
"Aruna Gwen Olivia dan adiknya Aruna Glen Oliver. Aruna itu singkatan dari anak Ruli dan Nara. Aku menamai mereka dengan nama itu apa kau setuju?"
"Kenapa bukan anak Ruli dan Kristal?" tanya Kristal yang sedikit keberatan.
"Aku mengenalmu pertama kali dengan nama Nara. Bagiku Nara adalah wanita yang gigih berjuang untuk membuktikan kepada orang lain kalau dirinya bukanlah gadis manja yang hanya bersembunyi di ketiak orang tuanya."
Kristal merasa haru dan bangga. "Apa aku sekeren itu?" tanyanya sambil menitikkan air mata.
"Bukan hanya keren sayang, tapi kamu pahlawan dalam hidupku dan anak-anak kita," ucap Ruli sambil mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya.
Kristal memeluk suaminya erat tapi pelukan itu tak berlangsung lama karena anak-anak mereka menangis. Malam ini menjadi malam panjang bagi pasangan Kristal dan Ruli. Karena mereka harus bergantian jaga.
Keesokan harinya, dokter datang untuk mengecek kondisi Kristal. Saat itu Ruli baru saja tertidur karena semalaman menjaga anak kembarnya yang bangun secara bergantian dan menangis. Karena istrinya belum bisa banyak bergerak dia harus memindahkan bayinya ke pangkuan istrinya tiap kali mereka menangis. Dan semalam lebih dari tiga kali anak mereka terbangun hanya karena mendengar suara dengkuran Ruli yang baru tertidur sejenak.
"Selamat pagi," sapa Dokter Sinta.
"Pagi, Dok." Hanya Kristal yang menyapa. Ruli masih tertidur. Dia membiarkan suaminya tidur karena tak tega.
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Baik, Dok," jawab Kristal.
"Hari ini boleh pulang ya Bu. Anak-anaknya jga bisa dibawa karena berat badan mereka normal jadi tidak perlu diinkubator."
"Baik, Dok. Nanti akan saya sampaikan pada suami saya." Dokter Sinta mengangguk. Lalu dia dan asistennya pindah ke ruangan lain.
Sesaat kemudian perawat memasuki ruangan untuk memandikan bayi. "Kami akan memandikan bayinya," ungkapnya.
"Silakan, sus."
"Ibu kalau mau ke belakang nanti bangunin suaminya, ya." Kristal mengangguk saat suster tersebut mengingatkan.
Satu jam kemudian Ruli bangun dengan badan yang lumayan segar meski lingkar matanya menghitam karena kurang tidur.
__ADS_1
"Apa sudah jam delapan?" Ruli terkejut ketika melihat jam yang menempel di dinding. "Sayang kenapa kamu tidak bangunkan aku? Apa kamu sudah makan?" Kristal menggelengkan kepalanya.
"Aku kasian padamu makanya aku diam saja."
"Ayo aku bantu bersihkan badanmu setelah itu baru sarapan." Kristal tersenyum menanggapi suaminya. Lalu Ruli mengelap badan istrinya menggunakan handuk basah dengan telaten dan sabar.
"Terima kasih," ucap Kristal dengan tulus pada suaminya setelah selesai membersihkan diri.
Kemudian Ruli menyuapi makanan untuk Kristal. "Sebaiknya aku makan sendiri. Mas Ruli keluarlah cari makan!" Perintah sang istri pada suaminya.
"Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal? Bagaimana kalau mereka bangun? Ngomong-ngomong apa Gwen dan Glen sudah dimandikan?" tanya Ruli. Dia melihat bayinya anteng di box bayi. Mereka tak lagi di tempatkan di ruang bayi setelah lolos menjalani serangkaian pemeriksaan.
Pihak rumah sakit memang menyarankan bayi selalu berada di dekat sang ibu agar langsung bisa diberi ASI jika hasil dan lapar.
"Sudah, Mas. Setelah mandi mereka kembali tidur. Jangan khawatir ada suster yang bisa membantuku jika mereka menangis," ucap Kristal agar suaminya tidak khawatir ketika meninggalkan bayinya untuk keluar cari makan.
Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar Kristal, Ruli mendengar bayi-bayinya menangis bersautan. Ruli kembali ke ruangan itu. Dia mengambil salah satu bayi untuk ditimang.
Ruli pun membawa bayi yang dia gendong ke pangkuan istrinya.
"Sebaiknya susui secara bergantian," usul Ruli. Kristal mengangguk setuju. Sedangkan satu bayi lainnya ditimang agar tidak menangis lagi.
Setelah Kristal selesai menyusui baby Glen, kini giliran baby Gwen yang disusui. Namun, Ruli meletakkan terlebih dulu bayi yang dia timang kemudian mengangkat baby Glen dari gendongan Kristal ke box bayi. Selanjutnya mengangkat baby Gwen lalu memindahkan dia ke pangkuan ibunya. Ribet emang punya bayi kembar 🤣🤣 Reader yang minta.
"Sini sayangnya mama." Kristal mulai menyusui baby Gwen.
"Kamu harus makan banyak sayang. Menyusui dua bayi tidaklah mudah. Jadi perlu asupan gizi yang cukup." Ruli memberi saran pada istrinya.
"Tapi bagaimana kalau badan aku melar Mas?" Kristal khawatir badannya tidak berbentuk lagi alias bulat.
"Lupakan dulu keinginan untuk menguruskan badan. Yang terpenting adalah ASI bayi kembar kita cukup. Aku akan belikan susu khusus ibu menyusui untukmu."
Kristal meluruhkan bahu. "Apa kamu yakin tidak akan tertarik pada wanita lain setelah melihat badanku yang semakin hari akan bertambah bulat?" Tanya Kristal curiga.
__ADS_1
Ruli tertawa. "Tentu saja." Dia sengaja menggantung kalimatnya. Kristal membulatkan mata. Kemudian Ruli menyambung kalimatnya kembali.
"Tentu saja aku tidak akan tertarik pada wanita lain. Tidak ada wanita lain yang secantik istriku ini." Ruli mencolek dagu istrinya.
Tak disangka baby Gwen tertidur setelah meminum ASI dari sumbernya. "Biar aku pindahkan dia ke box bayi," bisik Ruli. Dia tidak mau bayinya terbangun karena mendengar suara kerasnya.
Ruli mengambil bayi perempuan itu dengan hati-hati dari pangkuan ibunya lalu meletakkan dia dengan perlahan barulah Ruli bisa bernafas lega.
Namun, belum sampai lima menit keluarganya datang secara beramai-ramai. Bayi kembar Kristal jadi terusik sehingga mereka menangis.
"Sayang, kenapa cucu nenek menangis?" Mama Belian menggendong baby Glen dan satu lagi bayi pasangan Ruli dan Kristal masih ada di dalam box.
"Dia baru saja tertidur, Ma. Tapi kalian datang dengan suara berisik," protes Kristal. Susah payah dia menidurkan anak kembarnya itu tapi saat mereka mendengar suara langsung terbangun.
"Jangan cemberut begitu Kristal ini belum seberapa, masih banyak ujian menjadi orang tua yang harus kamu lewati," seru mama Berlian.
"Kalian beri nama siapa cucu-cucuku ini?" tanya papa Jaden. Dia mendekati bayi perempuan yang membuatnya jatuh cinta lagi.
"Yang perempuan namanya Gwen dan yang laki-laki namanya Glen, Pa," jawab Ruli.
"Hallo, Gwen. Ini opa," ucap Jaden. Tangannya menyentuh pipi baby Gwen dengan lembut. Karakternya berubah seratus delapan puluh derajat saat berada di dekat cucunya yang baru lahir. Ruli sampai terheran-heran. Padahal biasanya papa mertuanya itu bersikap dingin dan irit bicara tapi di dekat baby Gwen dia bersikap hangat.
"Lihat dia meresponku," tunjuk papa Jaden yang begitu antusias.
Tak lama kemudian mama Lira dan Amara menyusul. Amara membawa makanan di tangannya. Ruli yang kebetulan belum sarapan jadi tak tahan untuk mengambil makanan yang dibawa adiknya. "Amara aku sangat lapar apa boleh makanan itu untukku?"
Amara langsung memberikan rantang yang dia pegang pada Ruli. Semua orang memaklumi karena sudah bisa dipastikan Ruli tak sempat membeli sarapan di luar karena menjaga istri dan kedua bayinya.
...***...
Hai mampir ya ke rekomendasi novel berikut jangan lupa subscribe
__ADS_1