Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Mencari pengasuh


__ADS_3

Usia kandungan Kristal sudah memasuki usia tujuh bulan. Kini dia berpikir untuk mencari pengasuh tambahan. "Hari ini aku ingin mengadakan seleksi baby sitter, Mas. Kasian Lala kalau dia mengasuh tiga bayi."


"Terserah kamu sayang. Tambah pengasuh lebih baik supaya kamu tidak kerepotan," jawab suaminya.


Setelah siang hari Kristal membuka lowongan pengasuh untuk calon anaknya yang akan lahir. Dia memang sengaja memasang lowongan kerja secara langsung agar orang lain yang membutuhkan pekerjaan di luar yayasan bisa melamar ke tempatnya.


"Bi, hari ini saya mau ajak anak-anak belanja kebutuhan menjelang persalinan tolong jaga rumah ya," pesan Kristal pada asisten rumah tangganya. "Nanti kalau ada pelamar yang datang, suruh aja taruh surat lamarannya nanti akan saya hubungi lagi setelah saya seleksi."


"Baik, Bu."


Setelah itu, Kristal mengajak anak kembarnya sekaligus pengasuhnya ke mall. Mereka diantar oleh sopir baru. Kristal tidak mengunjungi banyak toko, dia langsung ke toko perlengkapan bayi. Perutnya yang semakin besar membuatnya cepat lelah.


"Habis ini kita jemput kak Siena ya," ucapnya pada kedua balita kembar itu. Mereka pun meminta sopir menjemput Siena.


"Mama," teriak Siena ketika baru keluar dari gerbang sekolahnya.


"Ayo masuk, adik-adikmu sudah menunggu. Habis ini kita cari makan bareng ya. Eh apa kita ke restoran papa aja?" usul Kristal.


"Boleh, Ma," jawab Siena.


Mereka pun menaiki mobil dan menuju ke restoran Ruli. Kristal dan tiga anaknya turun setelah sampai di depan restoran. Glen meluncur lebih dulu. Dia berlari mencari keberadaan ayahnya.


Ketika dia berlari dia tak sengaja menabrak Gilang. "Hei, kenapa lari-larian?" tanya Gilang sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan Glen.


"Mau cari papa," jawabnya.


Sesaat kemudian Ruli keluar dari ruangannya. "Hei, boy. Kapan datang? Di mana mama?" tanya Ruli.

__ADS_1


"Mas." Kristal melambaikan tangan agar suaminya melihat posisinya. Ruli tersenyum pada Kristal.


Ruli pun berjalan menuju ke arah istrinya sambil menggendong Glen. "Wah rame-rame ke sini ada apa? Kalian kangen ya sama papa?" goda Ruli.


"Nggak kita hanya lapar, Pa," jawab Kristal.


Ruli ikut duduk di samping istrinya. "Dari mana saja hari ini?" tanya Ruli.


"Habis belanja terus mampir jemput Siena aja. Oh ya Mas aku sudah pasang pengumuman buat yang mau kerja di tempat kita," lapor Kristal.


"Semoga kita dapat pengasuh yang baik ya." Kristal mengangguk.


Ruli ikut pulang tapi dia membawa mobil sendiri karena istrinya diantar sopir. Sesampainya di rumah, banyak orang yang mengantri di depan gerbang rumah mereka. "Kenapa ramai sekali? Tapi kalau dilihat dari cara berpakaian mereka dan amplop coklat yang ada di tangan mereka, aku rasa mereka akan melamar kerja. Ya ampun sebanyak ini? Seleksi baby sitter aja," gerutu Kristal.


"Aku harus telepon mama." Kristal pun menghubungi ibu kandungnya untuk meminta bantuan.


"Hah, kamu merepotkan saja," gerutu mama Berlian. Tapi dia tetap datang ke rumah anaknya.


Kristal dan anak-anak kesulitan lewat saking banyaknya pelamar seperti wartawan yang mengerubungi idolanya. Ruli pun memberikan pengumuman. "Tolong baris yang antri. Jika kalian ingin mendapatkan pekerjaan maka turuti perintah kami," serunya dengan lantang.


Sifat kepemimpinannya sangat dominan karena Ruli adalah pemilik restoran yang punya cabang di mana-mana sehingga dia bisa mengatur para pelamar kerja itu. Kebiasaannya mengorganisir karyawan ditunjukkannya hari ini di depan suaminya.


"Sayang sebaiknya kamu ajak anak-anak istirahat aku akan meminta bantuan Amara. Bukankah hari ini dia janji pulang cepat?" tanya Ruli.


"Iya, aku serahkan padamu, Mas. Tapi jangan cari yang muda dan cantik aku tidak menyukainya," tegas Kristal pada suaminya. Ruli tersenyum dia tahu istrinya itu cemburu.


Sedangkan Kristal hanya tidak ingin terjadi skandal antara suaminya dengan pengasuh anaknya. Semua wanita pun akan bersikap sama seperti Kristal. Bukankah menghindari lebih baik dari pada memicu?

__ADS_1


Tak lama kemudian Mama Berlian datang. Dia membantu menyeleksi satu per satu pelamar yang datang. Amara sudah dihubungi Ruli tapi mendadak dia diajak atasannya makan-makan di luar.


Kristal meminta pegawai dari restoran Ruli untuk mengirim beberapa makanan untuk para pelamar. Dia tahu menunggu itu tidak enak. Dia pernah berada di posisi yang sama ketika kabur dari rumah.


Semua orang yang melamar diberi satu bungkus nasi kotak. Mereka pun berterima kasih pada pemilik rumah. "Kalian bisa pulang dulu. Kami akan menghubungi kalian setelah kami menentukan. Terima kasih banyak sudah datang ke sini," ucap Ruli pada para pelamar tersebut.


"Hah, mama capek sekali Kristal. Kamu benar-benar merepotkan mama."


"Maafkan anakmu ini, Ma. Aku hanya ingin orang yang benar-benar butuh pekerjaan bisa mendapatkan kesempatan. Makanya aku tidak ambil dari yayasan. Karena di luar sana banyak yang nyari pekerjaan," terang Kristal.


"Bagaimana Mas hasilnya?" tanya Kristal pada suaminya.


"Aku rasa yang ini?" Ruli memberikan sebuah nama kandidat untuk diperlihatkan pada istrinya.


"Tidak, Mas. Untuk apa pendidikan tinggi. Aku sudah tidak memerlukan asisten pribadi," tolaknya.


"Bagaimana kalau yang ini sayang?" Mama Berlian memberikan sebuah foto pada putrinya.


"Aku tidak menerima yang cantik, Ma."


Kristal mengambil sebuah amplop yang belum dibuka. "Usianya memang agak tua tapi aku malah setuju kalau dia jadi pengasuh bayiku nantinya. Bagaimana menurut mama?" Kristal meminta pendapat ibunya.


"Kamu hanya perlu memberikan kesempatan padanya, misalnya kamu training dulu. Jika dia baik maka teruskan saja. Jika kurang baik langsung ganti. Mama dulu pernah punya pengalaman mendapatkan baby sitter yang kurang menyenangkan. Mama jadi trauma setelah itu dan tidak memakai jasa baby sitter lagi."


Kristal dan Ruli tidak menyangka mamanya pernah punya pengamalan buruk. "Aku bukannya tidak bisa mengurus bayiku sendirian Ma. Tapi tugas mereka hanya membantuku saja. Mengingat Glen dan Gwen yang masih aktif-aktifnya."


"Iya sayang, mama ngerti." Mama Berlian tersenyum. "Nanti sesekali mama akan bantu mengasuh anakmu jika kamu membutuhkan." Kristal mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2