Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Surprise


__ADS_3

Suatu hari Ruli mengajak istrinya berbelanja kebutuhan bayi. "Terima kasih Mas sudah menemani aku berbelanja. Aku suka baju-baju bayi ini." Kristal memeluk lengan suaminya.


"Sama-sama." Ruli mengecup kening sang istri.


"Aku sudah puas berbelanja, sekarang kita pulang yuk kakiku mulai capek berjalan terus," keluhnya.


"Bagaimana kalau kita makan dulu sayang, apa kamu tidak lapar?" Usul Ruli. Dia mengukur waktu agar istrinya tidak segera pulang. Ruli tengah menyuruh Amara dan ibunya untuk mempersiapkan surprise buat Kristal. Gilang juga diminta untuk membantu mereka.


Ketika mereka sedang menunggu makanan. Ruli mengirim pesan pada Gilang.


Ruli


Apa sudah selesai?


Gilang membalas dengan cepat


Gilang


Beres. Ajaklah istrimu pulang sekarang!


Ruli tersenyum ketika membaca pesan dari Gilang. Hal itu tak luput dari pantauan kristal. "Mas kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Kristal sambil memakan makanannya.


"Oh ini aku dapat tender," bohong Ruli.


"Benarkah?" Seru Kristal dia malah penasaran hingga bertanya lebih lanjut.


"Sebaiknya kamu selesaikan makan dulu baru nanti akan aku ceritakan kalau sudah sampai rumah." Kristal mengangguk setuju.


Setelah itu, Ruli mengajak istrinya ke tempat parkir. Tak sengaja Kristal melihat ibu-ibu yang sedang menggendong anak kecil meminta uang padanya.


Dia lalu memberikan dua lembar uang merah pada ibu itu lalu ditambah camilan yang dia beli saat di dalam mall.


"Terima kasih Bu. Semoga diberi kelancaran saat persalinan." Doa ibu yang membawa anak itu. Kristal terharu melihat ibu itu. Ternyata nasibnya lebih beruntung dari orang lain. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ibu itu menjalani hari-hari bersamanya anaknya.


Tak terasa Kristal meneteskan air mata. Ruli mengamati istrinya itu. Dia menghapus air mata yang meleleh di pipi. Dia tahu perasaan wanita hamil itu sedang sensitif. "Ayo kita pulang." Kristal mengangguk.


Setibanya di rumah, Kristal menatap aneh pada mobil yang terparkir di halaman rumahnya. "Mas ini bukannya mobil Mas Gilang ya?" tanya Kristal penasaran.


Ruli hanya tersenyum. Dia tak menjawab tapi menelusupkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Kristal. Lalau dia membawa istrinya masuk ke dalam.


"Kok sepi, orang-orang pada ke mana ya Mas?"


"Ayo ikut aku sayang. Tapi kita tutup mata dulu ya." Ruli mengikat mata istrinya itu dengan kain penutup.


"Kok diiket segala sih Mas," protes Kristal.

__ADS_1


Ruli diam saja. Dia fokus untuk menuntun istrinya masuk ke dalam sebuah ruangan. Perlahan dia melepas kain penutup mata yang digunakan istrinya.


"Surprise," seru orang-orang yang menyambut kedatangan Kristal.


Kristal memindai ke sekeliling ruangan. Dia menutup mulutnya saking senangnya. "Apa ini Mas?"


"Aku sengaja menyuruh mereka untuk mempersiapkan kamar anak-anak kita sayang," jawab Ruli.


Kristal langsung memeluk suaminya erat. "Terima kasih, Mas." Dia meneteskan air mata.


"Hei kenapa menangis?" Tanya Ruli. Ruli menghapus air mata istrinya.


"Aku sangat bahagia Mas. Terima kasih."


"Ehem. Terima kasihnya cuma sama mas Ruli doang nih kak?" Ledek Amara.


Kristal menghampiri anggota keluarganya satu per satu. Dia memeluk mereka bertiga, Gilang, Amara dan Mama Lira secara bersamaan. "Terima kasih semua sudah mempersiapkan kado yang sangat istimewa ini," ucap Kristal dengan tulus.


Setelah itu dia melihat-lihat isi kamar anaknya. Suaminya membeli dua buah ranjang bayi yang cukup luas. Lalu ada mainan anak-anak. Di kamar itu juga terdapat lemari khusus pakaian bayinya yang sudah terisi rapi.


"Mama telah menata pakaian bayi-bayimu sayang," ungkap Mama Lira. Kristal tersenyum padanya. "Terima kasih banyak ya, Ma."


Selain itu lampu-lampu kamar bentuknya warna warni. Ada juga tempat untuk memandikan bayi. Semua lengkap sesuai arahan Ruli.


"Aku sengaja membuat pintu yang akan tembus ke kamar kita sayang. Jadi kita bisa memantau anak-anak kita."


"Ruli, Kristal aku akan melamar Meilani," sela Gilang.


Kristal tak menyangka Gilang benar-benar serius membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. "Aku senang mendengarnya Mas Gilang."


"Kapan kak?" tanya Amara pada kakak sepupunya itu.


"Secepatnya, Amara," jawab Gilang.


"Aku dukung. Usiamu ini bahkan seharusnya sudah memiliki anak, Bro," goda Ruli. Gilang menyikut dadanya pelan.


"Ini berkat acara empat bulanan istrimu juga. Meilani menginginkan kelak bisa merayakan acara semeriah itu. Aku sudah melamar dia saat acaramu kemaren. Tapi dia meminta aku datang bersama keluargaku. Tentu saja ini bukan ajakan yang perlu ditolak bukan?" Ungkap Gilang.


"Aku sudah mengira dari awal kalau kalian akan berjodoh. Tidak kusangka sudah sejauh ini," ucap Kristal merasa bahagia atas kelancaran hubungan Meilani dan Gilang.


"Kami doakan acara lamaranmu lancar nak Gilang," kata Mama Lira menimpali.


"Terima kasih banyak Tante. Oh ya, aku ingin pamit sebentar lagi aku mau cari cincin sama mamaku," ungkap Gilang.


"Ihk kak Gilang itu sweet banget ya," gumma Kristal memuji Gilang. Ruli yang mendengarnya jadi tak terima.

__ADS_1


"Jadi suamimu ini kurang sweet begitu." Kristal hanya tertawa menanggapinya.


Hari berganti hari Minggu berganti Minggu perut Kristal sudah mulai membesar. Usia kandungannya sudah menginjak minggu-minggu terakhir masa kehamilannya. Dia agak kesulitan untuk berjalan karena bobotnya naik sampai lima belas kilo.


"Mas, kamu nggak kerja?" tanya Kristal.


"Aku ingin menjaga kamu sayang."


"Sebaiknya kamu kerja aja Mas. Ada mama yang menjagaku."


"Tapi beneran nggak apa-apa?" tanya Ruli yang merasa cemas.


"Tidak lagi pula aku ini kuat. Jadi kamu fokus saja bekerja. Nanti juga ada Rere yang akan membawakan berkas-berkas ke sini."


"Kamu jangan terlalu kecapekan sayang. Berhentilah dulu. Serahkan semua urusan hotel pada papa dan abangmu." Kadang Ruli merasa kesal karena istrinya itu gila kerja.


"Bagaimana pun aku juga bertanggung jawab atas perusahaan Mas."


Ruli mengecup kening istrinya sebelum berangkat. "Kabari jika mulai mulas-mulas."


"Siap, Pak Bos."


Ruli menunduk mensejajarkan wajahnya dengan perut sang istri. "Papa berangkat kerja dulu ya sayang-sayangku."


Cup cup cup


Ruli mencium perut istrinya berkali-kali. Kristal merasa geli.


"Hati-hati di jalan Mas." Kristal melambaikan tangan.


Tak lama kemudian, mobil Rere datang. "Maaf Bu saya agak pagi. Soalnya nanti harus setor laporan ini ke Pak Alex."


"Ah bagaimana kabar abangku? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."


"Saya rasa beliau baik, Bu."


"Ayo Re masuk!"


Ketika berada di ambang pintu, Kristal tiba-tiba merasakan kontraksi. "Bu, ibu kenapa?" Rere panik karena melihat atasannya itu memegangi perutnya sambil merintih kesakitan.


"Panggil mama dan hubungi suamiku Re. Sepertinya aku akan melahirkan," ungkapnya.


...*****...


Hai sambil nunggu cerita Kristal yang mau lahiran, kalian bisa baca novel yang satu ini ya jangan lupa subscribe

__ADS_1



__ADS_2