu dia," usir Alex.


"Jangan dengarkan papamu ya Nak. Kenapa kamu wangi sekali sih? Onty suka bau kamu.


"Itu kan wangi bedak bayi sama minyak telon," ujar Sandra.


"Mas mulai besok kamu pakai minyak telon ya," perintah kristal pada suaminya. Ruli mendengus kesal. Masa iya dia bekerja dengan memakai minyak telon apa kata bawahannya nanti.


Alex menahan tawanya. "Jangan suka ngerjain suami, bisa kualat nanti," ledek Alex.

__ADS_1


Berbeda dengan Alex, Sandra ternyata sangat peka. "Jangan-jangan...." Sandra menoleh ke arah ibu mertuanya. Mama Berlian seolah tahu apa yang akan ditanyakan Sandra padanya. Mama Berlian pun mengangguk. Sandra tersenyum lebar. Alex masih tidak mengerti ada apa dengan istrinya.


"Wah sepertinya Liora mau punya adik. Request baby twins ya onty," kata Sandra.


Alex mengarahkan pandangannya pada Kristal. "Jadi kamu lagi hamil?" Alex menunggu jawaban adiknya. Kristal mengangguk. Alex langsung memeluknya. "Selamat ya Dek."


Alex begitu bahagia mendengar adik kandungnya akan menjadi ibu sebentar lagi. Alex tahu Kristal sangat menginginkan jabatan itu setelah sekian lama menanti hadirnya buah hati.


"Jadi kamu pengen makan apa? Biar nanti Abang yang carikan buat kamu?"


Kristal merasa bingung melihat perubahan sikap abangnya. Dia tidak pernah melihat abangnya perhatian seperti ini. Biasanya mereka akan bertengkar seperti anjing dan kucing jika sedang bersama.


"Sebenarnya yang jadi suami kamu tuh siapa sih?" Gerutu Ruli di dalam hatinya. Terus terang dia sedikit cemburu. Walaupun Alex adalah abangnya sendiri. Namun, dibalik itu dia senang karena semua orang begitu antusias dengan kehamilan Kristal.


"Sudah-sudah kita makan dulu. Mama sudah meminta embak buat masak banyak hari ini," seru mama Berlian.


"Oh ya kenapa kalian tidak mengajak Zavier?" Mama Berlian baru ingat dia memiliki satu cucu laki-laki.


"Dia ada di rumah Omanya," jawab sandra. Artinya Zavier sedang berada di rumah orang tua Sandra. Setelah itu semua orang berjalan ke ruang makan.


Akan tetapi Kristal malas untuk makan dia sedang ingin menemani baby Liora bermain. "Kristal makanlah walau sedikit!" Perintah mama Berlian pada putrinya itu.


"Nanti saja, Ma. Aku sudah kenyang makan rujak tadi," tolaknya.


"Ingat yang makan bukan kamu saja. Ada anak yang tumbuh di dalam perut kamu jadi kamu jangan abaikan kebutuhan gizinya." Setelah menasehati Kristal, mama Berlian keluar kamar.


Sandra yang telah selesai makan masuk ke dalam kamar untuk melihat anaknya. "Kak bagaimana cara membuat bayi secantik ini?" Kristal mencubit pipi Liora karena gemas.


"Makan sayur-sayuran segar dan buah yang banyak. Jangan lupa minum susu hamil pasti anak kamu secantik Liora," jawab Sandra. Sandra menasehati adik iparnya itu dengan cara yang unik.


Lama bermain dengan Kristal tiba-tiba Baby Liora menangis. "Kak dia kenapa?" Kristal begitu khawatir. Namun, Sandra tampak tenang menghadapi anak kecil itu.


"Mungkin dia haus." Sandra pun berniat memberikan ASI nya pada baby Liora tapi anak kecil itu menolak.

__ADS_1


Lalu Sandra mengecek popok Liora. "Oh ternyata dia sedang pup." Dengan telaten Sandra mengganti popo Liora.


Kristal yang mencium bau kotoran bay menjadi mual tak tertahankan. "Duh kenapa hidungku sesensitif ini ya?" Keluhnya. Ruli yang mendengar suara istrinya sedang muntah pun berjalan menghampiri. "Ada apa Yang?" Tanya Ruli cemas.


__ADS_2