Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Bertemu calon mertua


__ADS_3

Ruli meminta izin pada Alex untuk menunggui Kristal sampai sadar. Sedangkan Agung, dia diminta pulang oleh Alex. "Sebaiknya kamu kembali saja, berikan mereka waktu untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Aku berharap kamu bisa move on dari Kristal. Carilah gadis yang lebih baik darinya." Alex menasehati asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu. Dia tahu Agung masih berharap bisa kembali pada adiknya. Tapi melihat Kristal dan Ruli yang saling mencintai, Alex berusaha mencegah terjadinya cinta segitiga.


Agung menghela nafas panjang. "Baiklah." Mau tidak mau dia menuruti perkataan Alex. Agung juga tidak bisa memaksa Kristal untuk menyukainya. Dia sadar kini Kristal sudah memiliki kekasih. Mungkin dia harus memendam rasa cintanya pada gadis itu selamanya sampai menemukan orang yang bisa membuatnya move on dari Kristal.


Alex kembali ke ruangan istrinya dirawat. Sedangkan Ruli menemani Kristal di ruang UGD. Dokter bilang dia tidak perlu dirawat karena penyebab pingsannya hanya kelelahan fisik saja. Satu jam kemudian, Kristal bangun.


Gadis itu menoleh ke kanan kiri menyadari kalau dirinya berada di tempat asing. "Mas Ruli, aku di mana?" tanya Kristal bingung. Dia berusaha bangun dibantu oleh Ruli.


"Kamu di rumah sakit tadi kamu tiba-tiba pingsan. Apa sekarang sudah baikan?" tanya Ruli dengan nada yang lembut.


Kristal mengangguk. "Mungkin hanya kecapean dan belum makan," jawabnya.


Ruli terkejut mendengar penuturan Kristal. Ternyata waktunya dihabiskan untuk bekerja sampai dia tidak sempat makan. "Maafkan aku karena telah menuduhmu yang bukan-bukan." Ruli merasa bersalah pada kekasihnya.


"Tidak apa-apa. Aku memahami perasaan mas Ruli. Aku juga minta maaf karena kesibukanku aku jadi lupa menghubungi dirimu Mas."


Tak lama kemudian Alex datang menjenguk. "Sudah sadar?" tanya Alex dengan ekspresi wajah datarnya.


"Mas kalau mau salahin dia aja. Nih yang bikin kita nggak bisa teleponan." Kristal tiba-tiba berubah manja di depan abangnya.


"Dasar gadis manja. Aku memang sengaja membuatmu bekerja keras supaya kamu siap memimpin perusahaan nantinya."


"Ah, aku cukup jadi ibu rumah tangga saja. Benar kan, Mas Ruli?" Kristal meminta dukungan dari Ruli. Ruli merasa gugup mendapatkan pertanyaan yang menjebaknya.


"Ehem, benar sayang. Biar aku saja yang kerja kamu cukup menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita nantinya," jawab Ruli sambil menampakkan senyum sejuta Wattnya itu.


Alex muak mendengar omongan pasangan kekasih itu. Mereka pamer kemesraan di depan dirinya. Padahal dulu bersama Sandra, dia tidak pernah mengucapkan kata-kata semanis itu.


Tanpa disuruh Alex pergi dengan sendirinya kembali ke kamar sang istri. Kristal mengajak Ruli untuk menjenguk kakak iparnya. Dia menarik tangan Ruli hingga laki-laki itu bingung karena Kristal tidak bilang apapun.


"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Ruli.

__ADS_1


"Jenguk kakak iparku. Dia sedang dirawat di rumah sakit ini."


"Tapi aku tidak membawakan sesuatu untuknya." Ruli merasa sungkan karena dia tidak membawa buah tangan untuk istrinya Alex.


"Tidak apa-apa. Aku hanya mau mengenalkan kamu pada kakak iparku yang baik."


Saat berada di dalam ruangan itu, Kristal terkejut ketika melihat papanya sedang mengunjungi Sandra. "Papa, mampus aku," batin Kristal.


Tiba-tiba gadis itu berbalik masih dengan menggandeng tangan Ruli.


"Kristal," panggil Jaden dengan suara beratnya.


Kristal menghentikan langkah. Bahunya meluruh seolah tak bersemangat masuk. "Papa," sapa Kristal. Ruli jadi terkejut karena laki-laki paruh baya itu ternyata orang tua Kristal. Ah, dia baru ingat wajah laki-laki itu saat di video viral yang menyeret kekasihnya beberapa waktu lalu. Ini pertama kalinya dia bertemu secara langsung.


Ruli berjalan mendekat ke arah Jaden. "Selamat malam, Om. Perkenalkan saya Ruli," ucapnya ambil mengulurkan tangan. Dengan sikap tenang Ruli mencoba menyapa Jaden.


Kristal me*re*mas tangannya yang dingin. Dia takut papanya akan marah pada Ruli. Marah karena apa tapi entahlah saat ini itu saja yang ada di pikiran Kristal.


Jaden melirik ke arah Kristal yang terlihat lebih gugup dari pada Ruli. Jaden pun menyunggingkan senyum dan membalas uluran tangan pemuda itu. "Saya Jaden, papanya Kristal."


"Kak Sandra gimana kabarnya? Dede bayi sehat?" Kristal mengelus perut Sandra yang sudah mulai membuncit.


Sandra membalas Kristal dengan senyum. "Alhamdulillah baik, besok kakak udah boleh pulang," katanya memberi tahu.


"Syukurlah. Lain kali hati-hati ya, Kak." Sandra mengangguk. Dia senang adik iparnya itu begitu perhatian padanya.


"Mulai besok, Abang bisa kembali ke kantor," sahut Alex.


"Baguslah. Aku mau cuti sehari. Aku capek mau liburan kalau perlu aku mau mudik ke Jerman," kata Kristal.


"Bilang aja mau minggat. Ya sudah minggat saja yang jauh biar kamu nggak bisa bertemu lagi sama pacar kamu itu," tunjuk Alex dengan dagunya. Meski terlihat seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu, tapi Alex sangat menyayangi adiknya itu.

__ADS_1


"Ah aku lupa." Kristal tersenyum lebar. "Maaf mas Ruli aku hanya becanda," ucapnya data menoleh ke arah Ruli. Ruli terkekeh mendengar omongan Kristal.


"Jadi apa kamu yakin pacaran sama dia? Apa kamu dipaksa oleh putriku ini?" Goda Jaden. Kristal mendelik tajam kepada papanya.


Ruli merasakan kehangatan keluarga Kristal. "Tidak sama sekali. Sejak pertama kali bertemu dengannya saya sudah merakan suasana yang berbeda. Entah kenapa setiap kali dekat dengan Kristal saya selalu ingin melindunginya. Tanpa sadari perasaan sayang itu tumbuh begitu saja."


"Apa kamu tidak merasa direpotkan?" tanya Alex pada Ruli. Kristal reflek memukul lengan kakaknya.


"Saya malah senang jika Kristal terus bergantung pada saya. Saya tidak keberatan jika direpotkan." Kristal meleleh mendengar kalimat manis yang diucapkan oleh Ruli.


Jaden merasa lega mendengar omongan Ruli. Dia bisa menilai kalau kekasih putrinya itu seorang laki-laki yang bertanggung jawab.


Jaden berjalan mendekat ke arah Ruli. "Ruli, Om ingin menitipkan anak om padamu. Bisakah kamu meminta orang tuamu datang ke rumah om secepatnya?"


Ruli terkejut sekaligus senang mendengar penuturan ayah Kristal. Dengan kata lain Ruli diminta melamar kekasihnya itu. Kristal sendiri tidak percaya kalau papanya yang meminta pujaan hatinya itu untuk melamar dirinya.


"Papa serius dengan ucapan papa?" Kristal ingin memastikan papanya itu tidak sedang mengeprank dirinya.


"Apa kamu mau papa tarik tawaran papa ini pada Ruli?" Kristal menggeleng cepat.


"Terima kasih papa," ucapnya sambil memeluk erat Jaden.


"Baik om. Secepatnya saya akan membawa orang tua saya untuk melamar Kristal," jawab Ruli dengan penuh keyakinan. Semangatnya seolah terisi penuh ketika mendapatkan restu dari orang tua pujaan hatinya.


"Tapi aku harap kamu bisa menjaga kehormatan putriku ini sampai sah menjadi milikmu," pinta Jaden pada calon menantunya itu. Ruli mengangguk paham.


Di balik jendela seseorang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Raut wajahnya tampak kecewa. Setelah itu, dia pergi entah ke mana.


...♥️♥️♥️...


pendukungnya Tali (Kristal dan Ruli ) angkat tangan ✋ kalau kalian benar-benar dukung Ruli sama Kristal jangan lupa kasih hadiah dan votenya ya buat othor

__ADS_1


Sambil nunggu up kalian bisa baca novel yang satu ini ya guys



__ADS_2