
"Aku akan mencobanya, Ma." Kristal menyendok bubur ayam yang disajikan oleh ibu mertuanya. Tapi ketika dia mencium bau ayam, perutnya tiba-tiba bergejolak. Rasa mual tak tertahankan kini sedang dia rasakan. Kristal berlari ke toilet.
Huek huek
Ruli mengikuti istrinya. Lalu dengan telaten memijit tengkuk lehernya. "Apa kamu tidak suka buburnya?" tanya Ruli.
"Perutku mual saat mencium bau seledri dan taburan bawangnya," jawab Kristal dengan jujur.
Mama Lira yang merasa khawatir ikut menyusul menantunya. "Sebenernya ada apa ini?" Ruli dan Kristal saling bertukar pandang seolah bertanya dalam diam. Apakah dia harus memberi tahu kabar bahagia ini pada ibu mertuanya? Ruli mengangguk pelan.
Ruli membantu Kristal berdiri. "Ma, sebentar lagi aku akan menjadi ibu." Ucapan Kristal membuat Mama Lira terpaku. Sesaat kemudian dia memeluk menantunya dengan posesif.
"Benarkah?" Kristal mengangguk di pelukan ibu mertuanya. "Mama sudah lama menantikan kehadiran cucu dari kalian." Setelah itu Kristal mengurai pelukannya.
"Apa mama senang?" tanya Kristal pada ibu mertuanya itu.
"Tentu saja sayang. Sebentar lagi rumah ini akan ramai dengan tangisan dan tawa anak kecil."
Tak lama kemudian Amara turun dari lantai atas. "Selamat pagi, Ma aku langsung berangkat kerja ya," pamit Amara.
"Buru-buru sekali." Mama Lira menahan tangan putrinya ketika bersalaman. "Ada apa Ma?"
"Beri selamat pada kakak ipar kamu karena dia akan jadi ibu," ungkap Mama Lira.
Amara membuka mulut tak percaya. Dia langsung memeluk Kristal. "Selamat Kak."
"Terima kasih."
"Maaf aku buru-buru. Ada kerja di lapangan. Oh ya request baby twins ya," seru Amara.
"Ma, kita mau ke dokter buat periksa kandungan hari ini." Ruli meminta izin pada ibunya. "Baiklah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya," pesan mama Lira.
Ruli dan Kristal keluar dari rumah menuju ke parkiran mobil. Dengan sigap Ruli membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Terima kasih, Mas."
Setelah memastikan istrinya masuk, Ruli masuk ke bagian kursi kendali. "Siap berangkat ya." Kristal tersenyum.
Ruli mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. "Mas kenapa aku merasa kita jalannya kaya siput?" ledek Kristal.
"Tidak apa-apa sayang. Demi keselamatan kamu." Ruli menoleh sedetik kemudian kembali fokus ke jalanan.
Karena terlalu lama, Kristal jadi mengantuk. Ruli membiarkan istrinya tertidur. Mobil Ruli tengah memasuki area parkir rumah sakit. Setelah mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya, Ruli membangunkan istrinya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Ruli dengan mengelus pipi istrinya yang sedang tertidur. Merasa sesuatu menyentuh kulitnya, Kristal pun terbangun.
"Sudah sampai ya?" tanya Kristal sambil menguap.
"Apa kamu masih mengantuk? Bagaimana kalau kamu cuci muka terlebih dulu," usul Ruli. Kristal mengangguk setuju.
Ruli pun mengajak Kristal ke toilet terdekat. "Hati-hati sayang. Jalannya pelan-pelan." Orang lain memperhatikan Ruli karena dia begitu perhatian pada istrinya.
"Kalau saya sih mau banget punya suami model gitu. Udah cakep perhatian lagi sama istrinya." Seorang wanita yang selesai dari toilet itu membicarakan Ruli.
"Kamu bukan tandingan istrinya. Lihat saja cantiknya luar biasa. Kamu aja nggak ada seperempatnya," sahut temannya.
Di dalam toilet Kristal membasuh mukanya dengan air agar lebih segar. Setelah selesai dia ingin mengambil tisu tapi tidak ada. Lalu dia keluar dengan muka masih basah.
"Sayang, kenapa mukamu masih basah?" tanya Ruli.
"Aku lupa bawa sapu tangan. Apa mas Ruli punya?" tanya Kristal. Air yang ada di wajahnya terus menetes.
Ruli pun mengambil sapu tangan yang dia simpan di sakunya. "Untung aku selalu bawa." Ruli mengusap wajah Kristal dengan lembut.
"Mas ini masih baru kan sapu tangannya?" tanya Kristal curiga. Jangan sampai sapu tangan yang kotor menyapu wajahnya yang cantik.
"Tenang saja, baru aku cuci," ucap Ruli memberi tahu istrinya.
"Pasti akan terjadi. Aku janji kali ini akan menjagamu dengan baik." Ruli mengusap perut datar istrinya.
"Ibu Kristal," panggil perawat yang bertugas.
Ruli dan Kristal bangkit dari tempat duduknya. "Silakan masuk!" Ajak perawat wanita itu.
"Selamat pagi," sapa dokter wanita yang akan memeriksa kondisi kehamilan Kristal.
Kali ini Ruli memilih dokter wanita karena dia akan sangat cemburu jika dokter laki-laki memeriksa istrinya seperti di kehamilan Kristal yang pertama.
"Anak yang pertama ya Bu?" tebak dokter tersebut karena pasangan itu masih terlihat muda.
"Bukan Dok. Yang kedua," jawab Kristal tanpa ragu.
"Apakah ini pemeriksaan yang pertama di kehamilan anda yang kedua?" Kristal mengangguk.
"Baiklah, mati naik ke atas ranjang."
__ADS_1
Setelah melalui proses pemeriksaan dokter memberikan resep vitamin yang bisa mengurangi mual muntah Kristal.
"Setelah ini kita mau ke mana Yang?" tanya Ruli.
"Ke rumah mamaku, apa boleh? Aku ingin makan masakan mama," rengek Kristal.
"Tentu saja boleh. Tapi sebelum ke sana kita mampir beli sesuatu untuk mama," jawab Ruli. Kristal tersenyum.
Mereka membeli buah-buahan segar untuk mama Berlian. "Ini sih maunya bumil. Masa iya kita beli mangga muda juga."
"Yang matang buat mama yang muda buat aku. Nanti aku pengen makan rujak di sana." Membayangkannya saja air liur Kristal hampir saja menetes.
Sepanjang jalan menuju ke rumah ibu kandungnya, Krista tertidur. Ini sudah dua kali dalam sehari dia tidur di dalam mobil. Entah kenapa setiap kali dia menaiki mobil matanya mudah sekali terpejam.
"Sayang, sayang," Ruli membangunkan istrinya tapi Kristal tak mau bangun. Dia hanya melenguh dan bergeser.
Ruli pun memiliki ide untuk membangunkan dengan cara yang berbeda.
Cup
Ciuman pertama di bibir tak begitu terasa di bibir Kristal. Dia hanya mengusapnya saja.
Cup
Dua kali juga tak dihiraukan oleh wanita yang sedang hamil muda itu. Lalu Ruli mencium bibir istrinya lebih dari ciuman yang pertama dan kedua.
Bukannya bangun, Kristal malah mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Rupanya Kristal memancing Ruli agar suaminya itu mencium dia lebih mesra. Ruli mengulas senyum tipis. Sayangnya mereka melakukan di tempat yang salah.
Mama Berlian yang sedang menyiram bunga melihat anak dan menantunya itu berciuman di dalam mobil. "Mereka itu tidak tahu tempat," gerutu mama Berlian. Dia pun berjalan menghampiri mobil Ruli.
Tok tok tok
Ruli dan Kristal yang mendengar suara kaca mobil mereka diketuk langsung melepas pagutannya. Kristal merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu membuka pintu mobil.
"Mama," sapa Kristal sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kalian ngapain di dalam mobil lama-lama?" Sindir mama Berlian.
Ruli yang tahu situasinya langsung mengeluarkan buah-buahan yang mereka beli. Namun, dia tak sengaja memberikan mangga muda yang dibeli oleh istrinya.
...***...
__ADS_1
Mampir ya ke novel teman aku yang satu ini ya