
Kristal sengaja mengalah di pertandingan renang melawan tunangannya sendiri. Dia ingin agar Ruli lebih dekat dengan Zavier. Setelah melihat kemenangan Ruli anak itu mau diajari karena dia merasa Ruli sangat hebat. Dia ingin menjadi sehebat laki-laki yang akan menjadi pamannya itu.
Kristal senang melihat Zavier menurut pada Ruli. Dia tiba-tiba membayangkan jika dia sudah memiliki seorang anak nantinya. "Ah, belajar mengasuh anak mulai sekarang."
Setelah lama berenang, Kristal mengajak Zavier berganti baju. Dia mengurus anak itu dengan telaten. Ruli merasa bangga memiliki tunangan seperti Kristal. Saat melihat rambut Kristal membasahi bajunya, Ruli mengambil handuk lalu mengeringkan rambut Kristal.
Kristal merasa istimewa diperlakuan Ruli seperti itu. "Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum malu-malu.
Ruli membalas senyumnya. "Sama-sama sayangku." Tak lupa Ruli mencium bibir yang menjadi candunya itu sekilas. Wajah Kristal langsung merah merona.
"Onty aku lapar," rengek Zavier. Kristal dan Ruli sama-sama terkekeh karena setiap kali mereka bermesraan Zavier selalu memergoki mereka.
Setelah itu Ruli menggendong Zavier dan membawanya ke restoran yang ada di hotel tersebut. Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Namun, karyawan Kristal yang ada di hotel tersebut tahu kalau atasannya itu belum menikah.
Kristal memesan makanan untuk Zavier dan Ruli. Saat mereka makan Zavier tak sengaja melihat teman sekolahnya bersama sang ibu. Kristal melihat Zavier terus menatap ke arah gadis kecil itu. "Kamu kenal gadis cantik itu Zavier?" Zavier mengangguk pelan.
"Dia teman sekolahku," jawabnya.
"Kenapa tidak menyapanya?" tanya Kristal.
"Aku malu, onty." Kristal menahan tawa saat mendengar jawaban jujur dari keponakannya itu.
Lalu Kristal menarik tangan Zavier dan mengajaknya menyapa gadis kecil yang tak lain adalah teman sekolahnya itu. "Hallo," sapa Kristal. Lalu ibu anak itu menoleh dan tersenyum pada Kristal.
Kristal mengulurkan tangan. "Saya Kristal tantenya Zavier temannya anak anda." Tunjuk Kristal pada gadis kecil di samping wanita itu.
"Oh, saya Safa ibunya Willa," balasnya. Tak lama kemudian seorang laki-laki yang dikenal muncul dari belakang. "Kak Zidan," seru Kristal. Meski wajah Zidan telah berubah akibat operasi plastik yang dia jalani, tapi Kristal sudah beberapa kali bertemu dengannya.
Baca kisahnya di sini 👇
"Lho kalian ngapain ke sini?" tanya Zidan yang melihat sepupunya itu.
"Aku sedang makan bersama tunanganku lalu Zavier melihat temannya jadi dia ingin menyapa temannya," terang Kristal.
__ADS_1
"Bohong paman," elak Zavier.
"Ah, apakah dia..."
"Iya, dia kekasihku, orang yang telah menyelamatkan aku dari kecelakaan," jawab Zidan.
"Sayang," Ruli menghampiri tunangannya karena dia sangat lama.
"Kenalkan ini kak Zidan, apa kalian sudah pernah saling menyapa?" tanya Kristal pada Ruli. Laki-laki itu menggeleng. Lalu mengulurkan tangan kepada Zidan. "Ruli."
Zidan membalasnya. "Zidan, sepupunya Kristal."
"Sebaiknya kita kembali ke meja kita karena makanan kita sudah dingin." Kristal mengangguk patuh. Mereka kembali ke meja makannya. Zavier terlihat lahap menyantap makanan yang telah dipesan. Mereka menghabiskan sisa waktu hari ini dengan berbelanja.
Kristal mengajak Zavier berbelanja bahan makanan dan camilan. Namun, sepertinya Zavier terlihat sangat capek. Ruli yang memperhatikan anak kecil itu pun menggendong Zavier dengan suka rela.
"Calon ayah yang baik," puji Kristal sambil tersenyum.
"Jadi kapan kita buat anak?" Goda Ruli. Kristal mendorong keranjangnya sambil berlari.
Ruli menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia seringan kapas. Ototku ini kuat menggendong kamu saja aku mampu, mau coba?" Goda Ruli.
"Jangan macam-macam, Zavier sedang tidur sebaiknya kita keluar." Kristal menarik tangan Ruli. Berada di dalam kamar hanya akan membuat setan mesum di dalam kepalanya meronta-ronta.
"Mas Ruli mau minum apa?" tanya Kristal.
"Apa saja," jawab Ruli. Kristal pun berjalan ke dapur. Setelah itu dia membawakan secangkir teh hangat untuk Ruli. "Silakan diminum Mas."
"Ini nggak ada campuran obat tidurnya kan?" tanya Ruli curiga. Kristal menghela nafas berat. "Jangan berpikir macam-macam. Dari tadi menggodaku terus. Mas berharap kita akan melakukan one night stand?" tuduh Kristal.
"Kalau kamu mau kenapa tidak?" Bisik Ruli di telinga Kristal.
Kristal melotot tidak percaya. "Aku ingin menyiram kepalamu dengan air dingin boleh?" Ruli tertawa mendengar pertanyaan Kristal.
"Apa mas Ruli tidak pulang?" tanya Kristal.
__ADS_1
"Aku akan menemani kamu hingga orang tuamu datang." Kristal mengangguk setuju. Mereka menonton televisi bersama. Rasa capek seharian jalan-jalan Ruli dan Zavier membuat rasa kantuk Kristal tak tertahankan. Perlahan Kristal menyandarkan kepalanya di pundak Ruli.
Ruli mengelus pipi Kristal yang begitu lembut. Dia mencoba membangunkan Kristal tapi tidak berhasil akhirnya Ruli menggendong tunangannya itu ala bridal style. Ruli mengantarkan sampai ke kamarnya.
Dia merebahkan Kristal dengan perlahan. Setelah itu Ruli menyelimuti Kristal. Ruli keluar dari kamar Kristal. Namun, dia terkejut ketika melihat Jaden berkacak pinggang di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di kamar putriku?" Bentak Jaden. Ruli memejamkan matanya. Dia tahu kalau Jaden sedang salah paham padanya. "Om, saya bisa jelaskan."
"Nikahi Kristal besok!" Perintah Jaden dengan tegas.
Ruli menghembuskan nafasnya berat. Entah harus senang ataukah sedih yang jelas saat ini dirinya galau. Bagaimana tidak dia tidak memiliki persiapan untuk menikahi Kristal.
Keesokan harinya, Kristal terkejut ketika semua orang di rumahnya terlihat sibuk. "Ma, ada acara apa ini? Kenapa di rumah kita dihias macam-macam bunga?" tanya Kristal tidak mengerti.
Berlian tidak menjawab pertanyaan Kristal malah memberikan pertanyaan pada putrinya karena Kristal sudah rapi dengan pakaian kerjanya. "Kamu mau ke mana?" tanya Berlian.
"Kerjalah Ma. Aku sudah janji akan bertemu klien hari ini. Aku sedang menunggu kedatangan Rere."
"Kamu tidak boleh bekerja." Kristal mengerutkan keningnya.
"Kenapa Ma? Apakah aku perlu membantu persiapan pengajian di rumah, Ma?"
"Ini bukan acara pengajian tapi ini acara pernikahan kamu dengan Ruli." Kristal menajamkan pendengarannya.
"Ma, bisa ulangi lagi!"
"Kamu sama Ruli akan menikah hari ini."
Kristal berteriak kegirangan. "Mama serius? Kok mas Ruli semalam tidak bilang apa-apa?" Kristal memutar ingatannya kembali. Dia hanya ingat kalau sudah berada di dalam kamarnya tertidur di bawah selimut.
"Dasar nakal kamu yang menjebak Ruli hingga papamu menurunkan perintah untuk menikahi kamu hari ini," terang Berlian.
"Oh ya? Mana papa aku ingin memeluknya. Aku ingin berterima kasih pada papa karena aku akan melepas keperawananku malam ini." Berlian hanya menggelengkan kepalanya mendengar omongan absurb anaknya itu.
"Aku dulu ngidam apa ya bisa keluar anak seperti dia," batin Berlan menjerit.
__ADS_1